Oleh. M. Arief Pranoto
Parahnya persoalan minyak dan gas (migas) telah diisyaratkan oleh
para pakar energi, bahwa Indonesia telah memasuki fase DARURAT ENERGI.
Benarkah? Tatkala di permukann terlihat landai, maka sesungguhnya
situasi itu ibarat bara dalam tumpukan jerami, tinggal dipercik sedikit
api (peristiwa kecil) maka akan meletus, membakar banyak hal terutama
menyerap serta melumpuhkan “energi” bangsa ini. Mungkin itulah analog
yang agak cocok untuk memotret secara sekilas kondisi permasalahan migas
di republik tercinta ini.
Namun mengurai ‘darurat migas’
sesuai isyarat di atas, sebenarnya tidak pelik-pelik amat. Artinya,
selain tak begitu rumit menganatomi (mapping) permasalahan yang
muncul, juga tak susah-susah amat mencari solusi terbaik atau bagaimana
jalan keluarnya. Kenapa demikian, sejatinya persoalan utama dalam dunia
migas kita hanya masalah political will dan political action elit politik dan segenap pejabat negara (pemerintah) berkompeten dalam rangka meraih kembali status negara mandiri (autarky) di
bidang energi. Seperti dulu lagi. Itulah hal dan pokok-pokok paling
krusial yang mutlak digelorakan, digebyaran serta dilangkahkan secara
gegap gempita oleh para elit politik dan segenap komponen bangsa. Dalam
bahasa sastranya ialah: “Aku rindu dirimu (Indonesia) yang dulu”.
Nah, celoteh ini tidak ada niatan menggurui siapapun, terutama para pakar dan pihak-pihak berkompeten selain sekedar ingin sharing
pemahaman semata. Bila terselip data atau pendapat berbeda, atau
barangkali pemakaian istilah teknis dan taktis yang kurang tepat baik
arti, maksud dan makna, anggaplah kewajaran yang perlu didiskusikan
lebih dalam ---intinya--- demi meraih pointes dan butiran
bagaimana mencapai kemandirian serta kedaulatan energi yang dirasa
semakin lama kian menjauh dari harapan. Inilah celoteh tak ilmiah,
santai dan sederhana.
Mempetakan KETERGANTUNGAN ENERGI (impor) di Bumi Pertiwi, maka mapping ini wajib diawali breakdowning atas faktor-faktor yang berpengaruh, kenapa kok ketergantungan migas
sifatnya berkelanjutan seolah-olah tidak dapat dibendung, padahal kita
dulu tergolong negara surplus energi (1977 dan 1995). Apa yang tengah
terjadi? Selanjutnya, dalam kajian sederhana ini kami coba melihat dari
sisi internal dan eksternal, antara lain:
Pertama, faktor
internal. Beberapa hal yang dominan mempengaruhi kadar ketergantungan
atas kebutuhan energi di Indonesia meliputi: (1) terbatasnya kilang
minyak. Hingga kini, kita cuma memiliki 6 buah kilang yang berada di
Balikpapan, Sorong, Balongan, Cilacap, Dumai dan Plaju. Semenjak 1994-an
memang tak ada lagi penambahan (dan pembangunan) kilang, meski rencana
bahkan studi kelayakan pernah dan telah dilakukan. Entah kenapa. Tak
layak, atau karena ada power lain yang menghalangi? (2) berperannya jaringan Mafia Barkeley dimana mereka dapat mempengaruhi policy
bidang energi di Indonesia, ketika terbetik khabar bahwa ‘mafia’ ini
yang menghambat gerak laju pembangunan kilang melalui jaringannya di
salah satu Kementerian, memang perlu pendalaman lebih jauh; (3) belitan
skema ekonomi neoliberalisme yang kian meraja-lela di republik ini, dan
(4) berlangsungnya praktek-praktek Mafia Migas di dunia perminyakan
nasional.
Untuk beberapa variabel
internal di atas tadi, nanti akan diperdalam sedikit pada pembahasan
serta diskusi, sekarang kita lanjut saja ke faktor berikutnya atas
ketergantungan (impor) energi.
Kedua adalah faktor eksternal. Keberadaan The Seven Sisters. Tak
bisa dipungkiri, bahwa kuku-kuku korporasi (MNCs) global seperti
ExxonMobil, ChevronTexaco --Chevron Corporation--, Shell, BP, Gulf Oil,
dan lain-lain milik adidaya dunia telah kuat tertancap investasinya di
Bumi Pertiwi. Sesungguhnya tidak ada masalah dengan investasi asing
dimanapun sepanjang mereka memakmurkan rakyat, kecuali bila track record-nya
hampir tidak pernah membuat sejahtera rakyat (terutama masyarakat di
sekeliling/daerah dimana MNCs berdiri), maka hal itu layak
dipertanyakan, “Apakah ini model kolonialisme baru?”
Taqiyuddin
An Nabani mengingatan, “Penjajahan merupakan metode baku kapitalis
sedang yang berubah hanya cara dan sarananya” (1977). Mari kita perdalam
asumsi Nabani tadi. Bahwa sesungguhnya, Bung Karno (BK) dulu juga sudah
mengingatkan bangsa terkait kolonialisme baru, “Bahwa imperialisme
bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negara atau bangsa lain, tetapi
bisa hanya mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain. Ia tidak usyah
di jalankan dengan pedang, atau bedil, atau meriam atau kapal perang
(1960). Retorika pun muncul, “Inikah (kolonialisme baru) yang tengah
berlangsung?”
Tak boleh dielak siapapun, bahwa skema (dan
tujuan) kolonialisme dimanapun-sampai kapanpun dipastikan tak akan
pernah berubah, yaitu penguasaan ekonomi dan pencaplokan sumberdaya alam
(SDA) negara target melalui cara mencari bahan baku semurah-murahnya
dan menciptakan pasar seluas-luasnya. Ini yang mutlak ditanam di benak
kita.
Jika menelaah dari dimensi “time” (waktu) dan struggle (berjuang) pada perilaku geopolitik, bahwa target penjajahan tempo deoloe
hanya sebatas mencari rempah-rempah, maka target kolonialisme di era
modern adalah emas, minyak, gas alam dan jenis-jenis tambang lain. What lies beneath the surface.
Apa yang terkandung di bawah permukaan. Bahkan seorang Vandana Shiva
dari India pun berani berkomentar: "Bila kolonialisasi lama hanya
merampas tanah, sedangkan kolonialisasi baru merampas seluruh
kehidupan!". Sekali lagi, inikah yang tengah terjadi di Indonesia?
Merujuk statement An Nabhani, BK, Shiva, dll bahwa perilaku offensive
geopolitik modern yang dikembangkan Barat ialah menguasai ekonomi dan
SDA di negeri target menyamar (dan menumpang secara gelap) pada gerak
investasi, manajemen konflik, capacity building, atau kalau
perlu --- secara terang-terangan melalui militer sebagaimana invasi
koalisi militer pimpinan Amerika (AS) di Irak (2003-2012) dan
Afghanistan (2001-20013) dengan aneka dalih, bahkan agaknya model
tersebut terus berlanjut hingga kini melalui pintu (isue) baru bertajuk Islamic State of Irak and Syam (ISIS).
Ia juga sering berkedok gerakan massa mengatasnamakan HAM, demokrasi, pemimpin tirani misalnya ---seperti Arab Spring--- atau kadang-kadang via pintu bencana sebagaimana kasus di Haiti, ataupun cover
memerangi wabah penyakit (Ebola, Flu Burung) ala ‘pendudukkan’ di
Afrika, dll. Bagi pemimpin yang sadar akan (geopolitik) potensi kekayaan
alamnya, niscaya tidak mau diatur oleh kolonialisme global melalui
tangan dan kaki-kaki Multinational Corporations (MNCs) serta variannya.
Pintu masuk paling gampang di negara berdaulat memang isue demokrasi, korupsi, freedom,
instoleransi, dsb karena nilai-nilai global itu sudah “diterima”
masyarakat internasional di berbagai negara, akan tetapi sering juga via manajemen konflik berupa adu domba (devide et impera) di negeri yang diincar SDA-nya. Setelah timbul konflik, tahap berikutnya adalah “intervensi” atas nama capacity building,
atau bahkan operasi militer berdalih pembelaan HAM, mengejar ISIS,
menegakkan intolerans dari salah satu pihak yang berkonflik di dalam
negeri tersebut. Itulah sisi lain (dan contoh kecil) cara “investasi
asing” dari perspektif kolonialisme di sebuah negara bila dicermati atas
dasar pemahaman geopolitik dan konstitusi negara (Indonesia) secara
benar.
Selanjutnya, catatan sederhana ini tidak akan membahas lagi soal rencana “turun” (capacity building)-nya armada laut AS di perairan kita yang disuruh Bu Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan RI dalam rangka membantu memberantas illegal fishing,
sekali lagi --- kami tidak akan mendiskusikannya kembali karena pakem
(geopolitik)-nya telah jelas: “Pertahankan rumah serta pekarangan kita
sekalian” (Jenderal Soedirman, 1947). Kebijakan mengundang armada asing
di perairan Indonesia, ibarat pemilik (tuan)-nya justru meminta agar
rumah dan pekarangannya diacak-acak oleh orang luar. Inilah yang kini
terjadi.
Kembali ke diskusi faktor internal yang tadi kita loncati. Bila berangkat dari data sebelum keluar dari OPEC, Indonesia adalah net oil exporter (kelompok negara pengekspor minyak), tetapi semenjak tahun 2004-an ia berubah sebagai net oil importer
(pengimpor minyak). Kenapa demikian, mohon maaf apabila catatan ini
tidak lagi membahas berapa (dahulu) jumlah produksi dan konsumsi minyak
di Indonesia sehingga mampu meraih status net oil exporter,
atau mengapa ia keluar dari OPEC, dan lain-lain kecuali sekilas untuk
menyambung bahasan. Untuk menyingkat paparan namun supaya tetap akurat pointers-nya nanti, maka data-data yang ditampilkan berbasis praktek dan operasional migas dekade 2013 – 2014, walau sekilas saja.
Konsumsi
bahan bakar minyak (BBM) kita sekarang berkisar antara 1,5 juta - 1,6
juta barel per hari (bph). Itu data teknis. Adalah keniscayaan bila tren
konsumsi akan meningkat dari waktu ke waktu seiring dinamika sosial
kemasyarakatan, pertambahan penduduk dan terutama hiruk-pikuk politik
sebagaimana isyarat “Energy Policy”-nya Guildford (1973), "When it comes to oil is 90% all about politics and 10% its about oil itself” .
Jika diperkenankan menafsir statement Guildford, bahwa tampilan data terkait hal-hal teknis perminyakan mungkin akan ditemui banyak dark number
(penggelapan data) sesuai kepentingan dan kemana arah (geo) politik
bergerak. Sedangkan 'data kering' saja sering digelapkan demi sebuah
onani (menyenangkan diri sendiri) agar dikatakan berhasil, dll apalagi
ini 'data yang basah'? Dengan demikian, riil produksi dan konsumsi
minyak yang terilis di media massa oleh pihak tertentu (dan kompeten)
niscaya belum menggambarkan fakta dan data sebenarnya, karena kentalnya
faktor politis.
Di satu sisi, produksi minyak dari 6 kilang di muka tadi berisar 830 ribu - 950 ribu bph dan lifting-nya
cenderung menurun akibat faktor operasional dan teknis. Ini juga
data-data teknis. Ingat isyarat Guildford di atas. Sedang sisi lain,
sisa kekurangan untuk konsumsi BBM kita peroleh lewat impor dari banyak
negara seperti Arab Saudi, Aljazair, Malaysia, Cina, Yemen, Australia,
Vietnam, Nigeria, Brunei, Papua New Guene (PNG), Pakistan, Rwanda, Oman,
Angola, Thailand, Irak, Iran, dan lainnya.
Kajian atas keriskanan supply minyak bahwa 60% kebutuhan impor diangkut via kapal-kapal
tanker melalui jalur perairan, dengan kata lain, jika kelak terjadi
“ganguan” dimana berakibat tersendatnya pasokan, entah gara-gara
‘kemacetan’ di jalur perairan, ataupun ada masalah politik dengan
(negara) pengekspor, mungkin ada gejolak politik di negara (asal)
produsen, atau tiba-tiba meletus perang terbuka di jalur perairan
tersebut, maka niscaya ketersendatan tersebut akan menjadi penyebab
utama atas kelangkaan energi di tanah air. Saat ini, produksi internal
baru memenuhi 40% dari konsumsi dalam negeri.
Apa boleh buat, meskipun negeri ini memiliki cadangan strategis nasional tetapi toh berkisar
20-an hari saja. Boleh bandingkan dengan sesama pengimpor minyak
seperti Cina, Jepang, Taiwan, Korea Seatan, dll yang memiliki cadangan
strategis hingga 100 hari, bahkan khabarnya sudah dinaikkan kapasitasnya
menjadi 200 hari.
Pertanyaannya sekarang,”Apakah
ketergantungan ini dibiarkan berlanjut, sedang Indonesia memiliki
potensi atas ketahanan energi sebagaimana dulu pernah terjadi; bukankah
para elit politik dan segolongan pakar sudah memahami anatomi darurat
energi, tinggal bagaimana kita mengantisipasi kondisi (ancaman)
tersebut?”
(Bersambung ke 2)
Oleh. Hamid Ghuzali
Tak komplit kiranya kalau kita melewati lumpur Lapindo di Porong
tanpa pergi ke wilayah kecamatan Gempol yang hanya berjarak 5 km dari
lumpur Lapindo. Selain terkenal dengan makanan khasnya yaitu cenil dan
klepon, di wilayah ini kita akan menemukan banyak sekali situs sejarah
peninggalan era Mpu Sendok di abad ke 9 hingga peninggalan Airlangga dan
Majapahit.
Tujuan kita pertama adalah Prasasti Cungrang
yang berada di jalan raya Surabaya – Malang masuk kearah barat, tepatnya
di Balai dusun Sukci, desa Bulusari Kecamatan Gempol Kabupaten
Pasuruan.
Prasasti Cungrang ini dikeluarkan pada hari
Jum’at Pahing tanggal 12 Suklapaksa, bukan Asuji tahun 851 Saka atau
pada tanggal 18 September 929 Masehi.
Prasasti Cungrang
merupakan peninggalan dari Mpu Sindok, yang bergelar Sri Maharaja Rakai
Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa. Memerintah Kerajaan Medang dari
tahun 929 hingga 947 yang memindahkan kerajaan Medang dari Poh Pitu,
Kedu ke Watugaluh Jawa Timur.
Kepindahan kerajaan ini bisa jadi
erat hubungannya dengan bencana alam yang terjadi di wilayah sana,
terutama kalau melihat struktur batuan yang terkubur diwilayah sana
(perlu analisa mendalam terutama dalam hubungannya kebencanaan nasional,
i.e meletusnya gunung Penanggungan).
Isi dari Prasasti
ini adalah Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa
(Mpu Sindok) menurunkan perintah kepada Pu Kuala, agar Desa Cunggrang
yang termasuk wilayah Bawang di bawah pemerintahan Wahuta Wungkal
dijadikan Sima atau tanah perdikan untuk pertapaan di Pawitra dan
prasada silunglung sang siddha dewata rakryan Bawang, ayah rakryan
binihaji sri prameswari dyah kbi. Tugas penduduk yang daerahnya
dijadikan perdikan ialah memerlihara pertapaan dan prasada, juga
memperbaiki bangunan pancuran di Pawitra.
Dari isi
prasasti itu, ada dua nama tempat yang perlu mendapat perhatian yaitu
Cunggrang dan Pawitra. Wilayah Cunggrang tentunya tidak jauh dari tempat
prasasti ditemukan (di Desa Sukci sekarang), Nama Cunggrang terdapat
juga di dalam pupuh Nagarakertagama diantaranya Pupuh 58 : Warna I sah
nira rin jajawa rin, padameyan ikan dinunun, Mande cungran apet kalanon
numabas in wanadealnon Darmma karsyan I parcwanin acala pawitra inaran
Ramya nika panunan, lurahlurah bhasa kbidun. Artinya : Tersebut dari
Jajawa Baginda berangkat ke Desa Padameyan. Berhenti di Cunggrang,
mencari pemandangan, masuk hutan rindang. Kearah asrama para pertapa di
lereng kaki gunung menghadap jurang. Luang jurang ternganga-nganga ingin
menelan orang yang memandang.
Tentang Pademeyan dapat
diidentifikasi dengan Kedamaian yang terletak di sebelah utara
Kapulungan. Satu kilometer dari desa Kedamaian ditemukan pula reruntuhan
bangunan candi desa Keboireng. Pada pupuh 78 Negarakertagama disebut
Desa Keresian seperti berikut: Sampud, Rupit dan Pilan. Pucangan,
Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun. Di situ terbentang taman,
didirikan lingga dan saluran air. Yang mulia Mahaguru – demikian sebutan
beliau.
Dari segi linguis pawitra (bahasa Sansekerta)
berarti alat pembersih yang dapat menghilangkan kleca (cacat, dosa,
noda), jadi yang mempunyai kekuatan untuk membersihkan atau mencapai
sesuatu yang bersih, murni, bebas dari bahaya, keramat, suci atau kudus.
Pawitra memang terkenal sebagai nama lama Gunung Penanggungan. Di
Pawitra terdapat bangunan pertapaan (sang hyang dharmmacrama ing
pawitra) & bangunan pemandian (sang hyang tirtha panenran ing
pawitra).
Merujuk ke Pawitra tadi maka kita bisa lanjut ke kunjungan berikutnya yaitu Candi Belahan atau Candi Sumber Tetek.
Akses menuju lokasi, bisa melalui tiga jalur, lewat jalur Watukosek, lewat Raya Gempol-Apollo, atau juga lewat jalur pandaan.
Akses
paling recommended adalah melalui jalan raya Gempol-Pandaan, dari
pertigaan Pom Bensin Pelem , menuju ke arah barat dan berjarak kurang
lebih berjarak 10 km dari jalan utama melewati desa Jeruk Purut yang
jalannya dipaving blok semua. Hal ini dikarenakan sepanjang area
tersebut sekarang banyak terdapat penambangan sirtu (pasir & batu)
yang diambil dari lereng timur gunung Penanggungan.
Perjalanan
dilanjut masuk desa Belahan hingga kurang lebih 30 menit, menyusuri
perkampungan penduduk, diselingi dengan hamparan bukit dan persawahan di
jalur aspal yang tidak begitu bagus dan menanjak melewati tebing yang
curam yang persis seperti gambaran Negarakertagama pupuh 58 yang
menyebutkan berada di tebing yang curam dilereng gunung Penanggungan
dengan ketinggian sekitar 700 mdpl.
Candi Sumber Tetek
diduga merupakan petirtaan (tempat mandi) yang di peruntukkan bagi kedua
permaisuri Raja Airlangga, yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Uniknya, di
kedua puting payudara (tetek) Dewi Laksmi itu mengeluarkan air. Kedua
arca itu melambangkan kesuburan. Dulunya di candi itu sebenarnya juga
ada arca Wisnu menunggang garuda, yang kini disimpan di museum purbakala
Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
Yang menarik dari candi
ini adalah air yang mengalir dari celah-celah bukit Penanggungan ini
tiada habisnya walaupun musim kemarau sekalipun selama berabad-abad
lamanya.
Masyarakat Desa Wonosunyo, - Belahan, dan desa-desa lain
di sekitarnya sering memanfaatkan air yang keluar dari candi ini untuk
kebutuhan air minum sehari hari. Mereka biasanya langsung mengkonsumsi
air itu tanpa harus merebusnya terlebih dulu.
Candi Sumber Tetek
ini dibangun pada abad ke-11. Hal ini seperti angka tahun yang terpahat
pada batu ini, menunjukkan tahun 971 Caka, atau 1049 Masehi. Satu lagi
berbentuk batu tegak (menhir) berukuran setinggi pinggang orang dewasa.
Sayangnya,
pemerintah daerah atau pengelola situs kurang memperhatikan fasilitas
dan sarana penunjang wisata sejarah ini. Warung makanan, toilet, dan
tempat parkir yang memadai juga belum terlihat di sana. Tempatnya yang
berada di atas pegunungan merupakan nilai lebih yang seharusnya menjadi
daya pikat wisatawan. Jalan menuju candi yang rusak berat harusnya
menjadi prioritas utama yang harus segera ditangani. Supaya, wisatawan
dengan nyamannya bisa mengunjungi warisan Raja Airlangga ini.
Dari
atas bukit inilah kita bisa memandang ke utara sebatas mata memandang
termasuk kepulan asap dari lumpur Lapindo – Porong akan sangat jelas
terlihat dari puncak petirtaan ini.
Acara terakhir tak
komplit kiranya kalau kita tidak masuk ke area petirtaan Jolo Tundo yang
bisa di akses dari pertigaan Japanan, Gempol kearah Watukosek (Pusdik
Brimob) terus belok kiri menuju desa Jolotundo. Jalan masuknya sangat
mulus dan bagus dibandingkan jika kita menuju petirtaan Candi Belahan.
Sebelum masuk kesana kita akan melewati wilayah yang disebut Kutogirang
yang konon disinilah tempat dilangsungkannya upacara resepsi jamuan
makan raja dan para tamunya (Kuto girang diambil dari kata Mahkota yang
artinya Tahta dan Girang yang artinya bersenang-senang – Red).
Baik
Petirtaan Candi Belahan maupun Jolo Tundo merupakan warisan peninggalan
Airlangga dari kerajaan Kahuripan – Kediri dan kedua petirtaan inipun
masih terus dipakai oleh penerus kerajaan Majapahit sebagai bagian dari
upacara kenegaraan (Jamus Nuswantara) terutama pelantikan Raja dan
Permainsuri Raja.
Dalam prosesi di atas khusus untuk air
suci biasanya diambil dari Petirtaan Candi Belahan dan untuk siraman
calon permainsuri dan raja biasanya dilaksanakan di Petirtaan Jolotundo.
Ada
hikmah yang tersirat dari lawatan terakhir ke petirtaan Jalatundo,
dimana antara pemandian putri dan pemandian putra terpisah cukup jauh
dan ada sebuah tabir.
Hal ini menunjukkan bahwa saat itu etika /
tata krama secara Islam sudah masuk dalam upacara kenegaraan sejak
ribuan tahun silam.
Tambahan : Sebenarnya disekitaran
gunung penanggungan kita akan mendapati puluhan candi-candi dan punden
berundak peninggalan mulai dari abad ke 8 hingga ke 16. Salah satu candi
yang berada disalah satu bukit Bekel misalnya Candi Putri, Candi Putra,
Candi Gentong dan Candi Sinta.
(https://www.facebook.com/notes/ghuzilla-humeid/napak-tilas-kejayaan-nusantara-di-wilayah-gempol-pasuruan/970376349644365?pnref=story)
Oleh. M. Arief Pranoto
Balkanisasi Indonesia? Mungkin topik ini menarik untuk diulas
mengingat isue ‘Clinton Program 1998’-nya Amerika (AS) guna
memporak-porandakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) meski
sayup-sayup, namun terdengar. Betapa republik ini akan dipecah belah
sebagaimana nasib negeri-negeri di Kawasan Balkan dulu. Nusantara akan
berubah menjadi negara kecil-kecil, serta statusnya hendak disamakan
dengan negara kepulauan (polenesia) di Samudera Pasifik semacam
Vanuatu, Solomon Island, Selandia Baru, Hawaii, Fiji, Atol Midway,
Samoa, Tuvalu, dll. Entah benar, atau cuma rumor belaka, namun pada
dekade terakhir ini, isue tersebut telah menjadi bagian masalah yang
mutlak harus dicermati di Bumi Pertiwi.
Tulisan
sederhana lagi tak ilmiah ini, tidak lagi menyoal apakah Clinton Program
itu ada, nyata atau tidak, “Tak akan ada asap tanpa api”. Mimpi itu ada
walau tidak nyata, namun toh kerap berperan dalam kehidupan
seseorang. Kentut pun hampir sama, meski tak terlihat tetapi ada dan
nyata, terutama ‘berperan’ (menjadi masalah) bagi orang-orang yang
menciumnya.
Berbasis analogi di muka, catatan ini coba
menguak topik isue di atas melalui beberapa tanda atau indikator.
Manakala tanda-tanda orang bermimpi itu bicara sendiri (nglindur),
melakukan gerak sewaktu tidur, dsb atau tatkala indikasi orang kentut
nampak dari mimik, gerak-gerik tubuh, dll maka dari perspektif inilah
kita hendak membuka tabir dimaksud. Sederhana.
Mari
cermati perilaku geopolitik asing di NKRI yang indikasinya berujung pada
skema “Balkanisasi Indonesia”. Awal diskusi akan dimulai dari kondisi
politik global terlebih dulu, baru kemudian meliuk ke tanah air.
Sepakat? Agar tak berkepanjangan, kita mulai semenjak berakhir Perang
Dunia (PD) II dekade 1939-1945.
Usai PD II, geliat
geopolitik Eropa dan Amerika (AS) terkesan stabil kecuali Inggris yang
masih digaduhkan oleh separatis Irlandia Utara (IRA). Kelompok kolonial
seperti Belanda, Prancis, AS, Portugis, Sanyol, Inggris, dan lain-lain
cenderung diam meskipun secara (silent) sistematis tetap
melakukan kendali di bekas negara-negara koloni khususnya kontrol
terhadap ekonomi dan politik. Indikatornya tercermin dengan aneka
‘penyatuan negara’ dalam bentuk kerjasama baik ekonomi, politik, maupun
pakta pertahanan seperti Five Power Defence Agreement (FPDA), ANZUS, Commonwealth, dan sebagainya.
Melambung sebentar ke depan. Barangkali kegaduhan paling aktual ialah gerakan Occupy Hongkong yang kini terjadi di wilayah ex koloni Inggris tersebut. Momen tersebut dapat diterka (diduga) merupakan implementasi British Geopolitic (BG),
dimana pola perilakunya mencaplok terlebih dulu simpul-simpul
transportasi, sebelum akhirnya (menjajah) ke sektor-sektor lain. Ada apa
sich di Hongkong (HK)? Dari aspek sumberdaya alam (SDA), HK
tidak sedahsyat Xinjiang bahkan tergolong miskin SDA. Namun hebatnya, ia
memiliki pelabuhan besar di tepi jalur (perairan) internasional yakni
pelabuhan laut (seaport) serta bandara udara (airport) bertaraf internasional. Bahkan seaport HK merupakan 10 pelabuhan tersibuk di dunia, demikian juga airport-nya menjadi
pusat transit penting di dunia karena letaknya yang strategis. Itulah
sumberdaya HK yang justru menggiurkan bagi negara imperialis seperti
Inggris, AS, dan lain-lain.
Kembali ke era pasca PD II
(Perang Dingin). Jika jeli menyimak, banyak kasus kudeta (dan konflik)
di negara-negara bekas jajahan Barat sejatinya cuma ulangan peristiwa. History repeat itself. Terutama
konflik internal yang melanda kelompok negara yang berlimpah dan kaya
akan SDA semacam Asia Tengah, Timur Tengah --- oleh Mackinder, keduanya
disebut World Islands atau Heartland (jantung dunia)--- dan Afrika (terutama Afrika Utara), dll. Bagaimana dengan Indonesia? Nanti kita ulas.
Tak
putusnya konflik-konflik dan/atau kudeta di negara bekas koloni Barat
bukanlah faktor tunggal yang berdiri sendiri tanpa dalang dan pemilik
hajatan meremot dari kejauhan. Di setiap pagelaran niscaya ada wayang,
dalang dan pemilik hajatan. Gerakan wayang tergantung dalang, geliat si
dalang niscaya merujuk hasrat si penanggap atau pemilik hajatan. “Pak
Dalang, saya ingin lakonnya wayang mbeling!”. Itulah pakem nusantara yang telah menjadi pakem (norma) dalam pagelaran politik global.
Sebagaimana diulas pada prolog tulisan ini, meski cenderung silent bahwa kelompok negara kolonial tetap melakukan kontrol terhadap negara-negara bekas jajahannya. Menjadi circumstance evidence (bukti keadaan) bahkan patern evidence
(bukti pola) manakala pelaku kudeta ataupun tokoh-tokoh konflik justru
para perwira militer, ataupun kaum intelektual lulusan Barat. Hal ini
yang menarik dicermati. Pertanyaan hipotesa, “Inikah modus pemilik
hajatan atau sang donatur menagih janji serta meminta bukti loyalitas
atas “bantuan”-nya selama ini terhadap si wayang atau dalang; atau
jangan-jangan malah mereka disuruh menerapkan disertasi (teori)-nya?”
Yang
diincar oleh asing (pemilik hajatan) tak lain adalah SDA negeri
dimaksud, meski isue yang diusung oleh komprador (wayang/dan dalang)
melalui blow up media massa berkisar soal demokrasi, HAM, korupsi, pluralisme, intolerans, kepemimpinan tirani, freedom, dan lain-lain. The way thing are done around here. Itulah perilaku (geopolitik) kolonialisme.
Sedang
kelompok negara komunis ---masih dalam pasca PD II--- seperti
Yugoslavia, Jerman Timur, Chekoslovakia, Rumania, Polandia, dll
cenderung mengutamakan konsolidasi ke dalam dengan ujud menjaga
stabilitas internal, menguatkan sentralisasi, indoktrinasi ideologi, dll
kecuali Cina dan Uni Soviet terlihat ekspansif, bahkan Cina kian
agresif di panggung politik global hingga kini.
Namun
dalam pola intervensif, Paman Sam terlihat licik karena kerapkali
mengganggu stabilitas negara yang ditarget berdalih membendung
komunisme, atau menyebar intoleransi, isue demokrasi, HAM, dan lainnya
dengan menumpang pada sisi pluralitas (keberagaman suku dan agama)
sebagai sumbu letus. Tetapi anehnya, justru agenda asing tersebut
seperti tak disadari ---atau pura-pura tidak disadari--- oleh elit dan
elemen bangsa-bangsa dimaksud. Entah kecanggihan penerapan skenario,
atau karena cantiknya permainan para komprador di internal negeri, dan
lainnya.
Sudah tentu, sebagai konsekuensi logis atas perilaku geopolitik tadi, mutlak mereka harus menjalin berbagai proxy (perpanjangan
tangan) dalam rangka menerapkan visi dan misi, atau diciptakan “boneka”
bagi kepentingannya di negeri target melalui sosok fenomenal, lembaga
swadaya (LSM), capacity building, pembiayaan program kegiatan, gelontoran hibah, dll ---no free lunch---
kepada LSM, individu, organisasi massa bahkan tak ada makan siang
gratis bagi pemerintahan di negara-negara target. Sekali lagi, no free lunch atas segala hibah, bantuan (dan utang) di suatu negara.
Diskusi terbatas (3/7/2013) di Global Future Institute (GFI), Jakarta, pimpinan Hendrajit mencatat satu pointers menarik,
“Bahwa pola kolonialisme selalu menciptakan tandingan-tandingan”.
Misalnya, bila ada organisasi fundamental niscaya akan dilahirkan
kelompok lain sebagai counter-nya. Indonesia contohnya, ketika
muncul Front Pembela Islam (FPI) yang cenderung radikal, maka
dimunculkan Jaringan Islam Liberal (JIL) untuk tandingannya; atau bila
eksistensi kaum tradisional menguat, nisaya akan dibentuk entitas modern
sebagai tandingan. Sekali lagi, akan selalu muncul tandingan, tandingan
dan tandingan dalam perilaku geopolitik kolonialisme.
Konsep,
model serta modus semacam ini akan senantiasa bergulir secara
sistematis dan masif di lorong-lorong manapun baik lorong ekonomi,
politik, security, dan sosial budaya. Tujuan jelas, agar bangsa
(atau negara target) senantiasa gaduh di tataran hilir,
dibentur-benturkan dengan pola-pola tandingan di internal supaya skema
kolonialisme tak terpantau (deception). Ia jalan terus serta semakin kuat tertancap dalam hal penguasaan ekonomi dan pencaplokan SDA di negara target. Conflict is the protection oil flow.
Sebagai
tambahan ilustrasi, ketika muncul kelompok kritis menurut perspektif
hegemoninya, entah kelompok "kiri", entah golongan “bersimbol agama”,
dan terutama sekali kebangkitan jiwa nasionalis di sebuah bangsa ----
maka Paman Sam siap menyediakan logistik, konsepsi, think tank, kalau perlu membikin ‘pasukan tersendiri’ guna menghancurkan aktivitas tersebut baik secara hard power atau simetris (militer), ataupun secara asimetris (non militer/smart power) melalui cyber troops, gerakan massa, bully, dan lain-lain. Patut dicatat, Arab Spring merupakan contoh langkah asimetris Barat di Kawasan Heartland dan Afrika Utara ---Jalur Sutera--- yang relatif sukses oleh karena berhasil menjungkalkan rezim penguasa kala itu.
Meliuk
lagi namun dalam koridor topik. Sebelum kegagalan AS dan sekutu di
Afghanistan (2001-2013) dan Irak (2003-2012), invasi (keroyokan) militer
memang dianggap metode favorit sebab dinilai efektif meskipun high cost dan membutuhkan restu (kongres) internal serta restu (resolusi) PBB. Dalam praktek, restu internasional pun kadang diabaikan berdalih kepentingan nasionalnya terancam. Doktrin preemtive strike diterbitkan hanya untuk tameng manakala ia menyerang negara lain secara ilegal. “Serang dulu sebelum diserang”.
Pola
invasi di atas pernah memetik sukses di Afrika, Timur Tengah, Amerika
Selatan, dan lain-lain (Baca: Tangan-Tangan Amerika di Pelbagai Belahan
Dunia by Hendrajit dkk). Tapi agaknya, model invasi militer secara
terbuka mulai ditinggalkan oleh AS dan sekutu kecuali mungkin bila
keadaan memaksa. Mereka kini, lebih meyukai tata cara asimetris yang soft, senyap dan smart bila dibandingkan hingar-bingar peperangan simetris.
Tak
boleh diabaikan dalam cermatan adalah, jika di sebuah negara terdapat
benih pluralisme baik secara etnis, agama, atau mazhab dalam agama,
kultur, aspek historis, dll maka perilaku geopolitik kolonialisme
cenderung menunggangi kondisi tersebut dalam rangka destabilisasi negeri
dimaksud. Tibet misalnya, atau Xinjiang di Cina, Turkistan Timur,
Kashmir (India-Pakistan), Chechnya (Rusia), Baluchistan di Pakistan,
Kurdistan (Irak-Iran) dan Sudan, merupakan contoh-contoh nyata.
Pertanyaannya
kini: apakah konflik Syiah-Sunni di Madura, atau ‘bencana sosial’
antara Madura - Dayak di Kalimatan, konflik pribumi versus pendatang di
Lampung, tergolong konflik-konflik yang ditungganginya? Entahlah. Mari
telusuri berdasar asumsi GFI, Jakarta, “Bahwa mapping konflik
dimanapun senantiasa pararel dengan jalur-jalur atau wilayah kaya emas,
minyak, gas alam serta tambang lainnya”. Silahkan dicermati, apakah
Sumatera, Kalimantan dan Madura ---di lokasi konflik--- itu cuma
penghasil jagung, ketela rambat, tempe bongkrek; atau ia memiliki
potensi bidang pertambangan? What lies beneath the surface. Apa yang terkandung di bawah permukaan. Itulah analisa berbasis circumstance evidence dan patern evidence di lingkungan penggiat geopolitik dan global review.
Kembali
ke balkanisasi negeri ini sebagaimana isue Clinton Program 98, bahwa
rencana tersebut (kemungkinan) telah berjalan sejak peristiwa Sambas,
Sampit, Ambon, Poso, dll. Ibarat memakan bubur panas dimulai dari
pinggiran, republik ini seperti disisir via konflik komunal dari tepian.
Inikah strategi "desa mengepung kota"-nya Mao Ze Dong? Sekali lagi,
“Entahlah”.
Selanjutnya, tatkala membaca separatisme Aceh
dan Papua lebih bercorak ke primordialistik, HAM, atau kue pembangunan
yang tidak merata, lalu “Bagaimana dengan lepasnya Timor Timur dulu?”
Tak boleh dipungkiri, bahwa fakta bergabungnya Timor Leste ke dalam
NKRI berpola integratif ala Tibet melalui restu Barat guna membendung
komunisme. Maka sebagai konsekuensi logisnya adalah, ia akan mudah lepas
ketika “restu” dicabut. Tak boleh tidak. Adapun isue HAM sebagai pintu
pembuka, dan agenda jajak pendapat setelah hadirnya pasukan asing di
Indonesia hanyalah pagelaran yang lazim dijalankan. Itulah balkanisasi
dari pinggiran atau sisi luar.
Sementara balkanisasi dari
internal (sisi dalam) tampaknya berjalan ‘senyap’ melalui sistem politik
multipartai, otonomi daerah (otoda), pemilu langsung, dll. Hampir tidak
terpantau bahkan relatif efektif. Lagi-lagi, selain tidak terendus
secara vulgar karena selaras dengan gegap demokrasi, juga segenap elit
dan mayoritas bangsa asyik bergaduh-ria di tataran hilir hingga hampir
kehabisan energi. Ya, terlihat glamour namun tidak menyentuh
kepentingan nasional RI. Pada gilirannya, balkanisasi dari sisi dalam
justru lebih signifikan dalam proses pelumpuhan Ketahanan Nasional kita
yang memang telah lemah sebab didangkalkan baik dari sisi konsepsi
maupun implementasi (baca: Hingga Kapan Pengabaian dan Pendangkalan
Geopolitik Terus Berlangsung di Indonesia? di www.theglobal-review.com).
Bahwa contoh riil penerapan metode belah bambu (devide et impera) di
negeri plural dapat dipetik via ilustrasi perang sipil di Balkan.
Mereka pun terpecah belah menjadi beberapa negara kecil berdasar etnis
dan agama. Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Montenegro, Serbia, Albania, dan
Kosovo adalah ‘anak-anak’ yang lahir dari rahim Yugoslavia, induknya.
“Itulah fakta dan realitas balkanisasi” di muka bumi. Fenomena tersebut
jika diibarat menyantap kue ulang tahun, maka menyendok kue setelah
diiris-iris menjadi potongan kecil akan lebih mudah dan gampang melahab
(SDA)-nya daripada ia masih utuh (menyatu).
Analog memakan
kue ulang tahun di muka, identik penerapan otoda sejak era reformasi
sebagai bentuk negara federal kemasan baru, atau modus multipartai dan
pilihan langsung (one man one vote) yang tanpa sengaja telah
meluaskan tebaran benih konflik berbasis agama, etnis, politik, ideologi
kontemporer, kelompok ---secara berkala--- antara sesama anak bangsa
sendiri. Inilah yang kini tengah berlangsung di Bumi Pertiwi.
Dari
uraian tak ilmiah dan sederhana di atas, setidaknya dapat kita cermati
bahwa upaya balkanisasi di negeri ini telah berjalan masif, sistematis,
bahkan senyap karena justru tak disadari oleh mayoritas anak bangsa.
Balkanisasi dari sisi luar melalui konflik komunal menyisir dari
pinggiran, sedang balkanisasi dari sisi internal melalui sistem politik
yang diterapkan dalam konstitusi negara.
Seandainya pola
dan perilaku ini dibiarkan terus berlangsung tanpa (ada transformasi)
negara hadir secara langsung untuk melindungi segenap tumpah darahnya
dan secepatnya take over, tidak lama lagi ---- sekali lagi,
tidak perlu menunggu waktu lama niscaya akan ada gelombang balkanisasi
di Indonesia. Jangan-jangan, Bumi Pertiwi ini kelak hanya tinggal
dongeng bagi anak-anak cucu bahwa konon Indonesia pernah ada, nyata dan
berada.
Terimakasih.
Oleh. M. Arief Pranoto
Mungkin inilah akhir bahasan dari tulisan tak ilmiah ini. Pertanyaan asumsinya ialah, “Apakah ISIS merupakan false flag operation
bagi kepentingan Barat; atau, benarkah ia sekedar isue pengganti dari
skenario al Qaeda yang sudah tutup layar di Irak dulu (2012)?”
LiputanIslam.com
(LI) menulis, bahwa al-Qaeda dan afiliasinya hadir di berbagai negara
dengan sebutan berbeda. Di Afghanistan namanya “Taliban”, Di Yaman
dijuluki “al-Qaeda in Arabian Peninsula”, di Libya bernama “Ansar
al-Sharia”, di Nigeria stigmanya “Boko Haram”, di Aljazair bernama
“al-Qaeda in Islamic Maghreb”, di Syria disebut “Jabhat al-Nusra”, di
Somalia istilahnya “al-Shabab”, sementara di Indonesia? Mereka menyebut
diri sebagai Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Dan agaknya, mereka juga
tengah membidani ‘kelompok radikal’ di India dan Cina. Entah apa
namanya. Apakah ini berarti, bahwa kelahiran ‘Islam Radikal’ kelak di
Cina dan India sesuai janji Simon Elliot alias Badaghdai sebagaimana
prolog tulisan ini? Entahlah.
Tak bisa dipungkiri
siapapun, model afiliasi terpopuler kini adalah ISIS. Mereka itu, entah
Boko Haram, atau MIT, al Shabab, Jabhat al Nusra, Ansar al Sharia,
bahkan ISIS itu sendiri, sejatinya merupakan ranting atau anak-anak yang
lahir dari “rahim” al Qaeda.
LI menjelaskan, mereka
adalah kelompok teroris memakai bendera Islam, menyebabkan kian
meluasnya Islamphobia di muka bumi. Mereka penganut ideologi Wahabi
Takfiri, yaitu kelompok yang mudah mengkafir-kafirkan pihak yang
berlainan faham. Bukankah al Qaeda dibentuk, didanai, dan dipersenjatai
oleh AS dengan tujuan untuk mendestabilisasi kedaulatan negara lain?
Terutama jajaran negara yang memiliki deposit serta kekayaan SDA yang
melimpah. Inilah yang kini berlangsung. Conflict is the protection oil flow!
Terkait
uraian LI di atas, retorikanya adalah, “Akankah Boko Haram akan muncul
di Nigeria jika ia hanya penghasil gaplek dan tiwul? Apakah bakal lahir
al-Shabab, bila geopolitik Somalia tidak memiliki urgensi bagi
kepentingan (kolonialisme) Barat? Atau, mungkinkan lahir MIT, kalau
Indonesia hanya penghasil jambu mente? Maukah Badaghdi bersumpah
melindungi muslim di Cina, jika Xinjiang cuma kota wisata belaka?
Bukankah deposit dan potensi minyak terbesar yang dimiliki Cina itu ada
di Xinjiang?
Jelas sudah, ISIS cuma false flag operation. “Operasi bendera palsu”. Seolah-olah bekerja sama (Islam) sebagai kawan, padahal bekerja untuk kepentingan musuh. Semacam deception atau
taktik pengelabuhan. Biar kelompok Islam tertentu beranggapan,
seakan-akan tengah melakukan misi suci agama menghadapi para adidaya
anti Islam, tetapi prakteknya, justru gerakan mereka dalam kendali dan
pengawasan agen intelijen seperti CIA, MI-6, Mossad, dan lainnya. Pada
gilirannya, gerakan kelompok ini justru merupakan kontra produktif bagi
citra Islam itu sendiri. Tersirat tujuannya, agar kaum muslim terstigma
sebagai golongan keras kepala, tidak berperikemanusiaan, suka berperang,
dll yang tidak mencerminkan layaknya akhlak ajaran Islam.
Mundur
sebentar. Kita kilas balik atas ‘penutupan skenario’ al Qaeda di Irak,
tatkala tersebar video “kematian” Osama bin Laden yang mayatnya dibuang
ke laut. Siapapun mungkin memahami, bahwa Osama (simbol muslim)
merupakan ikon aktual sebagai musuh AS dan sekutu pasca Perang Dingin,
meski Obama sendiri menilai, Rusia sekarang justru dianggap sebagai
ancaman terbesar kedua setelah Ebola, sementara ISIS, al Qaeda dan
teroris lainnya menempati urutan ketiga. Apakah ini akibat
‘kekalahan’-nya di Ukraina?
Balik lagi soal radikalisme agama. Jika merujuk “The Clash of Civilization and The Remaking of World Order”
(Benturan antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia)-nya Samuel P
Huntington, intinya: “Bahwa konflik antara Islam dan Barat merupakan
konflik sebenarnya!” Sedangkan konflik antara kapitalis dan marxis
sifatnya cuma sesaat dan dangkal. Dari 32-an konflik-konflik di dunia
tahun 2000-an, dua pertiganya ialah antara Islam dengan Non Islam, tanpa
ia mengurai detail sebab akibat dan kenapa konflik terjadi. Mengapa
demikian, inilah yang tengah dijalankan. Opini dibentuk, asumsi-asumsi
mulai ditebar bahwa skenario “Barat verus Islam” itu sebuah kebenaran.
Dalam buku “Who Are We? The Challenges to America's National Identity”
(2004), Huntington semakin tegas mengilustrasikan ide-idenya, bahwa
musuh Barat pasca perang dingin adalah Islam. Meskipun ada embel-embel
'militan' sebagai tambahan, namun di berbagai penjelasan, definisi Islam
Militan melebar kemana-mana mengaburkan makna sesungguhnya. Akhirnya,
dengan berakhirnya Perang Dingin, Islam (militan) benar-benar
menggantikan posisi Soviet (komunis) sebagai musuh utama AS dan sekutu.
Menyimak
seluk beluk ISIS dan dinamikanya, kian lama semakin kentara hendak
kemana isue itu ‘dilabuhkan’. Silahkan dicermati. Manakala pandangan
masyarakat internasional focus atas bombardir pesawat AS dan sekutu
kepada ISIS di Syria, maka pertanyaan yang timbul, “Apakah target
bombardir hanya ISIS? Bagaimana target inti (militer) Bashar al Assad
yang selalu lepas akibat dijegal veto Cina dan Rusia?” Papan catur
telah dihampar, hybrid war berkecamuk semakin dalam.
Obama
menegaskan hari Rabu (24/9/2014) di DK-PBB ketika menyetujui resolusi
anti gerakan terorisme internasional yang dirancang AS, “Tidak ada
solusi militer yang ampuh untuk menumpas terorisme global. Untuk itu
harus ada persatuan negara-negara dunia untuk melawan terorisme!” Inilah
sikap AS dalam merespon isu-isu internasional untuk menggunakan
kekerasan dan tindakan tanpa mandat PBB, hanya berdasarkan kepentingan
nasional mereka.
Maka dari perairan pun, 1 (satu) gugus
kapal induk terbaru USS George H Bush tengah uji kemampuan, dibantu
Cruiser USS Philphine Sea dan Destroyer Arleigh Burke memuntahkan
rudal-rudal jelajah. Dari dirgantara, jet-jet tempur puluhan negara jago
perang juga membombardir. Retorikanya, “Siapa menjamin, bahwa
sasarannya cuma ISIS saja? Siapa berani menjamin, target bidikan tidak
akan menyasar ke rakyat sipil dan (militer) Bashar al Assad?”
Sedang
melalui darat, meskipun kaum pemberontak berhasil dipukul mundur dari
ibukota Damaskus oleh serdadu Syria, bukankah Amerika (akan dan sudah)
men-deploy ribuan ( sekitar 13.000-an personel) melalui Irak?
Tinggal dimobilisasi di Tirkit, lalu masuk melalui al Mafrak, kota
konspirasi di Jordan, selanjutnya menyeberang ke Syria. Sekali lagi,
bidak-bidak telah disusun.
Berbagai matra dan penjuru
telah dikepung. Puluhan negara bersemangat menggempur satu negara
berdaulat berbekal stigma “mengejar ISIS” atas nama kepentingan
nasionalnya namun di negerinya orang, bukannya berbekal resolusi PBB
sebagaimana lazimnya hukum internasional. Inikah yang tengah
berlangsung? Dunia diam membisu!
Akhirnya tibalah di ujung tulisan ini. Ada beberapa learning points yang bisa dipetik terkait bahasan ISIS dalam perspektif perang hibrida, antara lain adalah:
Pertama,
bila diibaratkan permainan catur, ISIS hanyalah pion yang dikorbankan
untuk sekedar “membuka pintu” pertahanan dari kelompok negara target
(Syria, Irak, dll). Inilah taktik false flag operation. Artinya ketika pintu telah terbuka, maka negara-negara target niscaya bakal diserbu dari berbagai arah dan penjuru;
Kedua, di Irak contohnya, ia (ISIS) cuma sekedar dalih dan sarana ‘comeback’-nya
militer koalisi pimpinan Paman Sam setelah sebelumnya dianggap gagal,
lalu hengkang (tahun 2003 - 2012-an) dari Negeri 1001 Malam;
Ketiga,
sedang peran ISIS di Syria merupakan dalih guna menyerbu secara
terang-terangan dengan kekuatan militer meski belum ada mandat
(resolusi) PBB, dimana resolusi tersebut senantiasa diganjal oleh veto
Cina dan Rusia;
Keempat, dalam forum DK-PBB, ia sebagai
alat pemersatu bagi kelompok negara-negara kolonial untuk mensyahkan
sikap dan tindakannya, bahwa seolah-olah ada common enemy (musuh bersama) yakni ancaman terorisme global.
Singkat
cerita, ISIS adalah “bidak catur” pengganti Resolusi PBB yang tak
kunjung terbit dari DK-PBB. Barangkali, inilah permainan biadab yang
ditampilkan dengan tata cara (seolah-olah) beradab!
Oleh. M. Arief Pranoto
Telah dijelaskan di muka walau sepintas, bahwa perang hibrida (hybrid war) merupakan campuran model antara asimetris, proxy,
perang informasi (ujudnya bisa propaganda, edit dan kontra berita,
penyesatan, dll) serta perang konvensional itu sendiri. Ada kombinasi
empat jenis perang dalam prakteknya, atau bisa juga lebih. Artinya,
model mana duluan, siapa di belakang, kapan bersamaan, atau bagaimana
manuver simultan dengan intensitas berbeda --- maka terpulang dari the man behind the (gun) strategy.
Masih
ingat gejolak politik di Libya tatkala tangan-tangan asing menggusur
Moamar Khadafi dari tampuk kekuasaannya? Barangkali, itulah contoh
aktual perang hibrida. Kendati ada contoh lain di beberapa negara, namun
permisalan ini sengaja memilih negara (Libya) di lintasan Jalur Sutera
supaya lebih nyambung jika terkait eksistensi ISIS nanti.
Dalam hybrid war, antara metode asimetris, proxy, penyesatan informasi, dan serbuan militer (simetris atau hard power)
berlangsung silih berganti. Entah mungkin serempak, atau simultan, dst
tergantung situasi serta kepiawaian para pihak. Mari kita breakdown sepintas garis-garis besarnya (benang merah) untuk memahami kronologis.
Bermula dari Arab Spring atau
‘Musim Semi Arab’. Inilah model perang asimetris bermodus seolah-olah
gerakan (rakyat) massa sebagaimana pernah menggulung negara-negara Pakta
Warsawa dekade 2000-an bertajuk Colour Revolution atau Revolusi Warna.
Apa hendak dikata, meskipun serbuan smart power atau strategi asimetris Barat melalui National Endowment for Democracy
(NED) ---ia dijuluki LSM spesialis ganti rezim milik Pentagon, dibiayai
oleh Kongres AS--- tergolong sukses menurunkan Ben Ali di Tunisia tanpa
tercium bau mesiu, atau mejatuhkan Abdullah di Yaman tanpa bunyi
peluru, lalu mendepak Hosni Mobarak di Mesir, dll ternyata ia (Arab Spring) terkendala tatkala merambah Syria, juga mengalami hambatan ketika hendak menyulut Libya. Kenapa contoh kegagalan Arab Spring hanya
pada kasus Syria dan Libya (bukan di Iran), oleh sebab pola gejolak di
kedua negara hampir-hampir mirip, cuma sedikit berbeda akibat faktor
kepemimpinan. Meski sekilas, nanti akan kita ulas perbedaaannya.
Untuk sementara, skenario “Arab Spring”-nya
Barat cq NED di Iran, kita abaikan saja. Kurang menarik. Selain
gerakannya dinilai gagal, juga tidak ada kelanjutan perang sipil, hanya
isue nuklir, embargo-embago politik dan ekonomi, dll. Tak ada lagi
manuver atau gerakan massa di lapangan kecuali sesekali via bom-bom
provokatif di tengah kota. Sepertinya, manuver politik asing di Iran
melalui sisi internal telah ‘terbaca’, sehingga hampir-hampir tak
direspon rakyat Negeri Para Mullah atas provokasi serta adu domba oleh
media-media (asing) dan LSM setempat.
Kembali ke Libya. Ketika gerakan segolongan rakyat (dan unjuk rasa) berpola Arab Spring
tidak meraih respon dari rakyatnya Khadafi, betapa tingkat
kesejahteraan para warga relatif baik, maka otomatis provokasi asing
melalui isue korupsi, pemimpin tirani, dll yang disebar via media
massa dan media sosial dengan corong LSM, terbukti gagal. Modus gerakan
massa di Libya tidak sedahsyat saat manuver NED dkk menggulung Tunisia,
Yaman, dan Mesir. Pola pun seketika diubah. Modus kolonialisme
dinaikkan derajatnya, dari gerakan massa menjadi perang sipil atau
pemberontakan bersenjata. Tampaknya, perubahan pola tersebut terjadi
pula di Syria yang hingga kini terus berlangsung.
Pada
episode perang sipil, terlihat perbedaan seni kepemimpinan antara
Khadafi dan Bashar al Assad dalam mengelola situasi yang berkecamuk di
masing-masing negara. Dan agaknya, seni masing-masing kepemimpinan
menciptakan kondisi yang berbeda pula. Misalnya, bila Khadafi terpancing
oleh fluktuatif ancaman di internal negeri, lalu menghajar kaum
pemberontak (ciptaan Barat) melalui bombardir pesawat-pesawat tempur.
Itulah blunder Khadafi kelak. Sedangkan Assad tetap cool, ia
hanya mengayun manuver separatis (bikinan asing) melalui kontra-kontra
intelijen. Militer diturunkan oleh Assad di wilayah yang dianggap
darurat, itupun tidak secara vulgar dan frontal.
Pada
gilirannya, bombardir terhadap kaum pemberontak direspon secara langsung
oleh sekitar 70-an LSM Libya dan internasional guna menjustifikasi
stigma bahwa “ada pelanggaran HAM berat” dilakukan oleh Khadafi. Lalu,
terbitlah Resolusi PBB Nomor 1973 tentang Zona Larangan Terbang (No Fly Zone). Apa yang terjadi kemudian, bukan sekedar larangan terbang belaka, tetapi Barat dalam hal ini Amerika (AS) dan sekutunya North Atlantic Treaty Organization (NATO)
justru balik membombardir Libya. Puluhan negara jago perang yang
tergabung di NATO menggempur Libya hingga porak-poranda. Khadafi
dinyatakan “tewas?”, pemerintahan (definitif) bubar, pemerintah
sementara tak digubris, perampokan harta Khadafi berkedok pembekuan
aset-asetnya di luar negeri pun menjadi fenomena, pergolakan senjata
bermotif saling klaim SDA di internal negeri terus berlanjut, dan
lain-lain. Libya kini, ibarat ladang ditinggal pemiliknya, menjadi
rebutan banyak orang. Ia seperti “negara tanpa tuan”.
Lain
Libya, lain pula Syria. Meski terus bergejolak, akibat seni
kepemimpinan Assad maka atmosfer politik (global) di Syria berbeda
dengan negeri tempat kelahiran Khadafi. Betapa militer negara lain
hingga saat ini tidak diperkenankan masuk secara terang-terangan karena
belum ada mandat PBB. Upaya untuk menerbitkan resolusi oleh AS dan
sekutu senantiasa diganjal oleh veto Cina dan Rusia setiap kali diajukan
draft resolusi di forum DK-PBB.
Dengan demikian, kolonialisme di Syria, seyogyanya tidak berubah sejak kegagalan Arab Spring
kemarin, dan seyogyanya pula, pergolakan bersenjata masih berpola
seperti beberapa tahun lalu yakni perang sipil. Tidak ada bombardir (dan
keroyokan) dari koalisi militer pimpinan Amerika, dll. Akan tetapi,
manakala terdapat tanda-tanda, isyarat dan sinyalir bahwa koalisi
militer Barat telah mulai ‘memasuki’ teritorial Syria, maka pertanyaan
yang muncul adalah, “Dari pintu mana mereka masuk; lalu, apa peran ISIS
dalam perang hibrida yang terus berkecamuk di Syria?”
Bersambung ke (3)
“Pakar politik itu tak ada beda dengan makelar kambing di hari raya korban”. Tak boleh dielak, inilah sastra (filosofi) leluhur tentang perpolitikan yang tampaknya sudah tidak diindahkan lagi oleh banyak elemen bangsa. Entah kenapa. Apakah tidak pernah didengar oleh generasi penerus, atau salah dalam penafsiran, atau jangan-jangan justru pura-pura tak tahu?
Akan tetapi, di tengah keterpurukan (sistem) bangsa dan negara ini, tampaknya falsafah politis tersebut mulai mencuat kembali di permukaan. Syukurlah. Nah, catatan tak ilmiah ini, mencoba mengurai local wisdom tersebut meski ibarat nyala lilin di kegelapan, karena faktanya memang ditemui kebuntuan teori-teori politik modern (Barat) yang malah membawa republik ini ke ruang ketidakmandirian. Ruang dimaksud berupa status sebagai bangsa pengimpor atas banyak komoditi yang sesungguhnya berlimpah di Bumi Pertiwi. Inilah penafsiran sederhana atas sastra (leluhur) di atas.
Ya. Hari raya itu maksudnya kesenangan sesaat, atau dalam sastra dilantunkan: “raja tanpa bisnis ibarat ketoprak, enaknya cuma semalam”. Jadi entah bentuknya kemenangan, kemegahan, atau kemewahan-kemewahan lain. Maka itulah makna daripada “hari raya” yang sifatnya sejenak. Sekali lagi, kesenangan yang hanya sesaat. Kenapa demikian, oleh sebab esok (pagi) ia mesti turun panggung. Tak dapat dipungkiri, di era demokrasi liberal dan Otonomi Daerah (Otoda) kini tidak sedikit Petruk dadi ratu berujung pidana, akhirnya di penjara. Tanpa bisnis, bahkan memiliki binis pun sang Petruk asyik korupsi. Banyak permisalan aktual. Enaknya cuma semalam, karena paginya digelandang KPK.
Sedang makna makelar ialah demi “perut”-nya sendiri. Artinya jangan berharap mereka berpikir kepentingan masyarakat, boro-boro memikirkan kepentingan nasional, bahkan kelompok yang melambungkan kariernya pun sering ditinggalkan. Maka seringkali ditemui “kutu loncat”, atau istilahnya bunglon politik, dan lain-lain. Kepentingan bangsa dan negara cuma slogan di setiap orasi-orasi demi mendulang suara belaka.
Kemudian makna kambing disini adalah sosok, ataupun obyek sasaran –itupun sasaran antara--- daripada tujuan yang hendak “dicincang atau disembelih”, maka siapapun sosok dimaksud pasti akan dikorbankan, dijadikan tumbal politik, atau terkadang kebalikannya, ia diherokan ke publik sebagai sosok tanpa cacat. Inilah pemimpin masa depan. Propaganda diramu sedemikian rupa terhadap sosok yang dijagokan agar selaras dengan “kerinduan-kerinduan” serta aspirasi warga. Berbasis skenario dalam pencapaian tujuan melalui isue, stigma, pencitraan, promosi, dan lain-lain.
Perlu diingat, sosok disini sejatinya sekedar sasaran antara belaka. Istilahnya wayang. Pintu pembuka saja, karena masih ada dalang, dan pemilik hajatan yang menginginkan model skenario. Apa hendak dikata. Di setiap pagelaran niscaya ada wayang, dalang dan terutama pemilik hajatan di belakang layar. Ia meremot pagelaran dari kejauhan. Inilah mereka ---sang pemilik hajatan--- lazim disebut sebagai kelompok pemodal serta donator kampanye bagi “kambing” yang dicincang (propaganda, citra), atau disembelih (stigma, cap, dll).
Ya. Meski artinya banyak taktik, politik itu penuh rekayasa. Jika diibaratkan seutas tali maka terdapat pola permanen yang lestari yaitu “bundel” di bagian ujungnya. Kata bundel disini memiliki makna, bahwa kepentingan politik itu bermuara pada uang, uang dan uang. Ketika ada anekdot: “tidak ada kawan dan lawan abadi kecuali kepentingan”. Dan kata “kepentingan” disini, tidak lain dan tak bukan ialah uang.
Sebuah permainan politik, sangat berbeda dengan permainan catur yang ketika diserang (skak), pihak lawan akan terpojok lalu mati. Bukan seperti itu mainnya. Oleh karena tidak ada (rumus) mati langkah dalam politik. Bahkan dalam posisi terjepit, ia bisa keluar arena, tetapi bukan menyerah apalagi mengaku kalah. Di luar arena pun tak cuma menonton, mereka dapat memberi “warna” serta mengacaukan irama permainan yang tengah berlangsung. Maka ada istilah “mentor” dalam dunia politik.
Oleh sebab itu, silahkan dicermati kemana republik ini melangkah serta dibawa oleh orang atau golongan yang mengaku sebagai pakar politik. Hendak diantar pada kejayaan bangsa, atau malah digiring ke jurang kehancuran? Era demi era yang telah dilalui oleh republik ini, setidak-tidaknya bisa dijadikan cermin bersama.
Apa boleh buat. Menggerakkan negara dalam rangka meraih tujuannya memang melalui langkah-langkah politik, tetapi membuat negara menjadi kuat, mutlak harus menggunakan piramida politik. Retorikanya adalah: bagaimana piramida politik dan implementasinya agar sesuai pakem kejayaan nusantara dulu?
Kenapa semua terjadi di Bumi Pertiwi, karena kita tidak mau berkaca pada berbagai kejadian baik peristiwa dulu, kini, maupun kedepan. Kental kecenderungan hanya mengutamakan kepentingan sejenak (politik praktis). Kepentingan sejenak? Itulah contoh makna “hari raya” daripada sastra dalam prolog di atas. Hal ini merupakan indikasi, bahwa republik tercinta ini masih kuat dikelola oleh para pakar politik, si makelar kambing di hari raya korban.
Selanjutnya berbicara tentang kaca atau cermin, seyogyianya kita memotret tiga kelompok atau golongan yang kini tampak menggejala. Antara lain:
Pertama: Kelompok Pecundang. Inilah kaum koruptor, kendatipun secara hakiki korupsi di Indonesia itu diciptakan oleh sistem (politik). Persoalan pokok bangsa ini bersemayam di hulu. Kenapa kita tidak berupaya mem-breakdown, lalu mengubah sistem tersebut? Sepertinya segenap tumpah darah Indonesia malah larut dalam hiruk-pikuk yang diakibatkan oleh sistem koruptif tersebut. Banyak elemen bangsa ini memaki “gembira” jika indeks korupsi meroket. Inikah fenomena terseret arus?
Kedua: Golongan Penghianat. Telah banyak disaksikan hasil perbuatan atau ucapan orang-orang plin-plan, mencla-mencle, dll. Pagi kedelai sore tempe. Lalu yang kita rasakan sebuah proses pembodohan secara berkala, dan ‘kedustaan’ (melalui pencitraan) yang nyata di sana-sini. Sudah barang tentu, hasilnya pasti hanya mengenyangkan dan menyenangkan diri, kelompok dan golongan mereka sendiri.
Ketiga: Kelompok Nasionalisme. Inilah kaum atau golongan cinta tanah air yang masih memiliki keyakinan, baik keyakinan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, bahwa kelak Indonesia bakal kembali pada KEJAYAAN NUSANTARA. Right or wrong is my country. Masih adakah jiwa-jiwa semacam itu di republik ini? Masih banyak! Betapa rindu anak bangsa ini pada era keagungan nenek moyang dulu. Benih-benihnya pun mulai terlihat bersemi. Tentunya untuk mengubah dan memberdayakan jiwa-jiwa semacam ini, mutlak harus dengan SISTEM yang dimulai dari HULU, bukan seperti yang sekarang berlangsung, kegelisahan serta perjuangan segenap elemen bangsa yang mulai tercerahkan hanya gaduh di tataran HILIR semata. Sungguh memprihatinkan.
Melalui cermin ketiga golongan tadi, gilirannya dapat dicermati apa yang tengah terjadi, ataupun yang kelak terjadi nanti. Bila merujuk ketiga kelompok di atas, lebih banyak mana golongan yang mendiami Bumi Pertiwi ini, dan termasuk kelompok manakah kita?
Terimakasih
Oleh. M. Arief Pranoto
Barangkali agak berbeda cara, antara kajian atau analisa hukum, analisa intelijen dibanding dengan kajian (peristiwa) politik. Sebuah kajian politik ---seperti juga analisa hukum dan intelijen--- memang memerlukan fakta dan bukti-bukti baik formil maupun materiil, dll dalam rangka mendukung validitas makalah, namun apakah itu mutlak? Belum tentu. Siapa otak pembunuhan Jeff Kennedy, adakah fakta-fakta hukumnya? Konon Moamar Gaddafi masih hidup, apa bukti materiilnya? Katanya Osama bin Laden itu “boneka”-nya Central Intelligence Agency (CIA), mana bukti formil hitam di atas putih?
Beberapa pertanyaan di atas, cuma ingin memberikan gambaran, bahwa mengkaji kejadian bernuansa politis namun memakai pakem hukum dan intelijen, niscaya akan sedikit mengalami kendala, hambatan bahkan menemui kebuntuan-kebuntuan. Apa boleh buat. Bila di dunia jurnalistik dikenal istilah circumstance evidence (bukti keadaan) yang tidak kaku tetapi dipercaya bisa mengurai sebuah tabir. Agaknya di dalam perpolitikan pun ada pattern evidence (bukti pola). Hampir-hampir mirip. Inilah pisau bedah yang akan dipakai membuka sedikit keremangan peristiwa terkait politik praktis.
Pada prolog catatan ini, kedua evidence perlu diperkenalkan walau sekilas, selain sebagai bekal guna membaca pola-pola intervensi Singapura di beberapa negara, bahkan bila telah mendarah daging juga dapat dipakai untuk melihat hal tersirat dari apa yang tersurat. Mari kita breakdownsejenak.
Bukti Keadaan (Circumstance Evidence)
Bukti keadaan misalnya, tatkala ada penembakan atau timbul gangguan keamanan di Papua, seketika pihak PT Freeport akan menutup total lingkungannya dari dunia luar, kecuali orang dalam. Inilah standart operation procedure (SOP) di Freeport. Itu baru satu fakta. Fakta berikutnya, kenapa hampir semua penembakan di Papua jarang terungkap? Selanjutnya, mengapa mesin canggihgoogle earth menjadi blank ketika menyorot Feeport dan perairan Papua? Ini juga fakta-fakta lapangan, dan lain - lain.
Nah, sekumpulan fakta yang seolah-olah tidak nyambung tadi dalam jurnalistik disebut ‘bukti keadaan’. Manakala dirangkai, hipotesa yang dapat ditarik misalnya, apakah setiap muncul gangguan keamanan, atau penembakan di Papua itu identik dengan pengapalan raw materialmelalui jalur pipa dari Freeport ke kapal-kapal AS di perairan Papua? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Tapi itulah bacaan sementara dari circumstance evidence.
Salah satu pointers diskusi terbatas di Forum KENARI (Kepentingan Nasional RI), Jakarta, pimpinan Dirgo D. Purbo, menyebut: “conflict is the protection of oil flow and blockade somebody else from the oil flow”. Maksud oil flow pada asumsi KENARI bila dianalogkan pada kasus Papua, boleh dimaknai the protection raw material yang dikapalkan oleh Feeport melalui jalur pipa menuju perairan, jika terjadi penembakan atau gangguan keamanan. Retorika nakal mencuat: jangan-jangan penembakan gelap atau tawuran antar suku di Papua justru “diciptakan” sendiri untuk alihkan perhatian terkait pengapalan Feeport?
Bukti Pola (Pattern Evidence)
Sekarang giliran mengurai pattern evidence atau bukti pola. Sekilas terlihat ia lebih mudah ketimbang bukti keadaan di atas. Tatkala lebaran hampir tiba contohnya, pola yang terbaca dalam dinamika masyarakat kita adalah mudik. Itulah budaya pulang kampung untuk bersilahturahmi dengan keluarga, baik melalui moda transportasi udara, laut maupun perjalanan darat dengan kendaraan umum, ataupun kendaraan pribadi roda dua atau roda empat. Mudik saat lebaran ialah keniscayaan yang tak bisa dielakkan di Indonesia. Maka antisipasi negara cq Polri dibantu TNI dan instansi terkait dalam menghadapi pola tahunan rakyat ialah menggelar operasi kemanusiaan guna mengamankan dinamika warga agar mereka aman, lancar dan selamat hingga tujuan. Itulah contoh pattern di sektor sosial budaya.
Kendati tak jauh berbeda, membaca pola-pola (peristiwa) di dunia politik perlu kejelian, kecermatan dan sedikit kecerdasan terutama dalam memaknai fenomena yang timbul. Tak dapat dipungkiri. Pola kapitalis sebagai ideologi adalah sikapnya yang eksploitatif, ingin mendominasi, monopoli, dll terhadap sektor yang diminati terutama penguasaan ekonomi dan sumberdaya alam (SDA). Tak bisa tidak. Dengan pola semacam itu, keniscayaan methode yang akan diterapkan kaum kapitalis ialah mencari bahan baku semurah-murahnya, lalu menciptakan pasar seluas-luasnya. Sudah barang tentu, penjajahan adalah methode baku kapitalis!
Manakala ada power kuat lagi dominan melindungi aktivitas pasar dan bahan baku dimaksud, seyogyanya power tersebut harus “dipecah” menjadi kekuatan-kekuatan kecil, kemudian diadu domba (devide et impera) hingga melemah. Bila perlu, dilenyapkan saja!
Selanjutnya pada otoritas pasar ataupun institusi pengelola bahan baku di wilayah atau negara target, kelazimannya ditanam para komprador ---istilah BK--- sehingga kebijakan yang diterbitkan senantiasa pro mereka (asing). Sepertinya memang ada fenomena di negara-negara kaya SDA tetapi agak terbelakang, bahwa pos-pos di kementerian atau pada departemen strategis tertentu dijadikan “tanaman” bagi asing. Benarkah demikian? Inilah pola kapitalisme, kolonialis, dll dengan ujud serta aneka kemasan di berbagai negara.
Cengkraman Sistem Kolonial di Indonesia
Kita menyimpang sebentar namun masih dalam koridor pattern evidence. Beberapa retorika menyeruak: apakah Otonomi Daerah (Otoda) termasuk pola kolonialisme yang telah tertancap di sistem negara; benarkah one man one vote menghancurkan nilai (musyawarah untuk mufakat) leluhur dalam rangka memilih calon pemimpinnya; bukankah model multi partai telah menjauhkan sifat kegotong-royongan kita? Let them think and let them decide. Retorika memang tak butuh jawaban agar tulisan ini terus dilanjutkan.
Betapa Otoda telah menciptakan gubernur, bupati atau walikota bak raja-raja kecil di daerah. Tanpa etika berani ‘melawan’ atasan. Banyak contoh. Saya dipilih langsung oleh rakyat, katanya. Proyek dikapling-kapling mirip irisan kue lebaran. Pemenang tender pun bisa ditebak, pasti kaum pemodal serta para donator kampanye. Apa hendak dikata. Tancap baliho, tebar sembako,nampang di media, dll perlu banyak uang. Sungguh megah dan meriah.
Satu orang satu suara! Inilah one man one vote. Bukankah itu malah menabrak (pakem) keadilan sosial, tatkala coblosan seorang profesor bernilai sama dengan pemilih pemula, atau disamakan dengan suara petani di dusun? Maka pencitraan menjadi industri baru yang menjanjikan. Marak menyulap para penjahat menjadi pejabat publik melalui “hiasan” (pencitraan) sesuai selera dan tren kerinduan rakyat. Bapak ini sederhana lho, ibu ini lugu dan jujur, anak muda itu pendekar, keturunan macan, dll warga pun berduyun mengamini tanpa selidik, entah apa ‘ideologi’ si kandidat. Persetan dengan latar belakang yang dipilih. Akibatnya banyak Petruk dadi ratu. Capek. Bukankah pencitraan itu realitas semu?
Baudrillard menyebutnya hyper-reality. Inilah era simulakra, jelasnya. Dimana batas antara realitas dan citra telah melebur. Bahkan citra telah berubah menjadi realitas itu sendiri. Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler dulu, lebih jelas lagi mengatakan: "Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya". Goebbels juga mengajarkan, bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja.
Ketika warga telah sedemikian rupa terasuki oleh citra dan mereka tak sanggup membedakan mana citra, mana realitas, maka ibarat membeli kucing dalam karung, ketika terpilih justru harimau yang keluar. Habislah negeri ini “dimakan” mereka dan golongannya. Hal ini diakibatkan oleh publik memberikan suaranya kepada citra kandidat, bukan realitas kandidat (Dina Y. Sulaeman, 2010). Sekali lagi, mereka hanya memilih citra semu, bukan ‘ideologi’ kandidat serta bukan pula realitas kepemimpinannya.
Pada gilirannya, dinamika politik kini terlihat glamour, megah serta cenderung high cost tetapi tak memiliki makna apa-apa bagi Kepentingan Nasional, bahkan terlihat semakin menjauh daripada tujuan negara. Pertanyaan: beginikah pola kapatalisme mencengkram Ibu Pertiwi melalui sistem?
Penjelasan sederhana di atas, sesungguhnya hanya ingin memberi gambaran, jika analisa hukum dan intelijen harus berdasarkan fakta dan bukti-bukti empirik terkait peristiwa yang hendak dikaji, tetapi dalam analisa politik tidak mutlak, oleh sebab (terkadang) fakta yang muncul seperti berdiri masing-masing, seolah tanpa kaitan sama sekali. Maka diperlukan kecermatan untuk merajutcircumstance evidence (bukti keadaan) sebagaimana pakem dunia jurnalis, atau merangkai dan menampilkan bukti pola (pattern evidence) dalam perpolitikan.
Sekarang ke Singapura. Ketika Habibie mempunyai “mimpi” hendak membangun Sabang, Batam dan Bintan demi mengalahkan Negeri Singa, melihat fenomena tersebut dari kacamata kolonialisme, dipastikan Lee akan meradang, karena mimpi Habibie bakal mematikan Singapura. Maka berbasis pattern evidence, sangat diyakini adanya peran sangat besar Paman Lee dalam meng-“kudeta” Habibie melalui penolakan pertanggung jawaban di MPR. Inilah bukti pola yang dapat dibaca. Entah perannya hanya membentuk opini, atau dukungan moral bahkan kemungkinan juga sokongan uang.
Merujuk implementasi modus monopoli, eksploitatif, dll yang melekat dalam langkah kaum kapitalis, jika terdapat power dominan (kompetitor) yang melindungi pasar dan bahan baku yang dikehendaki, mutlak harus dibelah menjadi kekuatan kecil-kecil, kemudian diadu domba (devide et impera) hingga lemah, bahkan kalau perlu dilenyapkan!
Dalam telaah dominasi eksploitatif, “mimpi” Habibie jelas dinilai kompetitor bagi Lee. Seandainya Sabang, Batam dan Bintan terujud maka pelanggannya pasti berkurang. Ini kiamat bagi Singapura. Maka senafas dengan watak geopolitik Negeri Singa ---dalam “kudeta” di MPR--- dahulu, isyaratpattern evidence menyatakan, bahwa Habibie tergolong sosok (power) yang harus dilenyapkan!
Bersambung ke (9)
Oleh. Hamid Ghuzali
Tahukah anda?LONTAR atu Ron Tal (Daun Tal) sebagai salah satu bagian
"Pemersatu Nusantara".Banyak sudah peninggalan leluhur nusantara ini
diantaranya adalah Lontar atau Ro Tal (daun tal, palmyra) atau lebih
dikenal dengan siwala, sawala, suwala, suwalapattra, sewalapattra,
siwalan, dan seterusnya, kesemuanya dipakai dalam arti surat, tetapi
juga menunjuk pada daun pohon tal itu sendiri.Masyarakat nusantara ini
sejak dahulu kala terutama Era kejayaan Medang Kamulyan (puncaknya
peradaban pendidikan & pengajaran, baca : Melacak Makna &
Kejayaan Nusantara oleh M Arief Pranoto, Global Review) yang terbagi
dalam Wangsakerta atau Empat Bangsa Besar seperti yang saya jelaskan
dulu dalam catatan saya menunjukkan bukti otentik akan adanya Peradaban
Maju masyarakat nusantara ini dalam kegiatan tulis menulis yang
diajarkan dalam semua level pendidikan yang dulu banyak diajarkan dalam
keagamaan, istilahnya belajar melalui agama karena saat itu bentuk
"sekolah" konvensional seperti yang diajarkan model saat ini belum
ada. Masyarakat lebih dibiasakan menulis segala sesuatunya baik tentang
cerita kehidupan sehari-hari mulai dari masalah keluarga, masakan,
percintaan, pengobatan hingga wejangan keagamaan kesemuanya ditulis
dalam lembaran daun lontar yang konon usianya tidak lebih dari 100
tahun lamanya tergantung pola / cara menyimpannya.
Lontar merupakan
bentuk peradaban maju suatu masyarakat kita karena sudah dikenalkan
bagaimana caranya berkomunikasi dan mengungkapkan semua persoalan ini
dalam bentuk sebuah tulisan yang indah. Sehingga kala itu ada istilah
"Hidup tanpa seni bakar kasar". Beda ungkapan rakyat pada daun lontar
maka beda pula dengan tingkatan raja-raja zaman dulu, dimana semua
bentuk tulisan yang ada dituliskan dalam lembaran daun emas seperti
yang kita lihat dalam berbagai arsip yang tersimpan baik lokal maupun
mancanegara. Raja dan naskahnya merupakan simbol kedudukan dan
kekuasaan.Bicara soal lontar maka kita akan menemukan kesamaan tulisan
dan polanya yang saat itu disebar oleh ke empat bangsa yang pernah
belajar dan berguru di nusantara ini yang kemudian menyebar keseantero
dunia.
Lihatlah bukti-bukti peninggalannya yang tersebar mulai dari tetangga kita Malaysia, Thailand, Burma, Vietnam, China, Nepal hingga Mesir menunnjukkan pola tulisan yang sama. Itulah bukti otentik sejarah peradaban nusantara kala itu yang tidak mengenal batas ruang dan waktu menerobos akses dunia luar yang begitu dahsyat. Maka dengan bukti-bukti yang ada dan berada selama ini akankah kita masih "MINDER" sebagai bangsa yang lemah, terbelakang, terjajah dan akhirnya menjadi bangsa pecundang dan pengkhianat dinegerinya sendiri?Jawabannya : SEMOGA TIDAK......Mari bangkitkan Rasa Nasionalisme itu yang merupakan "Suratan Takdir" yang melekat pada tiap diri anak bangsa ini yang lahir sudah berada diatas bumi Nusa Dwipa Swarna yang konon merupakan bumi tetesan dari surga.Jayalah Negeriku, Jayalah Bangsaku!!!
Oleh. M. Arief Pranoto
“Jangankan hanya legenda atau mitos, bahkan sejarah pun
selayaknya tak sekedar dibaca dan ditelan bulat-bulat, tetapi mutlak
harus dikritisi, dianalisa, dan jika perlu dibuat sejarah baru yang
masuk akal bila alur cerita sebelumnya ternyata bagian dari muslihat
kaum kolonial”. Inilah premis atau titik awal yang menguat sebelum
melanjutkan catatan sederhana ini.
Sekurang-kurangnya ada beberapa rujukan yang mendukung premis di atas. Pertama, statement Juri Lina, penulis Swedia dalam buku "Architects of Deception- the Concealed History of Freemasonry"
(2004). Ia berasumsi, bahwa ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah
suatu negeri. Antara lain: (1) kaburkan sejarahnya, (2) hancurkan
bukti-bukti sejarah agar tidak bisa dibuktikan kebenarannya, (3)
putuskan hubungan mereka dengan leluhur, katakan bahwa leluhurnya itu
bodoh dan primitif.
Tak kurang, pointers diskusi terbatas di Global Future Institute
(GFI), Jakarta (17/1/2013), pimpinan Hendrajit, cenderung menebalkan
asumsi Lina. GFI mensinyalir, terdapat pola yang berulang dalam setiap
kolonisasi yakni “pengaburan atau pembengkokan sejarah leluhur di negara
koloni (terjajah)”. Itulah skema besarnya.
Adapun langkah
pengaburan sejarah bangsa menurut GFI, melalui beberapa tahapan antara
lain: pertama, penghancuran bangunan fisik bangsa terjajah agar generasi
baru tidak dapat menyaksikan bukti-bukti kejayaan nenek moyangnya,
otomatis selain tak mampu menarik hikmah dan nilai-nilai emas histori,
juga tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah; kedua, diputus
hubungan histori dengan leluhur melalui penciptaan stigma dan opini
bahwa leluhurnya itu bodoh, tidak beradab, primitif, dan lain-lain;
ketiga, dibuat sejarah baru versi penjajah.
Dan tampaknya,
substansi kedua asumsi (Juri Lina dan GFI) hampir identik, hanya GFI
menambahkan poin materi: “dibuat sejarah baru versi penjajah” --- hal
ini yang kemungkinan tak terlintas di benak Lina, penulis Swedia. Entah
kenapa, atau sebab negaranya Lina tidak pernah dijajah? Boleh jadi.
Memang terdapat beberapa negara di dunia yang tak pernah dijajah oleh
siapapun, antara lain Arab Saudi, Islandia, SWEDIA, Denmark, Norwegia,
Nepal, Turki, dan Thailand.
Dengan demikian, menelusur
kembali sejarah nusantara yang konon banyak dikaburkan ataupun
dibengkokkan oleh kaum penjajah bersama “kaki tangan”-nya hingga kini,
maka berbasis kedua asumsi tadi, penulis ingin menguak ---walau sedikit
saja--- bagaimana cara para kolonial dahulu mengkaburkan sejarah bangsa
ini.
Masih ingat tahapan dan era-era kejayaan nusantara?
Sebaiknya dibaca terlebih dulu “Melacak Makna dan Kejayaan Nusantara”
dan artikel “Kenapa Samudra Pasifik dulu Disebut Lautan Teduh” di (www.theglobal-review.com) agar ‘nyambung’ bila melanjutkan catatan ini.
Tak
boleh dielak, kemunculan istilah NUSANTARA atau nuswantoro, sejatinya
merujuk kepada penyatuan empat bangsa, yaitu bangsa Chin (Cina, Veitnam,
Laos dan Kamboja), bangsa Thai (Burma atau Myanmar dan Thailand),
bangsa Afrika (Madagaskar, Srilangka, India dan seterusnya hingga Mesir)
dan Bani Jawa terdiri atas Sumatera, Papua sampai kepulauan Polinesia,
Hawai dan Jawa itu sendiri. Inilah Era Medang Kamulyan dengan raja yang
terkenal ialah Ratu Boko. Medang Kamulyan merupakan kelanjutan Era
Wangsa Keling dibawah kekuasaan Sailendra dimana pusat
pemerintahan konon berada di sekitar Yogyakarta sampai ke wilayah Dieng.
Dieng itu sendiri itu artinya penguasa. Dari kata Dieng bergeser
namanya menjadi Dah Nyang (Dayang) yang berarti Dah Hyang atau Penguasa.
Selanjutnya inti yang ingin diurai pada paragraf ini, bahwa NUSA
artinya pulau, sedangkan ANTARA maksudnya ialah jarak. Sehingga
terminologi “nusantara” bermakna sebuah bangsa yang hidup di antara
pulau-pulau yang tersebar dari kepulauan Polinesia sampai ujung timur
hingga di wilayah Madagaskar atau Afrika.
Maka menjadi wajar ketika Samudra Pasifik tempo doeloe
dikenal dengan istilah Lautan Teduh. Oleh karena bahasa nusantara
(bahasa Indonesia kini) hakikinya adalah cikal bakal Bahasa Melayu. Ia
dianggap lingua franca bagi perdagangan dan hubungan politik di
nusantara sejak sekitar A.D 1500-an. Selain digunakan di Brunei,
Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), Malaysia (dikenal sebagai bahasa
Malaysia); bahasa nasional Singapura; dan juga menjadi bahasa kerja di
Timor Leste. Bahasa Melayu dituturkan pula di Afrika Selatan, Sri Lanka,
Thailand selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil
Kamboja, hingga Papua Nugini. Bahasa ini juga dituturkan oleh penduduk
Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos, bagian Australia (http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu). Bukankah TEDUH itu kata dalam bahasa Indonesia yang artinya aman, nyaman, atau tentram?
Jujur saja, istilah Lautan Teduh merupakan salah satu circumstance evidence (bukti
keadaan) yang masih tertinggal dalam mengendus kejayaan nusantara dulu,
kendati di era sekarang telah diubah namanya menjadi Samudra Pasifik di
berbagai literatur. Dengan kata lain, bahwa Samudra Pasifik itu
dahulunya disebut Lautan Teduh oleh banyak negara. Pertanyaannya: siapa
memberi nama Lautan Teduh? Logika jawabannya sederhana: Tak lain dan tak
bukan adalah armada laut sebuah bangsa atau negara yang yang saat itu
menguasai lautan seluas sepertiga bumi, atau superpowernya pada era
tersebut.
Disinilah titik mula
julukan Nyai Loro Kidul itu muncul. Sebutan tersebut mengacu kepada
penguasa (Dah Hyang) pantai selatan, atau semacam Angkatan Laut kini. Di
Indonesia semodel Armada Barat atau Armada Timur, dll. Atau seperti
US-Pasific Command (USPASCOM), USAFRICOM-nya Paman Sam, dan lainnya.
Akan tetapi, kala itu di pantai selatan dipimpin oleh NYAI. Nyai itu
sendiri sebutan bagi komandan perempuan yang ahli dalam segala
pertempuran. Dengan demikian, Nyai atau NYI itu istilah “Tenaga Ahli”
militer bagi perempuan, kalau laki-laki namanya RAKYAN. Misalnya Rakyan
Panangkaran, itu sebuah tempat latihan kemiliteran yang lokasinya dahulu
berada di sekitar Yogyakarta (baca: Salah Kaprah Nusantara, www.theglobal-review.com).
Awal
muasal cerita Nyai Loro Kidul ini masuk Era Wangsa Keling. Sebutan tadi
mengacu atau atas jasa dari “dua orang” (Loro/dua) “wanita” (Nyai)
tenaga ahli militer bidang kelautan yang sanggup mengendalikan
armada-armada nusantara tempo doeloe. Dimana semua tamu-tamu
asing diarahkan ke pantai selatan, sekarang disebut Samudra Hindia.
Sedangkan istilah “mistik” itu muncul di permukaan karena mengacu atas
keahlian dua tenaga ahli wanita tadi mengecoh lawan-lawannya, istilahnya
kini trik-trik intelijen. Oleh karena dalam intelijen bahari memang ada
sebutan “datang tiba-tiba dan menghilang seketika”. Tak lain maknanya
adalah, jika datang membawa perniagaan, kebudayaan dan seterusnya,
tetapi kerapkali juga mengocak urusan negara-negara lawan yang hendak
mencobanya.
Maka jelaslah bahwa berkembangnya legenda
mistik di sepanjang pantai selatan sesungguhnya merupakan “PEMBODOHAN
PERADABAN” bagi anak bangsa secara sistematis hingga kini ketika cerita
Nyai Loro Kidul dilarikan dalam bentuk khayalan dan cerita mistik
---dalam bahasa Belanda disebut klenik--- sesuatu yang tidak mungkin.
Sebagaimana
asumsi Juri Lina dan GFI tentang pola pengaburan sejarah dalam setiap
kolonisasi, agaknya kepercayaan klenik tersebut sengaja dihembuskan
kuat-kuat kepada anak cucu bangsa Indonesia agar nenek moyangnya
terstigma sebagai bangsa primitif, tidak beradab, penyembah berhala, dan
lain-lain padahal semenjak zaman dahulu, bangsa kita adalah bangsa yang
kuat, maju dan merupakan penguasa bahari.
Akhirnya
berbasis pada substansi premis di atas, sekali lagi, jangankan cuma
legenda dan mitos, bahkan sejarah pun layak dikritisi, atau dianalisa,
kalau perlu dirobek pada halaman pertama apabila kronologisnya tak masuk
akal, terlebih lagi jika alur cerita merupakan bagian dari tipu muslihat kaum penjajah dulu.
JALESVEVA JAYA MAHE, di laut kita jaya!
Oleh. M. Arief. Pranoto
Jujur saja. Uraian Ghuzilla Humied, Network Associate Global Future Institute (GFI), Jakarta, berjudul PERADABAN NUSANTARA (Sebuah Catatan yang Hilang) di www.theglobal-review.com, selain membikin gundah hati di satu sisi, tetapi di sisi lain malah mengusik naluri keinginan-tahu saya serta hasrat untuk melacak mengapa sejarah nusantara kok bisa hilang, lalu dimana simpul atau titik putusnya?
Selanjutnya menyimak tautan soal “Pentingnya Sejarah” di dinding facebook Dina Y. Sulaeman (1/10/2013), mahasiswa program doktoral bidang Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung, yang juga sebagai Research Associate di GFI, agaknya gundah hati ini sedikit terobati, setidak-tidaknya dapat memaklumi ---walau sedikit--- kenapa sejarah peradaban suatu bangsa bisa hilang, putus atau lenyap?
Selanjutnya menyimak tautan soal “Pentingnya Sejarah” di dinding facebook Dina Y. Sulaeman (1/10/2013), mahasiswa program doktoral bidang Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung, yang juga sebagai Research Associate di GFI, agaknya gundah hati ini sedikit terobati, setidak-tidaknya dapat memaklumi ---walau sedikit--- kenapa sejarah peradaban suatu bangsa bisa hilang, putus atau lenyap?
Kata-kata kunci terputusnya sejarah nusantara ---dugaan sementara penulis---mungkin disebabkan oleh dua faktor. Pertama “kolonisasi”. Kedua “filologi”. Mari kita lanjutkan catatan tak ilmiah ini.
Ya. Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, dan lazimnya memang dari zaman kuno. Pertanyaannya sederhana: mengapa di Iran tidak diajarkan tentang filologi, kenapa bidang studi naskah-naskah lama tidak ditemui pada setiap universitas di Negeri Para Mullah? Jawabannya menarik: hal itu terjadi karena kalangan akademisi Iran tidak pernah mendapatkan kesulitan berarti ketika berhadapan dengan naskah-naskah lama Iran. Artinya, bahasa dan aksara dalam naskah yang berusia seribu tahun pun misalnya, masih dengan mudah dapat dibaca oleh masyarakat terpelajar di zaman sekarang, apapun bidang studi mereka. Luar biasa!
Mengapa Indonesia perlu filologi? Dina menjelaskan, karena naskah-naskah lama nusantara adalah sesuatu yang betul-betul asing, baik bahasa ataupun aksaranya. Jangankan seribu tahun, seratus tahun saja sudah terasa sangat aneh. Tugas filolog adalah menguak isi naskah kuno dalam rangka memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya, untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat zaman sekarang. Inilah perbedaaan mencolok antara Indonesia dan Iran dalam hal pembelajaran bab-bab sejarah bangsanya.
Satu poin penting yang bisa ditarik dari cerita ini: masyarakat Indonesia zaman sekarang sangat teralienasi dari masa lalu. Padahal, yang dimaksud kuno dalam konteks Nusantara tidaklah lama-lama amat. Cukup 100 tahun yang lalu sudah dianggap kuno. Tapi berapa banyak dari kita yang mampu membaca naskah berusia 100 tahun? Di Iran, kitab syair berusia 1000 tahun pun masih bisa dibaca anak-anak muda zaman sekarang.
Dina menduga, keterasingan memang secara sengaja dibuat oleh “kolonial” demi kepentingan keberlanjutan kolonialisme. Keterasingan ini membuat masyarakat Indonesia menjadi bangsa dengan kadar softpower sangat rendah. Mudah diguncang dan diobok-obok, gampang ditakut-takuti, kebersamaannya sangat rapuh, karena tak banyak yang mereka ingat dari masa lalu sebagai SUMBER kebanggaan.
Ketika Arysio Santos dari Brazil mengungkap hasil penelitiannya selama 30 tahun dalam buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization”, ia menampilkan 33 perbandingan seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, cara bertani, dll kemudian ia menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia, ternyata justru di republik ini hampir tak dijumpai geliat para arkeolog dan geologis untuk membuat penelitian lanjutan secara gegap gempita. Entah kenapa. Faktor filologi, atau karena lainnya?
Penjelasan serupa juga dikemukakan penulis Inggris, Prof. Stephen Oppenheimer, dalam buku “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1998). Dia menulis suatu benua yang tenggelam akibat banjir bandang, dan naiknya permukaan air laut sekitar 7.000 hingga 14.000 tahun yang lampau. Wilayah yang tenggelam itu berada di wilayah yang kini disebut sebagai Asia Tenggara.
Ia menyebut benua tenggelam itu sebagai Sundaland. Para penghuni yang selamat saat itu lalu menyebar ke berbagai tempat hingga ke Eropa, membawa budaya dan pola hidup mereka. Itu sebabnya Oppenheimer berasumsi asal-usul ras Euroasia di Eropa bisa ditelusuri di Asia.
Oppenheimer pun yakin bahwa para penghuni Sundaland saat itu punya peradaban maju dari wilayah-wilayah lain. “Mereka sudah mengembangkan pola menyambung hidup, dari sekadar berburu binatang menjadi bertani, berkebun, mencari ikan, bahkan perdagangan melintas laut. Semua itu sudah dilakukan sebelum 5.000 tahun yang lampau,” demikian penggalan asumsi profesor Oxford tersebut.
Sejarah selama ini, hanya mencatat induk peradaban manusia modern berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern justru berasal dari tanah Melayu yang sering disebut Sundaland, atau Indonesia. Buktinya?
“Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia,” kata Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya di Jakarta, Oktober 2010. Tentu, pendapat ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxford itu, memberi paradigma berbeda dari yang ada selama ini bahwa peradaban paling awal berasal dari Barat.
Ada keluhan seorang anak bangsa tentang pengaburan sejarah nusantara ini oleh kaum kolonial: “Begitu seringnya bangsa ini dibodohi. Ketika pada 1920-an Prof. C.C Berg dari Leiden membawa naskah ---hasil editnya---Kidung Sundayana (cerita Perang Bubat) ke Jawa, orang-orang Sunda dan Jawa tanpa kritik tanpa selidik dan langsung mengamini. Maka sejak saat itu, cerita konflik antara Sunda-Jawa diturun-temurunkan dalam nada penuh kebencian. Kita secara tak sadar, masuk perangkap C.C Berg yang tak lain adalah akademisi peliharaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Sejarah memang tak cukup dibaca saja, tapi harus dianalisa, dipikirkan dan dikritisi” (status di Facebook Hendi Jo, 26/9/2013).
Pointers diskusi terbatas di Global Future Institute (GFI), Jakarta (17/1/2013), pimpinan Hendrajit, dengan merujuk beberapa literatur dan artikel sejarah, memang ditemukan tahapan penting dalam sebuah kolonisasi, yaitu “pengaburan atau pembengkokan sejarah di negara-negara koloni”.
Adapun langkah pengaburan sejarah tadi melalui beberapa tahap. Pertama, penghancuran bangunan fisik bangsa terjajah agar generasi baru tidak dapat menyaksikan bukti-bukti kejayaan nenek moyangnya, otomatis selain tak mampu menarik hikmah dan nilai-nilai emas histori, juga tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Kedua, terputusnya hubungan histori dengan leluhur melalui penciptaan stigma dan opini bahwa leluhurnya itu bodoh, tidak beradab, primitif, dan lain-lain. Ketiga, dibuat sejarah baru versi penjajah. Agaknya inilah pola yang berulang hampir di setiap kolonisasi.
Sekali lagi, tampaknya pola kolonisasi dan filologi sebagai faktor penyebab kenapa sejarah sebuah bangsa menjadi kabur, bahkan bisa dibengkokkan oleh kaum kolonial. Tak bisa tidak. Inilah yang terjadi di Indonesia. Akan tetapi setelah membaca ulasan Humied, hati ini berbunga, atau setidak-tidaknya Indonesia telah memiliki “sumber kebanggaan” untuk kembali mengukir dirinya sebagai bangsa yang kuat, besar, maju dan modern sebagaimana nenek moyangnya dahulu.
Inilah uraian sederhana Humied tentang tahap, masa atau era daripada kejayaan para leluhur dulu, dimana hasil penelitian Santos dan Oppenheimer pun menganggap Indonesia adalah nenek moyang bangsa-bangsa di dunia.
Era Wangsa Keling
Ya. Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, dan lazimnya memang dari zaman kuno. Pertanyaannya sederhana: mengapa di Iran tidak diajarkan tentang filologi, kenapa bidang studi naskah-naskah lama tidak ditemui pada setiap universitas di Negeri Para Mullah? Jawabannya menarik: hal itu terjadi karena kalangan akademisi Iran tidak pernah mendapatkan kesulitan berarti ketika berhadapan dengan naskah-naskah lama Iran. Artinya, bahasa dan aksara dalam naskah yang berusia seribu tahun pun misalnya, masih dengan mudah dapat dibaca oleh masyarakat terpelajar di zaman sekarang, apapun bidang studi mereka. Luar biasa!
Mengapa Indonesia perlu filologi? Dina menjelaskan, karena naskah-naskah lama nusantara adalah sesuatu yang betul-betul asing, baik bahasa ataupun aksaranya. Jangankan seribu tahun, seratus tahun saja sudah terasa sangat aneh. Tugas filolog adalah menguak isi naskah kuno dalam rangka memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya, untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat zaman sekarang. Inilah perbedaaan mencolok antara Indonesia dan Iran dalam hal pembelajaran bab-bab sejarah bangsanya.
Satu poin penting yang bisa ditarik dari cerita ini: masyarakat Indonesia zaman sekarang sangat teralienasi dari masa lalu. Padahal, yang dimaksud kuno dalam konteks Nusantara tidaklah lama-lama amat. Cukup 100 tahun yang lalu sudah dianggap kuno. Tapi berapa banyak dari kita yang mampu membaca naskah berusia 100 tahun? Di Iran, kitab syair berusia 1000 tahun pun masih bisa dibaca anak-anak muda zaman sekarang.
Dina menduga, keterasingan memang secara sengaja dibuat oleh “kolonial” demi kepentingan keberlanjutan kolonialisme. Keterasingan ini membuat masyarakat Indonesia menjadi bangsa dengan kadar softpower sangat rendah. Mudah diguncang dan diobok-obok, gampang ditakut-takuti, kebersamaannya sangat rapuh, karena tak banyak yang mereka ingat dari masa lalu sebagai SUMBER kebanggaan.
Ketika Arysio Santos dari Brazil mengungkap hasil penelitiannya selama 30 tahun dalam buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization”, ia menampilkan 33 perbandingan seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, cara bertani, dll kemudian ia menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia, ternyata justru di republik ini hampir tak dijumpai geliat para arkeolog dan geologis untuk membuat penelitian lanjutan secara gegap gempita. Entah kenapa. Faktor filologi, atau karena lainnya?
Penjelasan serupa juga dikemukakan penulis Inggris, Prof. Stephen Oppenheimer, dalam buku “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1998). Dia menulis suatu benua yang tenggelam akibat banjir bandang, dan naiknya permukaan air laut sekitar 7.000 hingga 14.000 tahun yang lampau. Wilayah yang tenggelam itu berada di wilayah yang kini disebut sebagai Asia Tenggara.
Ia menyebut benua tenggelam itu sebagai Sundaland. Para penghuni yang selamat saat itu lalu menyebar ke berbagai tempat hingga ke Eropa, membawa budaya dan pola hidup mereka. Itu sebabnya Oppenheimer berasumsi asal-usul ras Euroasia di Eropa bisa ditelusuri di Asia.
Oppenheimer pun yakin bahwa para penghuni Sundaland saat itu punya peradaban maju dari wilayah-wilayah lain. “Mereka sudah mengembangkan pola menyambung hidup, dari sekadar berburu binatang menjadi bertani, berkebun, mencari ikan, bahkan perdagangan melintas laut. Semua itu sudah dilakukan sebelum 5.000 tahun yang lampau,” demikian penggalan asumsi profesor Oxford tersebut.
Sejarah selama ini, hanya mencatat induk peradaban manusia modern berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern justru berasal dari tanah Melayu yang sering disebut Sundaland, atau Indonesia. Buktinya?
“Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia,” kata Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya di Jakarta, Oktober 2010. Tentu, pendapat ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxford itu, memberi paradigma berbeda dari yang ada selama ini bahwa peradaban paling awal berasal dari Barat.
Ada keluhan seorang anak bangsa tentang pengaburan sejarah nusantara ini oleh kaum kolonial: “Begitu seringnya bangsa ini dibodohi. Ketika pada 1920-an Prof. C.C Berg dari Leiden membawa naskah ---hasil editnya---Kidung Sundayana (cerita Perang Bubat) ke Jawa, orang-orang Sunda dan Jawa tanpa kritik tanpa selidik dan langsung mengamini. Maka sejak saat itu, cerita konflik antara Sunda-Jawa diturun-temurunkan dalam nada penuh kebencian. Kita secara tak sadar, masuk perangkap C.C Berg yang tak lain adalah akademisi peliharaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Sejarah memang tak cukup dibaca saja, tapi harus dianalisa, dipikirkan dan dikritisi” (status di Facebook Hendi Jo, 26/9/2013).
Pointers diskusi terbatas di Global Future Institute (GFI), Jakarta (17/1/2013), pimpinan Hendrajit, dengan merujuk beberapa literatur dan artikel sejarah, memang ditemukan tahapan penting dalam sebuah kolonisasi, yaitu “pengaburan atau pembengkokan sejarah di negara-negara koloni”.
Adapun langkah pengaburan sejarah tadi melalui beberapa tahap. Pertama, penghancuran bangunan fisik bangsa terjajah agar generasi baru tidak dapat menyaksikan bukti-bukti kejayaan nenek moyangnya, otomatis selain tak mampu menarik hikmah dan nilai-nilai emas histori, juga tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Kedua, terputusnya hubungan histori dengan leluhur melalui penciptaan stigma dan opini bahwa leluhurnya itu bodoh, tidak beradab, primitif, dan lain-lain. Ketiga, dibuat sejarah baru versi penjajah. Agaknya inilah pola yang berulang hampir di setiap kolonisasi.
Sekali lagi, tampaknya pola kolonisasi dan filologi sebagai faktor penyebab kenapa sejarah sebuah bangsa menjadi kabur, bahkan bisa dibengkokkan oleh kaum kolonial. Tak bisa tidak. Inilah yang terjadi di Indonesia. Akan tetapi setelah membaca ulasan Humied, hati ini berbunga, atau setidak-tidaknya Indonesia telah memiliki “sumber kebanggaan” untuk kembali mengukir dirinya sebagai bangsa yang kuat, besar, maju dan modern sebagaimana nenek moyangnya dahulu.
Inilah uraian sederhana Humied tentang tahap, masa atau era daripada kejayaan para leluhur dulu, dimana hasil penelitian Santos dan Oppenheimer pun menganggap Indonesia adalah nenek moyang bangsa-bangsa di dunia.
Era Wangsa Keling
Apakah Wangsa Keling itu? Wangsa itu artinya bangsa, sedangkan Keling artinya kuat. Dengan demikian, Wangsa Keling itu maksudnya adalah “bangsa yang kuat”. Konon dahulu, ia mampu menjajah hingga ke Kamboja, Vietnam (Indochina), Thailand, Burma, Srilangka, India hingga ke Madagaskar.
Raja yang terkenal kala itu bernama Sailendra. Tulisan yang digunakan adalah huruf Pallawa, dimana modelnya menyerupai huruf Mesir Kuno (dan Israel). Memang ada kesamaan mencolok antara huruf Pallawa dan Mesir kuno. Sedangkan pusat pemerintahannya terletak di sekitar daerah Yogyakarta sampai ke wilayah Dieng. Maka ketika Israel sendiri menyebut masih keturunan Moria, tidak ada lain maksudnya adalah gunung Muria yang ada di Dieng. Sedangkan Dieng itu sendiri itu artinya penguasa. Dari kata Dieng bergeser namanya menjadi Dah Nyang (Dayang) yang berarti Dah Hyang atau Penguasa.
Konon setelah itu Wangsa Keling ‘menghilang’ beberapa abad, ditengarai munculnya situs Dieng di atas, maupun bangunan Candi Borobudur. Habisnya masa Wangsa Keling ditandai dengan bangunan Baqa’ atau Baqi’ yang artinya kuburan atau berakhir, ditandai dengan berdirinya Candi Boko (Baqo’).
Era Medang Kamulyan
Raja yang terkenal kala itu bernama Sailendra. Tulisan yang digunakan adalah huruf Pallawa, dimana modelnya menyerupai huruf Mesir Kuno (dan Israel). Memang ada kesamaan mencolok antara huruf Pallawa dan Mesir kuno. Sedangkan pusat pemerintahannya terletak di sekitar daerah Yogyakarta sampai ke wilayah Dieng. Maka ketika Israel sendiri menyebut masih keturunan Moria, tidak ada lain maksudnya adalah gunung Muria yang ada di Dieng. Sedangkan Dieng itu sendiri itu artinya penguasa. Dari kata Dieng bergeser namanya menjadi Dah Nyang (Dayang) yang berarti Dah Hyang atau Penguasa.
Konon setelah itu Wangsa Keling ‘menghilang’ beberapa abad, ditengarai munculnya situs Dieng di atas, maupun bangunan Candi Borobudur. Habisnya masa Wangsa Keling ditandai dengan bangunan Baqa’ atau Baqi’ yang artinya kuburan atau berakhir, ditandai dengan berdirinya Candi Boko (Baqo’).
Era Medang Kamulyan
Medang artinya Kemajuan dan Kamulyan artinya Kemuliaan (kejayaan). Bahwa Medang Kamulyan artinya zaman atau era kemajuan, terutama bidang keagamaan. Betapa agama lebih dititikberatkan dalam sistem pendidikan terpadu mulai dari tingkat (lingkup) kecil sampai lingkup besar (kongres). Istilahnya, sekolah pada agama. Atau ajaran agama yang dilembagakan dalam pendidikan? Sudah barang tentu, dahulu belum dikenal sekolah modern sebagaimana era kini.
Rajanya yang terkenal adalah Ratu Boko yang di masa itu merupakan cikal bakal munculnya huruf-huruf SANGSEKERTA (sansekerta) yang kali pertama dikenalkan oleh Aji Saka. Sedangkan Aji Saka itu sendiri merupakan gabungan dari kata Aji dan Saka. Aji artinya sesuatu yang dihormati, dan Saka itu berasal dari bahasa jawa kuno yang artinya tiang/cagak/penyangga. Bila bergeser ke China menjadi TIAN atau Tuhan. Jadi Aji Saka artinya “sesuatu yang dihormati karena Tuhan”, atau segala sesuatunya mengacu pada Tuhannya yang sangat dihormatinya.
Kemudian huruf-huruf tadi akhirnya menjadi BAHASA Sangsekerta. Dengan demikian, sansekerta itu asli (murni) berasal dari bumi Indonesia, bukan berasal dari India. Kenapa demikian, di India tidak ada kata-kata “SANG”. Bahkan jika berbasis kata SANG, justru sebenarnya lebih dekat ke China. Contohnya Chiang Kai Sek, dimana Chiang oleh bangsa China dibaca “Sang”. Tak boleh dipungkiri, “Sang” itu sesungguhnya bahasa asli Indonesia dulu, yakni bahasa Saka.
Huruf-huruf yang dipakai di era Ratu Boko adalah “SANGSEKERTA”. Ya. KERTA itu artinya “empat”, sedangkan SANG asal kata dari wangsa (bangsa). Jadi sansekerta itu maksudnya adalah Empat Bangsa, yang meliputi antara lain:
Pertama, bangsa China meliputi selain China itu sendiri, Vietnam, Laos dan juga Kamboja. Mereka dikenal sebagai bangsa “Chin”. Kedua, Birma hingga Thailand terkenal dengan sebutan bangsa “Thai”. Ketiga, Madagaskar, Srilangka, India dan seterusnya hingga Mesir terkenal dengan sebutan bangsa Afrika. Dan terakhir (keempat), Jawa, Sumatera, Papua sampai kepulauan Polinesia dan Hawai yang dikenal dengan sebutan Bani Jawa.
Dari keterangan diatas maka jelaslah bahwa Sansekerta sangat kuat pengaruhnya di wilayah Srilangka maupun India hingga saat ini. Dari keempat bangsa tersebut, penguasa yang terkenal ialah Ratu Boko. Dan jika keempat unsur bangsa itu digabungkan menjadi satu, maka timbullah istilah NUSANTARA atau Nuswantoro. Ya. Nusa artinya pulau dan Antara artinya jarak. Maka makna NUSANTARA ialah bangsa yang hidup di pulau-pulau yang tersebar mulai dari kepulauan Polinesia di ujung timur hingga wilayah Madagaskar atau Afrika.
Era Kahuripan
Rajanya yang terkenal adalah Ratu Boko yang di masa itu merupakan cikal bakal munculnya huruf-huruf SANGSEKERTA (sansekerta) yang kali pertama dikenalkan oleh Aji Saka. Sedangkan Aji Saka itu sendiri merupakan gabungan dari kata Aji dan Saka. Aji artinya sesuatu yang dihormati, dan Saka itu berasal dari bahasa jawa kuno yang artinya tiang/cagak/penyangga. Bila bergeser ke China menjadi TIAN atau Tuhan. Jadi Aji Saka artinya “sesuatu yang dihormati karena Tuhan”, atau segala sesuatunya mengacu pada Tuhannya yang sangat dihormatinya.
Kemudian huruf-huruf tadi akhirnya menjadi BAHASA Sangsekerta. Dengan demikian, sansekerta itu asli (murni) berasal dari bumi Indonesia, bukan berasal dari India. Kenapa demikian, di India tidak ada kata-kata “SANG”. Bahkan jika berbasis kata SANG, justru sebenarnya lebih dekat ke China. Contohnya Chiang Kai Sek, dimana Chiang oleh bangsa China dibaca “Sang”. Tak boleh dipungkiri, “Sang” itu sesungguhnya bahasa asli Indonesia dulu, yakni bahasa Saka.
Huruf-huruf yang dipakai di era Ratu Boko adalah “SANGSEKERTA”. Ya. KERTA itu artinya “empat”, sedangkan SANG asal kata dari wangsa (bangsa). Jadi sansekerta itu maksudnya adalah Empat Bangsa, yang meliputi antara lain:
Pertama, bangsa China meliputi selain China itu sendiri, Vietnam, Laos dan juga Kamboja. Mereka dikenal sebagai bangsa “Chin”. Kedua, Birma hingga Thailand terkenal dengan sebutan bangsa “Thai”. Ketiga, Madagaskar, Srilangka, India dan seterusnya hingga Mesir terkenal dengan sebutan bangsa Afrika. Dan terakhir (keempat), Jawa, Sumatera, Papua sampai kepulauan Polinesia dan Hawai yang dikenal dengan sebutan Bani Jawa.
Dari keterangan diatas maka jelaslah bahwa Sansekerta sangat kuat pengaruhnya di wilayah Srilangka maupun India hingga saat ini. Dari keempat bangsa tersebut, penguasa yang terkenal ialah Ratu Boko. Dan jika keempat unsur bangsa itu digabungkan menjadi satu, maka timbullah istilah NUSANTARA atau Nuswantoro. Ya. Nusa artinya pulau dan Antara artinya jarak. Maka makna NUSANTARA ialah bangsa yang hidup di pulau-pulau yang tersebar mulai dari kepulauan Polinesia di ujung timur hingga wilayah Madagaskar atau Afrika.
Era Kahuripan
Dari masa Medang Kamulyan lalu berganti ke era Bangsa Kahuripan. Kahuripan itu artinya Kehidupan. Yang ditengarai dengan rajanya yang terkenal yaitu Hayam Wuruk (Brawijaya III) yang juga terkenal dengan sebutan JUMADIL KUBRO sebagaimana makamnya di Troyolo, Trowulan, Mojokerto. Maksud dari kata Jumadil adalah Jum’ah atau juma’at yang artinya berkumpul (bersatu) dan Kubro yang artinya Besar. Jadi Jumadil Kubro makna tersiratnya adalah “berkumpulnya sesuatu yang besar”. Atau istilah Sansekerta disebut SUMPAH PALAPA.
Agaknya dengan Sumpah Palapa, Hayam Wuruk berhasrat membangun kembali kerajaan (nusantara)-nya sebagaimana dulu pernah gemilang di Era Medang Kamulyan. Ia ingin menyatukan Nuswantoro yang telah tercerai berai menjadi beberapa kerajaan atau wilayah kecil. Dan patihnya yang melegenda saat itu adalah Gajah Mada. Hal yang tidak tercatat (dihilangkan?) oleh sejarah modern adalah guratan (ukiran) pada batu “Sumpah Palapa”-nya Gajah Mada ternyata berlafadzkan Laa Ilaha Illallah, artinya Tiada Tuhan kecuali Allah.
Terimakasih
Agaknya dengan Sumpah Palapa, Hayam Wuruk berhasrat membangun kembali kerajaan (nusantara)-nya sebagaimana dulu pernah gemilang di Era Medang Kamulyan. Ia ingin menyatukan Nuswantoro yang telah tercerai berai menjadi beberapa kerajaan atau wilayah kecil. Dan patihnya yang melegenda saat itu adalah Gajah Mada. Hal yang tidak tercatat (dihilangkan?) oleh sejarah modern adalah guratan (ukiran) pada batu “Sumpah Palapa”-nya Gajah Mada ternyata berlafadzkan Laa Ilaha Illallah, artinya Tiada Tuhan kecuali Allah.
Terimakasih









