Oleh. Chairil Anwar
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
Maret 1943
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
Maret 1943
Oleh. Sapardi Djoko Damono
Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan.
Oleh. Sapardi Djoko Damono
/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka....
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka....
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku.
/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana -
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya.
/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya -
tapi kapan kita pernah memahami laut ?
memahami api yang tak hendak surut ?
/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata :
taman bunga ? ruang angkasa ?
d taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan.
/5/
apa lagi yang bisa ditahan ? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan -
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan ?
/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang -
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang.
/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana -
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya.
/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya -
tapi kapan kita pernah memahami laut ?
memahami api yang tak hendak surut ?
/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata :
taman bunga ? ruang angkasa ?
d taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan.
/5/
apa lagi yang bisa ditahan ? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan -
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan ?
/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang -
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang.
Oleh. Hamid Ghozali
Ini hari masih pagi
ketika banyak kuncup tumbuh
namun tak lazim
layu sebelum ia mekar mewangi
Pada taman sejuk nan indah ini
sungguh sayang banyak petak keras
disana-sini
para pemilik tanah salah urus
memilih dan menyemai pupuk yang salah
Ini pagi serasa senja, ada tiupan badai
kencang angin panas dari utara
janjikan kemewahan semu
tebarkan kilau mata, rontoklah kelopak bunga
di selatan banyak kabar muram
tentang bunga-bunga tak jua kembang
merana dalam taman indah
Kering angin bertiup di pagi hari
namun serasa badai senja hari, membuat gerah
seorang kawan berbisik:
''Sudah berapa patriot negeri ini di penjara,
sedangkan para pelacur bangsa dipuja-puja,
disebut pendekar, dikalungi bunga-bunga?"
Atas nama demokrasi, HAM dan kebebasan
berpijak buih stigma yang katanya mengglobal
rasanya mereka telah menipu semua,
bukankah kita punya nilai-nilai sendiri?
Kebebasan bukanlah sekehendak hati
demokrasi tidak identik dengan pemaksaan
dan HAM bukan menangnya sendiri
mBahku berteriak, suaranya parau
termakan senja usianya:
"Bukankah ada musyawarah untuk mufakat,
lupakah kamu dengan kegotong-royongan,
tinggalkan samar HAM yang cenderung
mengadu-domba anak bangsa?"
Angin utara nan kering lagi kerontang
sering membuat badai disana-sini
mencabik-cabik tatanan indah
lalu memporak-porandakan taman syurga
di negeri Zamrud Khatulistiwa
WASPADALAH!
Tangerang, 28 Juni 2008
Ini hari masih pagi
ketika banyak kuncup tumbuh
namun tak lazim
layu sebelum ia mekar mewangi
Pada taman sejuk nan indah ini
sungguh sayang banyak petak keras
disana-sini
para pemilik tanah salah urus
memilih dan menyemai pupuk yang salah
Ini pagi serasa senja, ada tiupan badai
kencang angin panas dari utara
janjikan kemewahan semu
tebarkan kilau mata, rontoklah kelopak bunga
di selatan banyak kabar muram
tentang bunga-bunga tak jua kembang
merana dalam taman indah
Kering angin bertiup di pagi hari
namun serasa badai senja hari, membuat gerah
seorang kawan berbisik:
''Sudah berapa patriot negeri ini di penjara,
sedangkan para pelacur bangsa dipuja-puja,
disebut pendekar, dikalungi bunga-bunga?"
Atas nama demokrasi, HAM dan kebebasan
berpijak buih stigma yang katanya mengglobal
rasanya mereka telah menipu semua,
bukankah kita punya nilai-nilai sendiri?
Kebebasan bukanlah sekehendak hati
demokrasi tidak identik dengan pemaksaan
dan HAM bukan menangnya sendiri
mBahku berteriak, suaranya parau
termakan senja usianya:
"Bukankah ada musyawarah untuk mufakat,
lupakah kamu dengan kegotong-royongan,
tinggalkan samar HAM yang cenderung
mengadu-domba anak bangsa?"
Angin utara nan kering lagi kerontang
sering membuat badai disana-sini
mencabik-cabik tatanan indah
lalu memporak-porandakan taman syurga
di negeri Zamrud Khatulistiwa
WASPADALAH!
Tangerang, 28 Juni 2008
Mungkin saat ini tak'an ku temukan cintamu dalam peta, atau pada cuaca di beberapa kalimat kita pada petang diberanda. Mungkin pula kau memang tak memilikinya sedekat waktu yang berlalu. Namun yang aku tau, tiap garis waktu dan titik bumi yang kau lewati selalu mencipta warna berbeda dan tak terduga. Dan jika ada warna selanjutnya yang akan kau temukan, mungkin itu adalah aku. Atau jika kau bisa menunggu maka aku mampu menemukanmu.
"R.N"
"R.N"
"Sekedip mata, aku t'lah menjadi masa lalu. Dan ingat, aku selalu berlalu", ujar sang waktu kepadaku. Waktu sedang menagihku, atas perjalanan dan kursi kosong disampingku. Terkadang begitu rindu, namun lain waktu aku lupa itu. Seringlah ingatkan aku agar terus mencarimu.
"R.N"
"R.N"
Orang-orang di sekitar menyebutnya
tuan tanah dan saudagar yang kaya raya
tanahnya luas sungguh tak terkira
jualannya banyak macam dimana-mana
Ia punya ragam julukan dan juga gelar
namun orang-orang kerap memanggilnya :
paman Pe-In sang perkasa!
Hari-hari ia jalani dengan menghitung
dollar demi dollar mengalir
dinar demi dinar mencair, euro demi euro dan
rupiah tak dianggap sebab dijamin kertas
bukannya emas!
Jidat kepalanya sering berkerut
meski itu harta sudah melimpah-ruah
kawanku berbisik lirih, takut didengar
antek-anteknya tersebar seantero dunia :
"Ia ingin lebih kaya lagi, tak ada syukur
atas kekayaannya yang kini telah ada
tanahnya luas sungguh tak terkira
jualannya banyak macam dimana-mana
Ia punya ragam julukan dan juga gelar
namun orang-orang kerap memanggilnya :
paman Pe-In sang perkasa!
Hari-hari ia jalani dengan menghitung
dollar demi dollar mengalir
dinar demi dinar mencair, euro demi euro dan
rupiah tak dianggap sebab dijamin kertas
bukannya emas!
Jidat kepalanya sering berkerut
meski itu harta sudah melimpah-ruah
kawanku berbisik lirih, takut didengar
antek-anteknya tersebar seantero dunia :
"Ia ingin lebih kaya lagi, tak ada syukur
atas kekayaannya yang kini telah ada
keserakahan ialah hak azasi yang harus
dibuktikan dengan segala cara"
Baginya, agama adalah teknologi
sedangkan tuhan letaknya di angan-angan
cuma impian pemikiran, itu bisa dimainkan!
dibuktikan dengan segala cara"
Baginya, agama adalah teknologi
sedangkan tuhan letaknya di angan-angan
cuma impian pemikiran, itu bisa dimainkan!
Yah, tuhan dapat berwujud kekuasaan
tuhan bisa berupa uang, senjata dan lain-lain
surga serta neraka dicipta pada genggaman
silahkan ditawar, boleh dipesan-pesan
Tak sedikit yang paham kisah buruknya dulu
saat ini, atau rencananya dikemudian hari
merampok, membunuh dan merampasi harta
juga merebut tanah tetangga di kanan-kiri
karena turut mencicipi, mereka berpura tak tahu
diam seribu kata seribu bahasa
Yah, paman Pe-In pandai merekayasa sesudahnya
citranya ditutupi stigma-stigma sang sutradara
Sahabat kental sekaligus penasehat spiritualnya
adalah bang Zo-Is, anak tunggal kakek gurunya
sifatnya ramah, humoris dan jagoan dalam lobi-lobi
harap dicamkan, ia bisa membunuh sambil tertawa
lalu tersenyum dengan kuku-kuku di balik baju
siap menerkam siapa saja lagi tak pandang bulu
Bang Zo-Is sosok berwatak biadab
tetapi menggunakan cara seolah-olah beradab
tuhannya adalah tujuan, agamanya kepintaran
nafasnya berbau kepentingan
Dua sahabat itu, setali tiga uang
ibarat sisi-sisi sekeping mata uang
seolah-olah berseberangan, tetapi
kemanapun bergandengan, kini mereka
ada mainan baru membelah-belah bambu
begitu asyik mengaduk-aduk tanah harapan
para kaki tangan dibekali dogma dan aturan
setiap bambu dibelah menjadi empat :
"Belahan keras dihancurkan saja
sebab berbahaya bisa membuat luka
belah yang lentur dimanfaatkan
belah yang jelek, yang rusak tak apa
diberi warna, diadu kuat dengan belah lain
dibuat permainan, dibentur-benturkan!"
Hingga kini mainan itu tidak jua kunjung usai
ada fenomena maha dahsyat diluar logikanya
di gurun berpasir gersang, janjikan kekayaan
menjadi proyeknya sepanjang masa, selagi bisa
tak putus-putus walau dengan berbagai cara
retak sudah bangunan gunung pundi-pundinya
"ini kerja sia-sia, belum ada manfaat apa-apa
dilanjutkan bakalan lebur
tak diteruskan babak belur!"
Mulanya, mereka ingkar akan kitab terdahulu
menolak ajaran semai-tuai, tebar dan petik
mengelak dari cinta dan kebenaran
congkaknya sudah keterlaluan, kelewat batas!
cinta dijual belikan, kebenaran dapat diproduksi
sesuai permintaan pembeli
Dua sobat kental itu
benar-benar lupa ujaran nenek moyang
seorang temanku bertutur :
"Pikirannya terhijab oleh nafsu-nafsu iblis
dan kepongahan dari tujuan kepentingannya
matanya melek tetapi hakikinya tak melihat
ia berjalan sendirian, membuat sendiri sejarah
mengikuti gurat-gurat ambisi, membabi-buta"
Di ujung kebangkrutannya, ia teringat
sepenggal nasehat bijak kakeknya dulu :
"Ada tanah subur di seberang lautan dan
banyak hutan bambu rimbun menghijau
itulah negeri keramat, banyak aneka bangsa
mencari keseimbangan hidup, disana itu
bambu-bambunya biarkan saja tumbuh
jangan dirusak, tak boleh dipotong-potong
atau dipecah-belah, nanti kamu bisa kualat
isi kepalamu akan pecah dan berhamburan!"
Paman Pe-In dan bang Zo-Is tercenung
bara sesal dan amarah menggelora, namun
gelombang keangkuhan lagi-lagi menerjang
berdialog di lorong-lorang logika, lalu
mereka masih membandel, terus bermain
membelah bambu dengan jurus-jurus baru :
"Ah, sudah kepalang tanggung, maju terus
berhasil atau hancur, cuma dimensinya beda!
mau terus hidup atau mati tak apa-apa
paling sekedar untuk kenangan anak cucu
buat dongengan menjelang tidur?"
Di akhir kisahnya, dua sosok si pembelah bambu
ditemukan tergeletak di sebuah taman gersang
menjadi abu di panggung hegemoninya
orang-orang sekitarnya cuma menengok
lantas bergunam sambil terus berjalan :
"Ia mati ditelan kepintaran, kepentingan dan tujuan
tergilas madu ciptaannya, terbunuh oleh ambisinya
untuk menjadi raja paling perkasa di jagad ini"
Aduhai
kita semua cuma penyaksi-penyaksi
karena yang membunuh sesungguhnya adalah Dia
melalui panglima (aulia) dan tentara-Nya!
Tangerang, 5 Juli 2008
tuhan bisa berupa uang, senjata dan lain-lain
surga serta neraka dicipta pada genggaman
silahkan ditawar, boleh dipesan-pesan
Tak sedikit yang paham kisah buruknya dulu
saat ini, atau rencananya dikemudian hari
merampok, membunuh dan merampasi harta
juga merebut tanah tetangga di kanan-kiri
karena turut mencicipi, mereka berpura tak tahu
diam seribu kata seribu bahasa
Yah, paman Pe-In pandai merekayasa sesudahnya
citranya ditutupi stigma-stigma sang sutradara
Sahabat kental sekaligus penasehat spiritualnya
adalah bang Zo-Is, anak tunggal kakek gurunya
sifatnya ramah, humoris dan jagoan dalam lobi-lobi
harap dicamkan, ia bisa membunuh sambil tertawa
lalu tersenyum dengan kuku-kuku di balik baju
siap menerkam siapa saja lagi tak pandang bulu
Bang Zo-Is sosok berwatak biadab
tetapi menggunakan cara seolah-olah beradab
tuhannya adalah tujuan, agamanya kepintaran
nafasnya berbau kepentingan
Dua sahabat itu, setali tiga uang
ibarat sisi-sisi sekeping mata uang
seolah-olah berseberangan, tetapi
kemanapun bergandengan, kini mereka
ada mainan baru membelah-belah bambu
begitu asyik mengaduk-aduk tanah harapan
para kaki tangan dibekali dogma dan aturan
setiap bambu dibelah menjadi empat :
"Belahan keras dihancurkan saja
sebab berbahaya bisa membuat luka
belah yang lentur dimanfaatkan
belah yang jelek, yang rusak tak apa
diberi warna, diadu kuat dengan belah lain
dibuat permainan, dibentur-benturkan!"
Hingga kini mainan itu tidak jua kunjung usai
ada fenomena maha dahsyat diluar logikanya
di gurun berpasir gersang, janjikan kekayaan
menjadi proyeknya sepanjang masa, selagi bisa
tak putus-putus walau dengan berbagai cara
retak sudah bangunan gunung pundi-pundinya
"ini kerja sia-sia, belum ada manfaat apa-apa
dilanjutkan bakalan lebur
tak diteruskan babak belur!"
Mulanya, mereka ingkar akan kitab terdahulu
menolak ajaran semai-tuai, tebar dan petik
mengelak dari cinta dan kebenaran
congkaknya sudah keterlaluan, kelewat batas!
cinta dijual belikan, kebenaran dapat diproduksi
sesuai permintaan pembeli
Dua sobat kental itu
benar-benar lupa ujaran nenek moyang
seorang temanku bertutur :
"Pikirannya terhijab oleh nafsu-nafsu iblis
dan kepongahan dari tujuan kepentingannya
matanya melek tetapi hakikinya tak melihat
ia berjalan sendirian, membuat sendiri sejarah
mengikuti gurat-gurat ambisi, membabi-buta"
Di ujung kebangkrutannya, ia teringat
sepenggal nasehat bijak kakeknya dulu :
"Ada tanah subur di seberang lautan dan
banyak hutan bambu rimbun menghijau
itulah negeri keramat, banyak aneka bangsa
mencari keseimbangan hidup, disana itu
bambu-bambunya biarkan saja tumbuh
jangan dirusak, tak boleh dipotong-potong
atau dipecah-belah, nanti kamu bisa kualat
isi kepalamu akan pecah dan berhamburan!"
Paman Pe-In dan bang Zo-Is tercenung
bara sesal dan amarah menggelora, namun
gelombang keangkuhan lagi-lagi menerjang
berdialog di lorong-lorang logika, lalu
mereka masih membandel, terus bermain
membelah bambu dengan jurus-jurus baru :
"Ah, sudah kepalang tanggung, maju terus
berhasil atau hancur, cuma dimensinya beda!
mau terus hidup atau mati tak apa-apa
paling sekedar untuk kenangan anak cucu
buat dongengan menjelang tidur?"
Di akhir kisahnya, dua sosok si pembelah bambu
ditemukan tergeletak di sebuah taman gersang
menjadi abu di panggung hegemoninya
orang-orang sekitarnya cuma menengok
lantas bergunam sambil terus berjalan :
"Ia mati ditelan kepintaran, kepentingan dan tujuan
tergilas madu ciptaannya, terbunuh oleh ambisinya
untuk menjadi raja paling perkasa di jagad ini"
Aduhai
kita semua cuma penyaksi-penyaksi
karena yang membunuh sesungguhnya adalah Dia
melalui panglima (aulia) dan tentara-Nya!
Tangerang, 5 Juli 2008
Oleh. M. Arief Pranoto
Sebuah toleransi
acapkali berubah warna
berganti rupa
mengacau sendi dan tatanan
yang sudah ada lagi berada
Sejumput toleransi
ibarat bola api liar menggelinding
menebar panas sekeliling
Seonggok toleransi
kini berjubah aliansi, atau
berbaju koalisi, esok warna apa lagi
asyik mengaduk-aduk ibu pertiwi
mengadu domba anak negeri disana-sini
Apakah bangsa ini
tidak sedang dibodoh-bodohi?
entah esok ia bermerek apa lagi
semoga semua anak bangsa waspada!
Tgg, 2 Juli 2008
(Tunggal kita menantang, esa kita berjuang)
Sebatang lidi menantang matahari.
Ditasbihkannya cinta yang ia tak punya.
Lalu sendiri dibunuhnya sepi, sampai sunyi enggan mendekati.
Menangis namun ia berdiri, sebab ia tau hari tak'an kembali.
Tertawa ia tetap bersama, sebab ia tau kelak tak'an ada
Kenangan adalah cuplikan, masa depan adalah kenyataan.
Sebatang lidi menantang matahari.
Ditasbihkannya cinta yang ia tak punya.
Lalu sendiri dibunuhnya sepi, sampai sunyi enggan mendekati.
Menangis namun ia berdiri, sebab ia tau hari tak'an kembali.
Tertawa ia tetap bersama, sebab ia tau kelak tak'an ada
Kenangan adalah cuplikan, masa depan adalah kenyataan.
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput,
tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu…
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
Oleh. W.S. Rendra
Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.
Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.
Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.
Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.
Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.
Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.
Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.
Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.
Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.
Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.
Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.
Oleh. Iswadi Pratama
Sang, dalam pelukan singkat itu ingin kukaramkan seluruh nelangsa. Bertahun-tahun kubujuk cinta agar tak menginginkan apa-apa. Menyembunyikan hasrat dalam debar jantung, sajak, juga doa. Tapi malam itu aku sudah amat terlunta. Menanggung bisa dari seluruh pesonamu, aku tak kuasa. Jika kau tak berkenan menyembuhkanku kau harus menghabisiku agar tumpah darahku menjadi anggur bagi para pecinta.
Kau rengkuh juga dada lelaki yang canggung dan gemetar itu. Kau biarkan ia merasakan hangat nafasmu dan di keningmu yang jernih rindu pun pupus seperti cahaya lampu. Suka cita tanpa kata-kata. Lalu kitapun jadi tahu bahwa kita tak memiliki apa-apa selain sepasang tangan yang dingin dan gemetar, saling menggenggam seperti hendak mengukuhkan apa yang tak terjelaskan dalam kalimat yang terbatas atau yang tak pernah lengkap diucap.
Kita tak pernah tuntas habis dalam cinta. Kita selalu bersisa dan karena itu pula terluka.
Sang, barangkali esok kita harus memulai lagi, membujuk cinta agar tak meminta apa-apa menjadi fakir belaka.
Aku sering membayangkan cinta kita serupa bocah yang lunak jika dirayu, diam di pangkuan, membiarkan nalar menakuti atau mendongengkan hutan larangan yang penuh marabahaya. Tapi setelah sang nalar lelah, bocah itu akan berontak dan berlari memburu kekasih. Karena ia memang tak pernah letih.
Tidak sang, ia bukan seorang bocah, ia seekor rajawali. Guru dari semua penjelajah. Menghadapi badai ia tak lari, ia malah membuka dada dan merentangkan sayapnya. Dalam hening membumbung tinggi setia pada cakrawala, Sang Kekasih.
Sang, di keluasan yang tak ternamai itu rajawali tak mungkin tanpa langit biru dan langit biru memerlukan sukma sang burung penjelajah, agar ia tak menjelma jadi semesta hampa.
(Sumber : sastra-indonesia.com)
(Sumber : sastra-indonesia.com)
Oleh. Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan,
kayu kepada api, yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan,
awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan,
kayu kepada api, yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan,
awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada.
Oleh. Iswadi Pratama
Kita memang pernah berjumpa di kapal itu, kapal yang sampai sekarang tak kita ingat namanya. Memang ada yang kucatat, tapi itu cuma jadwal berangkat dan pluit larat yang kita lupakan setelah beberapa saat.
Di palka, bulan tak terlihat. Hanya gelap mengambang. Gelap yang seperti lubang maha besar darimana kita sempat melihat getar bintang; sebentar lalu pudar. Dan kita berharap ada semacam kerlip cahaya serupa pada sesak dada kita. Dada yang apabila malam menggemakan suara semua rahasia seperti lautan nun di bawah sana. Kadang kita meminta juga menunggu ada seorang yang berkenan menemani, mendengarkan suara-suara itu. Kita sebenarnya ingin sekali suara-suara itu segera menjelma ribuan pisau; mempersembahkan luka dan darah. Dan kita mereguk anggur dari setip kulit jengat yang tersayat hingga mabuk dan menjadi pengembara paling jalang.
Genap satu jam kapal menjauh dari dermaga yang masih menyimpan sisa lambaian dari tangan yang tak pernah tampak wujudnya. Kita belum juga rampung membereskan ihwal perasaan. Memilah-milah apa yang menyimpan harapan atu cuma kenangan yang kelewat cengeng dan melumpuhkan. Kedua matamu masih seperti ungu yang berkilauan; menduga-duga batas pantai dan aku perlahan-lahan mulai percaya bahwa engkaulah hasrat yang tak pernah terucap dalam setiap doa juga dosa. Membuatku menjadi pejalan kaki yang fakir belaka.
II
Engkaupun mulai bercerita tentang perasaan tergetar terhadap sesuatu yang sebentar; seperti sebuah firman dihunjamkan dari segala yang biasa. Membuatmu seperti tiba-tiba terbangun dari tidur menahun. Yang indah memang akan memilih tempatnya sendiri, saatnya sendiri, resah-risau tersendiri. Dan air matamu semacam salam selamat datang untuk semua itu.
Yang pernah menangis akan terisak lagi pada saat seperti ini, yang telahdiabaikan akan berharap kembali dalam situasi seperti ini. Ketika sedih dan bahagia tak punya beda, ketika hatimu menjelma prisma dimana setiap pendosa sepertiku mendapat maaf dan restu.
III
Apabila aku tak pernah memintamu untuk sekali saja tinggal dan bertahan menghadapi waktu bersamaku, bukan karena telah kutemukan satu arah yang kukuh. Melainkan karena aku tak ingin sepi yang mengutukku juga membelenggumu.
Kita memang pernah duduk di sebuah beranda menyaksikan sore tergesa, berlarian di sebuah lapangan desa menyisakan asam di ketiak kanak-kanak.
Kau menghidangkn kopi tapi tak berkata-kata, kedua pipimu lembab seperti bunga-bunga leli di pot tanah liat. Lenganmu tidak putih dan acap gemetar seperti 9 tahun yang lalu. Tapi itu semua peristiwa yang terlalu biasa bukan? Aku tak memeluk, apalagi menciummu. Engkau tak menyandarkan kepala di bahu ringkihku. Semua hal istimewa yang bisa dibayangkan dalam asmara tak ada pada kita. Bahkan cinta, mungkin memang ada, tapi tak sempat memberikan apa-apa. Barangkali juga bukan tak sempat melainkan tak mungkin.
Apabila aku tak memintamu kembali ketika kau berpamitan pergi itu lantaran kedua matamu telah menangisi sesuatu yang hanya dijumpai di lubuk paling sunyi.
Maafkanlah aku, karena akhirnya harus menuliskan semua ini. Jiwaku hanyalah sebuah wilayah gelap dan telah menjadi terang karena mencintaimu. Aku telah berada di tempat tertinggi dari semua puncak. Di mana jurang terdalam telah dengan sabar menantiku. Apabila kau mengabaikanku, itulah saatnya akau akan terjatuh dan menjadi rela kerenamu.
(Sumber : sastra-indonesia.com)
Oleh. Sapardi Djoko Damono
Ia hidup dari mata air;
Itu sebabnya ia tak pernah mengungkapkan seluk-beluk karat
yang telah mengajarinya bertarung melawan hidup;
yang telah mengajarinya bertarung melawan hidup;
Ia juga takkan mau menjawab teka-teki sejakala,
Yang telah menahbiskannya menjadi penjaga gerbang itu;
Yang telah menahbiskannya menjadi penjaga gerbang itu;
Maut mencintai fajar dan mata air, dengan tulus.
Oleh. Sapardi Djoko Damono
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
(Sumber : https://www.facebook.com/pages/Sapardi-Djoko-Damono)
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
(Sumber : https://www.facebook.com/pages/Sapardi-Djoko-Damono)
Oleh. Abdul Hadi WM
Cinta serupa dengan laut
Selalu ia terikat pada arus
Setiap kali ombaknya bertarung
Seperti tutur kata dalam hatimu
Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya
Angin kencang datang dari jiwa
Air berpusar dan gelombang naik
Memukul hati kita yang telanjang
Dan menyelimutinya dengan kegelapan
Sebab keinginan begitu kuat
Untuk menangkap cahaya
Maka kesunyian pun pecah
Dan yang tersembunyi menjelma
Kau disampingku
Aku di sampingmu
Kata-kata adalah jembatan
Waktu adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang
Cinta serupa dengan laut
Selalu ia terikat pada arus
Setiap kali ombaknya bertarung
Seperti tutur kata dalam hatimu
Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya
Angin kencang datang dari jiwa
Air berpusar dan gelombang naik
Memukul hati kita yang telanjang
Dan menyelimutinya dengan kegelapan
Sebab keinginan begitu kuat
Untuk menangkap cahaya
Maka kesunyian pun pecah
Dan yang tersembunyi menjelma
Kau disampingku
Aku di sampingmu
Kata-kata adalah jembatan
Waktu adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang
Oleh. W.S. Rendra
Kalau ada sumur di ladang
Jangan diintip gadis yang mandi
Koruptor akalnya panjang
Jaksa dan hakim diajak kompromi
Berburu ke padang datar
Mendapat janda belang di kaki
Koruptor sakit diijinkan pesiar
Uang rakyat dibawa lari
Berakit rakit ke hulu
Berenangnya kapan kapan
Maling kecil sakit melulu
Maling besar dimuliakan
Ur… Ur… Ur… Ur… Bada Ur…
Selendang sutra jingga
Aturan negara ngalor ngidul
Lantaran wakil rakyat korupsi juga
Hio… Hio… Hio… Hio…
Kura kura dalam perahu
Buaya darat didalam sedan
Wakil rakyat jangan ditiru
Korupsinya edan edanan
Si tukang riba disebut lintah darat
Si hidung belang disebut buaya darat
Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
Mereka yang berhutang yang bayar lha kok rakyat?
Binatang bego itu kura kura
Binatang lamban juga kura kura
BBM naik rakyat sengsara
Uang bea cukai ditilep juga
Aduh aduh cantiknya si janda kembang
Sedang menyanyi si Jali Jali
Hujan emas di rantau orang
Hujan babu di negeri sendiri
Hio… Hio… Hio…
Ale… Ale… Ale…
Bakso… Bakso… Bakso…
Onde… Onde… Onde…
Mikul duwur mendem jero
Itu apa artinye?
Artinye…
Kalau ente jadi presiden
Berdosa boleh aje…
*Dibacakan WS Rendra ditengah Iwan Fals dan kawan-kawan menyanyikan lagu HIO dalam konser Merdeka yang berlangsung di Leuwinanggung 16 Agustus 2008*
(Sumber : http://indonesiancommunity.multiply.com)
Kalau ada sumur di ladang
Jangan diintip gadis yang mandi
Koruptor akalnya panjang
Jaksa dan hakim diajak kompromi
Berburu ke padang datar
Mendapat janda belang di kaki
Koruptor sakit diijinkan pesiar
Uang rakyat dibawa lari
Berakit rakit ke hulu
Berenangnya kapan kapan
Maling kecil sakit melulu
Maling besar dimuliakan
Ur… Ur… Ur… Ur… Bada Ur…
Selendang sutra jingga
Aturan negara ngalor ngidul
Lantaran wakil rakyat korupsi juga
Hio… Hio… Hio… Hio…
Kura kura dalam perahu
Buaya darat didalam sedan
Wakil rakyat jangan ditiru
Korupsinya edan edanan
Si tukang riba disebut lintah darat
Si hidung belang disebut buaya darat
Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
Mereka yang berhutang yang bayar lha kok rakyat?
Binatang bego itu kura kura
Binatang lamban juga kura kura
BBM naik rakyat sengsara
Uang bea cukai ditilep juga
Aduh aduh cantiknya si janda kembang
Sedang menyanyi si Jali Jali
Hujan emas di rantau orang
Hujan babu di negeri sendiri
Hio… Hio… Hio…
Ale… Ale… Ale…
Bakso… Bakso… Bakso…
Onde… Onde… Onde…
Mikul duwur mendem jero
Itu apa artinye?
Artinye…
Kalau ente jadi presiden
Berdosa boleh aje…
*Dibacakan WS Rendra ditengah Iwan Fals dan kawan-kawan menyanyikan lagu HIO dalam konser Merdeka yang berlangsung di Leuwinanggung 16 Agustus 2008*
(Sumber : http://indonesiancommunity.multiply.com)














