“Pakar politik itu tak ada beda dengan makelar kambing di hari raya korban”. Tak boleh dielak, inilah sastra (filosofi) leluhur tentang perpolitikan yang tampaknya sudah tidak diindahkan lagi oleh banyak elemen bangsa. Entah kenapa. Apakah tidak pernah didengar oleh generasi penerus, atau salah dalam penafsiran, atau jangan-jangan justru pura-pura tak tahu?
Akan tetapi, di tengah keterpurukan (sistem) bangsa dan negara ini, tampaknya falsafah politis tersebut mulai mencuat kembali di permukaan. Syukurlah. Nah, catatan tak ilmiah ini, mencoba mengurai local wisdom tersebut meski ibarat nyala lilin di kegelapan, karena faktanya memang ditemui kebuntuan teori-teori politik modern (Barat) yang malah membawa republik ini ke ruang ketidakmandirian. Ruang dimaksud berupa status sebagai bangsa pengimpor atas banyak komoditi yang sesungguhnya berlimpah di Bumi Pertiwi. Inilah penafsiran sederhana atas sastra (leluhur) di atas.
Ya. Hari raya itu maksudnya kesenangan sesaat, atau dalam sastra dilantunkan: “raja tanpa bisnis ibarat ketoprak, enaknya cuma semalam”. Jadi entah bentuknya kemenangan, kemegahan, atau kemewahan-kemewahan lain. Maka itulah makna daripada “hari raya” yang sifatnya sejenak. Sekali lagi, kesenangan yang hanya sesaat. Kenapa demikian, oleh sebab esok (pagi) ia mesti turun panggung. Tak dapat dipungkiri, di era demokrasi liberal dan Otonomi Daerah (Otoda) kini tidak sedikit Petruk dadi ratu berujung pidana, akhirnya di penjara. Tanpa bisnis, bahkan memiliki binis pun sang Petruk asyik korupsi. Banyak permisalan aktual. Enaknya cuma semalam, karena paginya digelandang KPK.
Sedang makna makelar ialah demi “perut”-nya sendiri. Artinya jangan berharap mereka berpikir kepentingan masyarakat, boro-boro memikirkan kepentingan nasional, bahkan kelompok yang melambungkan kariernya pun sering ditinggalkan. Maka seringkali ditemui “kutu loncat”, atau istilahnya bunglon politik, dan lain-lain. Kepentingan bangsa dan negara cuma slogan di setiap orasi-orasi demi mendulang suara belaka.
Kemudian makna kambing disini adalah sosok, ataupun obyek sasaran –itupun sasaran antara--- daripada tujuan yang hendak “dicincang atau disembelih”, maka siapapun sosok dimaksud pasti akan dikorbankan, dijadikan tumbal politik, atau terkadang kebalikannya, ia diherokan ke publik sebagai sosok tanpa cacat. Inilah pemimpin masa depan. Propaganda diramu sedemikian rupa terhadap sosok yang dijagokan agar selaras dengan “kerinduan-kerinduan” serta aspirasi warga. Berbasis skenario dalam pencapaian tujuan melalui isue, stigma, pencitraan, promosi, dan lain-lain.
Perlu diingat, sosok disini sejatinya sekedar sasaran antara belaka. Istilahnya wayang. Pintu pembuka saja, karena masih ada dalang, dan pemilik hajatan yang menginginkan model skenario. Apa hendak dikata. Di setiap pagelaran niscaya ada wayang, dalang dan terutama pemilik hajatan di belakang layar. Ia meremot pagelaran dari kejauhan. Inilah mereka ---sang pemilik hajatan--- lazim disebut sebagai kelompok pemodal serta donator kampanye bagi “kambing” yang dicincang (propaganda, citra), atau disembelih (stigma, cap, dll).
Ya. Meski artinya banyak taktik, politik itu penuh rekayasa. Jika diibaratkan seutas tali maka terdapat pola permanen yang lestari yaitu “bundel” di bagian ujungnya. Kata bundel disini memiliki makna, bahwa kepentingan politik itu bermuara pada uang, uang dan uang. Ketika ada anekdot: “tidak ada kawan dan lawan abadi kecuali kepentingan”. Dan kata “kepentingan” disini, tidak lain dan tak bukan ialah uang.
Sebuah permainan politik, sangat berbeda dengan permainan catur yang ketika diserang (skak), pihak lawan akan terpojok lalu mati. Bukan seperti itu mainnya. Oleh karena tidak ada (rumus) mati langkah dalam politik. Bahkan dalam posisi terjepit, ia bisa keluar arena, tetapi bukan menyerah apalagi mengaku kalah. Di luar arena pun tak cuma menonton, mereka dapat memberi “warna” serta mengacaukan irama permainan yang tengah berlangsung. Maka ada istilah “mentor” dalam dunia politik.
Oleh sebab itu, silahkan dicermati kemana republik ini melangkah serta dibawa oleh orang atau golongan yang mengaku sebagai pakar politik. Hendak diantar pada kejayaan bangsa, atau malah digiring ke jurang kehancuran? Era demi era yang telah dilalui oleh republik ini, setidak-tidaknya bisa dijadikan cermin bersama.
Apa boleh buat. Menggerakkan negara dalam rangka meraih tujuannya memang melalui langkah-langkah politik, tetapi membuat negara menjadi kuat, mutlak harus menggunakan piramida politik. Retorikanya adalah: bagaimana piramida politik dan implementasinya agar sesuai pakem kejayaan nusantara dulu?
Kenapa semua terjadi di Bumi Pertiwi, karena kita tidak mau berkaca pada berbagai kejadian baik peristiwa dulu, kini, maupun kedepan. Kental kecenderungan hanya mengutamakan kepentingan sejenak (politik praktis). Kepentingan sejenak? Itulah contoh makna “hari raya” daripada sastra dalam prolog di atas. Hal ini merupakan indikasi, bahwa republik tercinta ini masih kuat dikelola oleh para pakar politik, si makelar kambing di hari raya korban.
Selanjutnya berbicara tentang kaca atau cermin, seyogyianya kita memotret tiga kelompok atau golongan yang kini tampak menggejala. Antara lain:
Pertama: Kelompok Pecundang. Inilah kaum koruptor, kendatipun secara hakiki korupsi di Indonesia itu diciptakan oleh sistem (politik). Persoalan pokok bangsa ini bersemayam di hulu. Kenapa kita tidak berupaya mem-breakdown, lalu mengubah sistem tersebut? Sepertinya segenap tumpah darah Indonesia malah larut dalam hiruk-pikuk yang diakibatkan oleh sistem koruptif tersebut. Banyak elemen bangsa ini memaki “gembira” jika indeks korupsi meroket. Inikah fenomena terseret arus?
Kedua: Golongan Penghianat. Telah banyak disaksikan hasil perbuatan atau ucapan orang-orang plin-plan, mencla-mencle, dll. Pagi kedelai sore tempe. Lalu yang kita rasakan sebuah proses pembodohan secara berkala, dan ‘kedustaan’ (melalui pencitraan) yang nyata di sana-sini. Sudah barang tentu, hasilnya pasti hanya mengenyangkan dan menyenangkan diri, kelompok dan golongan mereka sendiri.
Ketiga: Kelompok Nasionalisme. Inilah kaum atau golongan cinta tanah air yang masih memiliki keyakinan, baik keyakinan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, bahwa kelak Indonesia bakal kembali pada KEJAYAAN NUSANTARA. Right or wrong is my country. Masih adakah jiwa-jiwa semacam itu di republik ini? Masih banyak! Betapa rindu anak bangsa ini pada era keagungan nenek moyang dulu. Benih-benihnya pun mulai terlihat bersemi. Tentunya untuk mengubah dan memberdayakan jiwa-jiwa semacam ini, mutlak harus dengan SISTEM yang dimulai dari HULU, bukan seperti yang sekarang berlangsung, kegelisahan serta perjuangan segenap elemen bangsa yang mulai tercerahkan hanya gaduh di tataran HILIR semata. Sungguh memprihatinkan.
Melalui cermin ketiga golongan tadi, gilirannya dapat dicermati apa yang tengah terjadi, ataupun yang kelak terjadi nanti. Bila merujuk ketiga kelompok di atas, lebih banyak mana golongan yang mendiami Bumi Pertiwi ini, dan termasuk kelompok manakah kita?
Terimakasih
Oleh. M. Djoko Yuwono
Beberapa hari lalu ada perhelatan luar biasa hebat, spektakuler, tapi disambut sepi oleh rakyat, yaitu Kongres Kebangsaan. Ingat, tidak ada huruf t pada kata kebangsaan, ya. Bayangkan, tema besarnya saja adalah bagaimana Indonesia 100 tahun ke depan, alias mereka-reka. Tepatnya ingin merancang sosok negeri luar biasa kaya sumber daya alam tapi justru miskin semangat kebangsaan itu sendiri.
Tema mahabesar ini seharusnya melibatkan sebanyak mungkin komponen bangsa yang sahih untuk membicarakan bagaimana nasib negeri kita dalam tahun 2045, pihak-pihak yang seharusnya mumpuni di bidang masing-masing. Kongres yang seharusnya besar ini justru diselenggarakan oleh “hanya” satu “komponen bangsa” yang kehadirannya penuh cibir di bibir di kalangannya sendiri yaitu Forum Pemimpin Redaksi. Kongres spektakuler ini – dengan tema maharaksasa – diselenggarakan di hotel dan dihadiri para anggota Forum Pemred itu sendiri, yang penuh canda tawa.
Menurut Presiden Republik Indonesia yang terhormat Bapak Jenderal TNI (Purnawirawan) Dr Soesilo Bambang Yudhoyono, yang berpidato penuh semangat, pers adalah pilar keempat untuk mendukung pembangunan dan (mungkin saja) merancang negeri ini 100 tahun mendatang, di samping legislatif, eksekutif dan yudikatif. Amboi, luar biasa betul. Pers melengkapi tiga tiang lain yang sudah keropos dan menanti judul Robohnya Negeri Kami. Pers sendiri kini mengalami krisis identitas akut. Ia telah kehilangan elan perjuangan '45 para pendiri bangsa kita, dan menyerah pada semangat kapitalisme penuh yaitu uang.
Pers yang dulu ditempatkan di posisi luhur kini cuma sekadar unit bisnis biasa, sama seperti warung sembako, warung pecel lele. Padahal, pers ini sejatinya agen perubahan, salah satu motor penggerak peradaban. Jadi, tugasnya memang berat. Oleh karena itu, pers dituntut memiliki standar moral tertinggi karena tuntutan tugasnya itu. Tapi, duh Gusti, tegakah kita menggantungkan nasib kita atau anak cucu kita di tahun 2045 pada institusi yang sekarang justru menderita “sakit parah” dan perlu “pertolongan darurat” seperti itu? Satu institusi yang dituntut untuk netral, tapi malah joged-joged menjadi narasumber sendiri, atas tunggangan kapitalisme, serta ambisi sempit para pemilik untuk menjadi presiden, misalnya. Atau, untuk membela bisnis mereka?
Ruang untuk rakyat di benak pers semakin menyempit saja. Bagaimana Forum Pemimpin Redaksi memformulasikan konsep-konsep “hidup berbangsa dan bernegara” pada 100 tahun Indonesia? Ini pertanyaan orang awam yang berdiri di pinggir jalan, menonton centang-perenang lalu-lintas politik yang semakin lucu sekaligus dungu.
Duh, Gusti. Tiga pilar lainnya sudah amburadul terbaui aroma uang, korupsi, dan ambisi sekadar mengejar hidup enak lalu akan ditambah dengan pilar berikut yang sami mawon alias sama saja? Maka, jangan sampai negeri tercinta ini menjadi terban walaupun ditopang oleh empat “pilar” negeri karena pilar-pilar itu tidak padat, tidak masif, melainkan keropos berongga-rongga. Rapuh.
Apa pendapat seperti ini bisa disebut sebagai pesimistik? Bisa saja. Tapi, yang terpenting adalah satu logika umum bahwa pondasi hendaknya jauh lebih kuat daripada bangunan yang ditopangnya. Usaha memperkuat empat pilar sedang dalam proses, masih jauh dari tujuan jangka panjang dan pendek sekalipun. Maka, memikirkan apa yang terjadi di negeri ini pada tahun 2045 atau 32 tahun lagi sungguh satu kemewahan, atau bisa jadi bisa disebut absurd belaka.
Kapan Membumi ?
Tema mahabesar ini seharusnya melibatkan sebanyak mungkin komponen bangsa yang sahih untuk membicarakan bagaimana nasib negeri kita dalam tahun 2045, pihak-pihak yang seharusnya mumpuni di bidang masing-masing. Kongres yang seharusnya besar ini justru diselenggarakan oleh “hanya” satu “komponen bangsa” yang kehadirannya penuh cibir di bibir di kalangannya sendiri yaitu Forum Pemimpin Redaksi. Kongres spektakuler ini – dengan tema maharaksasa – diselenggarakan di hotel dan dihadiri para anggota Forum Pemred itu sendiri, yang penuh canda tawa.
Menurut Presiden Republik Indonesia yang terhormat Bapak Jenderal TNI (Purnawirawan) Dr Soesilo Bambang Yudhoyono, yang berpidato penuh semangat, pers adalah pilar keempat untuk mendukung pembangunan dan (mungkin saja) merancang negeri ini 100 tahun mendatang, di samping legislatif, eksekutif dan yudikatif. Amboi, luar biasa betul. Pers melengkapi tiga tiang lain yang sudah keropos dan menanti judul Robohnya Negeri Kami. Pers sendiri kini mengalami krisis identitas akut. Ia telah kehilangan elan perjuangan '45 para pendiri bangsa kita, dan menyerah pada semangat kapitalisme penuh yaitu uang.
Pers yang dulu ditempatkan di posisi luhur kini cuma sekadar unit bisnis biasa, sama seperti warung sembako, warung pecel lele. Padahal, pers ini sejatinya agen perubahan, salah satu motor penggerak peradaban. Jadi, tugasnya memang berat. Oleh karena itu, pers dituntut memiliki standar moral tertinggi karena tuntutan tugasnya itu. Tapi, duh Gusti, tegakah kita menggantungkan nasib kita atau anak cucu kita di tahun 2045 pada institusi yang sekarang justru menderita “sakit parah” dan perlu “pertolongan darurat” seperti itu? Satu institusi yang dituntut untuk netral, tapi malah joged-joged menjadi narasumber sendiri, atas tunggangan kapitalisme, serta ambisi sempit para pemilik untuk menjadi presiden, misalnya. Atau, untuk membela bisnis mereka?
Ruang untuk rakyat di benak pers semakin menyempit saja. Bagaimana Forum Pemimpin Redaksi memformulasikan konsep-konsep “hidup berbangsa dan bernegara” pada 100 tahun Indonesia? Ini pertanyaan orang awam yang berdiri di pinggir jalan, menonton centang-perenang lalu-lintas politik yang semakin lucu sekaligus dungu.
Duh, Gusti. Tiga pilar lainnya sudah amburadul terbaui aroma uang, korupsi, dan ambisi sekadar mengejar hidup enak lalu akan ditambah dengan pilar berikut yang sami mawon alias sama saja? Maka, jangan sampai negeri tercinta ini menjadi terban walaupun ditopang oleh empat “pilar” negeri karena pilar-pilar itu tidak padat, tidak masif, melainkan keropos berongga-rongga. Rapuh.
Apa pendapat seperti ini bisa disebut sebagai pesimistik? Bisa saja. Tapi, yang terpenting adalah satu logika umum bahwa pondasi hendaknya jauh lebih kuat daripada bangunan yang ditopangnya. Usaha memperkuat empat pilar sedang dalam proses, masih jauh dari tujuan jangka panjang dan pendek sekalipun. Maka, memikirkan apa yang terjadi di negeri ini pada tahun 2045 atau 32 tahun lagi sungguh satu kemewahan, atau bisa jadi bisa disebut absurd belaka.
Kapan Membumi ?
Kenapa “empat pilar” negeri itu memikirkan tujuan jauh di awang-awang, sedangkan problema aktual negeri tak kurang-kurang untuk diatasi seperti kemiskinan, kesenjangan sosial-ekonomi, pengangguran, kesehatan dan pendidikan? Dan, yang paling aktual adalah melejitnya nilai dolar hingga Rp12.000.
Itu karena mereka gagal mengatasi masalah kekinian. Sebagai kompensasinya, mereka mengarang novel untuk 100 tahun Indonesia merdeka. Pelarian atau escaping yang juga gagal karena dibuat seadanya, terburu-buru nafsu karena (bisa jadi) didorong rasa malu disebabkan oleh pengakuan atas ketidakmampuannya. Maka, muncullah Kongres Kebangsaan (sekali lagi, tidak ada huruf t dalam kata kebangsaan) yang bergaung kecil pun tidak! Duh Gusti, kapan mereka mulai membumi? *
Itu karena mereka gagal mengatasi masalah kekinian. Sebagai kompensasinya, mereka mengarang novel untuk 100 tahun Indonesia merdeka. Pelarian atau escaping yang juga gagal karena dibuat seadanya, terburu-buru nafsu karena (bisa jadi) didorong rasa malu disebabkan oleh pengakuan atas ketidakmampuannya. Maka, muncullah Kongres Kebangsaan (sekali lagi, tidak ada huruf t dalam kata kebangsaan) yang bergaung kecil pun tidak! Duh Gusti, kapan mereka mulai membumi? *
Oleh. M. Arief. Pranoto
Jujur saja. Uraian Ghuzilla Humied, Network Associate Global Future Institute (GFI), Jakarta, berjudul PERADABAN NUSANTARA (Sebuah Catatan yang Hilang) di www.theglobal-review.com, selain membikin gundah hati di satu sisi, tetapi di sisi lain malah mengusik naluri keinginan-tahu saya serta hasrat untuk melacak mengapa sejarah nusantara kok bisa hilang, lalu dimana simpul atau titik putusnya?
Selanjutnya menyimak tautan soal “Pentingnya Sejarah” di dinding facebook Dina Y. Sulaeman (1/10/2013), mahasiswa program doktoral bidang Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung, yang juga sebagai Research Associate di GFI, agaknya gundah hati ini sedikit terobati, setidak-tidaknya dapat memaklumi ---walau sedikit--- kenapa sejarah peradaban suatu bangsa bisa hilang, putus atau lenyap?
Selanjutnya menyimak tautan soal “Pentingnya Sejarah” di dinding facebook Dina Y. Sulaeman (1/10/2013), mahasiswa program doktoral bidang Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung, yang juga sebagai Research Associate di GFI, agaknya gundah hati ini sedikit terobati, setidak-tidaknya dapat memaklumi ---walau sedikit--- kenapa sejarah peradaban suatu bangsa bisa hilang, putus atau lenyap?
Kata-kata kunci terputusnya sejarah nusantara ---dugaan sementara penulis---mungkin disebabkan oleh dua faktor. Pertama “kolonisasi”. Kedua “filologi”. Mari kita lanjutkan catatan tak ilmiah ini.
Ya. Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, dan lazimnya memang dari zaman kuno. Pertanyaannya sederhana: mengapa di Iran tidak diajarkan tentang filologi, kenapa bidang studi naskah-naskah lama tidak ditemui pada setiap universitas di Negeri Para Mullah? Jawabannya menarik: hal itu terjadi karena kalangan akademisi Iran tidak pernah mendapatkan kesulitan berarti ketika berhadapan dengan naskah-naskah lama Iran. Artinya, bahasa dan aksara dalam naskah yang berusia seribu tahun pun misalnya, masih dengan mudah dapat dibaca oleh masyarakat terpelajar di zaman sekarang, apapun bidang studi mereka. Luar biasa!
Mengapa Indonesia perlu filologi? Dina menjelaskan, karena naskah-naskah lama nusantara adalah sesuatu yang betul-betul asing, baik bahasa ataupun aksaranya. Jangankan seribu tahun, seratus tahun saja sudah terasa sangat aneh. Tugas filolog adalah menguak isi naskah kuno dalam rangka memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya, untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat zaman sekarang. Inilah perbedaaan mencolok antara Indonesia dan Iran dalam hal pembelajaran bab-bab sejarah bangsanya.
Satu poin penting yang bisa ditarik dari cerita ini: masyarakat Indonesia zaman sekarang sangat teralienasi dari masa lalu. Padahal, yang dimaksud kuno dalam konteks Nusantara tidaklah lama-lama amat. Cukup 100 tahun yang lalu sudah dianggap kuno. Tapi berapa banyak dari kita yang mampu membaca naskah berusia 100 tahun? Di Iran, kitab syair berusia 1000 tahun pun masih bisa dibaca anak-anak muda zaman sekarang.
Dina menduga, keterasingan memang secara sengaja dibuat oleh “kolonial” demi kepentingan keberlanjutan kolonialisme. Keterasingan ini membuat masyarakat Indonesia menjadi bangsa dengan kadar softpower sangat rendah. Mudah diguncang dan diobok-obok, gampang ditakut-takuti, kebersamaannya sangat rapuh, karena tak banyak yang mereka ingat dari masa lalu sebagai SUMBER kebanggaan.
Ketika Arysio Santos dari Brazil mengungkap hasil penelitiannya selama 30 tahun dalam buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization”, ia menampilkan 33 perbandingan seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, cara bertani, dll kemudian ia menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia, ternyata justru di republik ini hampir tak dijumpai geliat para arkeolog dan geologis untuk membuat penelitian lanjutan secara gegap gempita. Entah kenapa. Faktor filologi, atau karena lainnya?
Penjelasan serupa juga dikemukakan penulis Inggris, Prof. Stephen Oppenheimer, dalam buku “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1998). Dia menulis suatu benua yang tenggelam akibat banjir bandang, dan naiknya permukaan air laut sekitar 7.000 hingga 14.000 tahun yang lampau. Wilayah yang tenggelam itu berada di wilayah yang kini disebut sebagai Asia Tenggara.
Ia menyebut benua tenggelam itu sebagai Sundaland. Para penghuni yang selamat saat itu lalu menyebar ke berbagai tempat hingga ke Eropa, membawa budaya dan pola hidup mereka. Itu sebabnya Oppenheimer berasumsi asal-usul ras Euroasia di Eropa bisa ditelusuri di Asia.
Oppenheimer pun yakin bahwa para penghuni Sundaland saat itu punya peradaban maju dari wilayah-wilayah lain. “Mereka sudah mengembangkan pola menyambung hidup, dari sekadar berburu binatang menjadi bertani, berkebun, mencari ikan, bahkan perdagangan melintas laut. Semua itu sudah dilakukan sebelum 5.000 tahun yang lampau,” demikian penggalan asumsi profesor Oxford tersebut.
Sejarah selama ini, hanya mencatat induk peradaban manusia modern berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern justru berasal dari tanah Melayu yang sering disebut Sundaland, atau Indonesia. Buktinya?
“Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia,” kata Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya di Jakarta, Oktober 2010. Tentu, pendapat ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxford itu, memberi paradigma berbeda dari yang ada selama ini bahwa peradaban paling awal berasal dari Barat.
Ada keluhan seorang anak bangsa tentang pengaburan sejarah nusantara ini oleh kaum kolonial: “Begitu seringnya bangsa ini dibodohi. Ketika pada 1920-an Prof. C.C Berg dari Leiden membawa naskah ---hasil editnya---Kidung Sundayana (cerita Perang Bubat) ke Jawa, orang-orang Sunda dan Jawa tanpa kritik tanpa selidik dan langsung mengamini. Maka sejak saat itu, cerita konflik antara Sunda-Jawa diturun-temurunkan dalam nada penuh kebencian. Kita secara tak sadar, masuk perangkap C.C Berg yang tak lain adalah akademisi peliharaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Sejarah memang tak cukup dibaca saja, tapi harus dianalisa, dipikirkan dan dikritisi” (status di Facebook Hendi Jo, 26/9/2013).
Pointers diskusi terbatas di Global Future Institute (GFI), Jakarta (17/1/2013), pimpinan Hendrajit, dengan merujuk beberapa literatur dan artikel sejarah, memang ditemukan tahapan penting dalam sebuah kolonisasi, yaitu “pengaburan atau pembengkokan sejarah di negara-negara koloni”.
Adapun langkah pengaburan sejarah tadi melalui beberapa tahap. Pertama, penghancuran bangunan fisik bangsa terjajah agar generasi baru tidak dapat menyaksikan bukti-bukti kejayaan nenek moyangnya, otomatis selain tak mampu menarik hikmah dan nilai-nilai emas histori, juga tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Kedua, terputusnya hubungan histori dengan leluhur melalui penciptaan stigma dan opini bahwa leluhurnya itu bodoh, tidak beradab, primitif, dan lain-lain. Ketiga, dibuat sejarah baru versi penjajah. Agaknya inilah pola yang berulang hampir di setiap kolonisasi.
Sekali lagi, tampaknya pola kolonisasi dan filologi sebagai faktor penyebab kenapa sejarah sebuah bangsa menjadi kabur, bahkan bisa dibengkokkan oleh kaum kolonial. Tak bisa tidak. Inilah yang terjadi di Indonesia. Akan tetapi setelah membaca ulasan Humied, hati ini berbunga, atau setidak-tidaknya Indonesia telah memiliki “sumber kebanggaan” untuk kembali mengukir dirinya sebagai bangsa yang kuat, besar, maju dan modern sebagaimana nenek moyangnya dahulu.
Inilah uraian sederhana Humied tentang tahap, masa atau era daripada kejayaan para leluhur dulu, dimana hasil penelitian Santos dan Oppenheimer pun menganggap Indonesia adalah nenek moyang bangsa-bangsa di dunia.
Era Wangsa Keling
Ya. Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, dan lazimnya memang dari zaman kuno. Pertanyaannya sederhana: mengapa di Iran tidak diajarkan tentang filologi, kenapa bidang studi naskah-naskah lama tidak ditemui pada setiap universitas di Negeri Para Mullah? Jawabannya menarik: hal itu terjadi karena kalangan akademisi Iran tidak pernah mendapatkan kesulitan berarti ketika berhadapan dengan naskah-naskah lama Iran. Artinya, bahasa dan aksara dalam naskah yang berusia seribu tahun pun misalnya, masih dengan mudah dapat dibaca oleh masyarakat terpelajar di zaman sekarang, apapun bidang studi mereka. Luar biasa!
Mengapa Indonesia perlu filologi? Dina menjelaskan, karena naskah-naskah lama nusantara adalah sesuatu yang betul-betul asing, baik bahasa ataupun aksaranya. Jangankan seribu tahun, seratus tahun saja sudah terasa sangat aneh. Tugas filolog adalah menguak isi naskah kuno dalam rangka memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya, untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat zaman sekarang. Inilah perbedaaan mencolok antara Indonesia dan Iran dalam hal pembelajaran bab-bab sejarah bangsanya.
Satu poin penting yang bisa ditarik dari cerita ini: masyarakat Indonesia zaman sekarang sangat teralienasi dari masa lalu. Padahal, yang dimaksud kuno dalam konteks Nusantara tidaklah lama-lama amat. Cukup 100 tahun yang lalu sudah dianggap kuno. Tapi berapa banyak dari kita yang mampu membaca naskah berusia 100 tahun? Di Iran, kitab syair berusia 1000 tahun pun masih bisa dibaca anak-anak muda zaman sekarang.
Dina menduga, keterasingan memang secara sengaja dibuat oleh “kolonial” demi kepentingan keberlanjutan kolonialisme. Keterasingan ini membuat masyarakat Indonesia menjadi bangsa dengan kadar softpower sangat rendah. Mudah diguncang dan diobok-obok, gampang ditakut-takuti, kebersamaannya sangat rapuh, karena tak banyak yang mereka ingat dari masa lalu sebagai SUMBER kebanggaan.
Ketika Arysio Santos dari Brazil mengungkap hasil penelitiannya selama 30 tahun dalam buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization”, ia menampilkan 33 perbandingan seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, cara bertani, dll kemudian ia menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia, ternyata justru di republik ini hampir tak dijumpai geliat para arkeolog dan geologis untuk membuat penelitian lanjutan secara gegap gempita. Entah kenapa. Faktor filologi, atau karena lainnya?
Penjelasan serupa juga dikemukakan penulis Inggris, Prof. Stephen Oppenheimer, dalam buku “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1998). Dia menulis suatu benua yang tenggelam akibat banjir bandang, dan naiknya permukaan air laut sekitar 7.000 hingga 14.000 tahun yang lampau. Wilayah yang tenggelam itu berada di wilayah yang kini disebut sebagai Asia Tenggara.
Ia menyebut benua tenggelam itu sebagai Sundaland. Para penghuni yang selamat saat itu lalu menyebar ke berbagai tempat hingga ke Eropa, membawa budaya dan pola hidup mereka. Itu sebabnya Oppenheimer berasumsi asal-usul ras Euroasia di Eropa bisa ditelusuri di Asia.
Oppenheimer pun yakin bahwa para penghuni Sundaland saat itu punya peradaban maju dari wilayah-wilayah lain. “Mereka sudah mengembangkan pola menyambung hidup, dari sekadar berburu binatang menjadi bertani, berkebun, mencari ikan, bahkan perdagangan melintas laut. Semua itu sudah dilakukan sebelum 5.000 tahun yang lampau,” demikian penggalan asumsi profesor Oxford tersebut.
Sejarah selama ini, hanya mencatat induk peradaban manusia modern berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern justru berasal dari tanah Melayu yang sering disebut Sundaland, atau Indonesia. Buktinya?
“Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia,” kata Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya di Jakarta, Oktober 2010. Tentu, pendapat ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxford itu, memberi paradigma berbeda dari yang ada selama ini bahwa peradaban paling awal berasal dari Barat.
Ada keluhan seorang anak bangsa tentang pengaburan sejarah nusantara ini oleh kaum kolonial: “Begitu seringnya bangsa ini dibodohi. Ketika pada 1920-an Prof. C.C Berg dari Leiden membawa naskah ---hasil editnya---Kidung Sundayana (cerita Perang Bubat) ke Jawa, orang-orang Sunda dan Jawa tanpa kritik tanpa selidik dan langsung mengamini. Maka sejak saat itu, cerita konflik antara Sunda-Jawa diturun-temurunkan dalam nada penuh kebencian. Kita secara tak sadar, masuk perangkap C.C Berg yang tak lain adalah akademisi peliharaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Sejarah memang tak cukup dibaca saja, tapi harus dianalisa, dipikirkan dan dikritisi” (status di Facebook Hendi Jo, 26/9/2013).
Pointers diskusi terbatas di Global Future Institute (GFI), Jakarta (17/1/2013), pimpinan Hendrajit, dengan merujuk beberapa literatur dan artikel sejarah, memang ditemukan tahapan penting dalam sebuah kolonisasi, yaitu “pengaburan atau pembengkokan sejarah di negara-negara koloni”.
Adapun langkah pengaburan sejarah tadi melalui beberapa tahap. Pertama, penghancuran bangunan fisik bangsa terjajah agar generasi baru tidak dapat menyaksikan bukti-bukti kejayaan nenek moyangnya, otomatis selain tak mampu menarik hikmah dan nilai-nilai emas histori, juga tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Kedua, terputusnya hubungan histori dengan leluhur melalui penciptaan stigma dan opini bahwa leluhurnya itu bodoh, tidak beradab, primitif, dan lain-lain. Ketiga, dibuat sejarah baru versi penjajah. Agaknya inilah pola yang berulang hampir di setiap kolonisasi.
Sekali lagi, tampaknya pola kolonisasi dan filologi sebagai faktor penyebab kenapa sejarah sebuah bangsa menjadi kabur, bahkan bisa dibengkokkan oleh kaum kolonial. Tak bisa tidak. Inilah yang terjadi di Indonesia. Akan tetapi setelah membaca ulasan Humied, hati ini berbunga, atau setidak-tidaknya Indonesia telah memiliki “sumber kebanggaan” untuk kembali mengukir dirinya sebagai bangsa yang kuat, besar, maju dan modern sebagaimana nenek moyangnya dahulu.
Inilah uraian sederhana Humied tentang tahap, masa atau era daripada kejayaan para leluhur dulu, dimana hasil penelitian Santos dan Oppenheimer pun menganggap Indonesia adalah nenek moyang bangsa-bangsa di dunia.
Era Wangsa Keling
Apakah Wangsa Keling itu? Wangsa itu artinya bangsa, sedangkan Keling artinya kuat. Dengan demikian, Wangsa Keling itu maksudnya adalah “bangsa yang kuat”. Konon dahulu, ia mampu menjajah hingga ke Kamboja, Vietnam (Indochina), Thailand, Burma, Srilangka, India hingga ke Madagaskar.
Raja yang terkenal kala itu bernama Sailendra. Tulisan yang digunakan adalah huruf Pallawa, dimana modelnya menyerupai huruf Mesir Kuno (dan Israel). Memang ada kesamaan mencolok antara huruf Pallawa dan Mesir kuno. Sedangkan pusat pemerintahannya terletak di sekitar daerah Yogyakarta sampai ke wilayah Dieng. Maka ketika Israel sendiri menyebut masih keturunan Moria, tidak ada lain maksudnya adalah gunung Muria yang ada di Dieng. Sedangkan Dieng itu sendiri itu artinya penguasa. Dari kata Dieng bergeser namanya menjadi Dah Nyang (Dayang) yang berarti Dah Hyang atau Penguasa.
Konon setelah itu Wangsa Keling ‘menghilang’ beberapa abad, ditengarai munculnya situs Dieng di atas, maupun bangunan Candi Borobudur. Habisnya masa Wangsa Keling ditandai dengan bangunan Baqa’ atau Baqi’ yang artinya kuburan atau berakhir, ditandai dengan berdirinya Candi Boko (Baqo’).
Era Medang Kamulyan
Raja yang terkenal kala itu bernama Sailendra. Tulisan yang digunakan adalah huruf Pallawa, dimana modelnya menyerupai huruf Mesir Kuno (dan Israel). Memang ada kesamaan mencolok antara huruf Pallawa dan Mesir kuno. Sedangkan pusat pemerintahannya terletak di sekitar daerah Yogyakarta sampai ke wilayah Dieng. Maka ketika Israel sendiri menyebut masih keturunan Moria, tidak ada lain maksudnya adalah gunung Muria yang ada di Dieng. Sedangkan Dieng itu sendiri itu artinya penguasa. Dari kata Dieng bergeser namanya menjadi Dah Nyang (Dayang) yang berarti Dah Hyang atau Penguasa.
Konon setelah itu Wangsa Keling ‘menghilang’ beberapa abad, ditengarai munculnya situs Dieng di atas, maupun bangunan Candi Borobudur. Habisnya masa Wangsa Keling ditandai dengan bangunan Baqa’ atau Baqi’ yang artinya kuburan atau berakhir, ditandai dengan berdirinya Candi Boko (Baqo’).
Era Medang Kamulyan
Medang artinya Kemajuan dan Kamulyan artinya Kemuliaan (kejayaan). Bahwa Medang Kamulyan artinya zaman atau era kemajuan, terutama bidang keagamaan. Betapa agama lebih dititikberatkan dalam sistem pendidikan terpadu mulai dari tingkat (lingkup) kecil sampai lingkup besar (kongres). Istilahnya, sekolah pada agama. Atau ajaran agama yang dilembagakan dalam pendidikan? Sudah barang tentu, dahulu belum dikenal sekolah modern sebagaimana era kini.
Rajanya yang terkenal adalah Ratu Boko yang di masa itu merupakan cikal bakal munculnya huruf-huruf SANGSEKERTA (sansekerta) yang kali pertama dikenalkan oleh Aji Saka. Sedangkan Aji Saka itu sendiri merupakan gabungan dari kata Aji dan Saka. Aji artinya sesuatu yang dihormati, dan Saka itu berasal dari bahasa jawa kuno yang artinya tiang/cagak/penyangga. Bila bergeser ke China menjadi TIAN atau Tuhan. Jadi Aji Saka artinya “sesuatu yang dihormati karena Tuhan”, atau segala sesuatunya mengacu pada Tuhannya yang sangat dihormatinya.
Kemudian huruf-huruf tadi akhirnya menjadi BAHASA Sangsekerta. Dengan demikian, sansekerta itu asli (murni) berasal dari bumi Indonesia, bukan berasal dari India. Kenapa demikian, di India tidak ada kata-kata “SANG”. Bahkan jika berbasis kata SANG, justru sebenarnya lebih dekat ke China. Contohnya Chiang Kai Sek, dimana Chiang oleh bangsa China dibaca “Sang”. Tak boleh dipungkiri, “Sang” itu sesungguhnya bahasa asli Indonesia dulu, yakni bahasa Saka.
Huruf-huruf yang dipakai di era Ratu Boko adalah “SANGSEKERTA”. Ya. KERTA itu artinya “empat”, sedangkan SANG asal kata dari wangsa (bangsa). Jadi sansekerta itu maksudnya adalah Empat Bangsa, yang meliputi antara lain:
Pertama, bangsa China meliputi selain China itu sendiri, Vietnam, Laos dan juga Kamboja. Mereka dikenal sebagai bangsa “Chin”. Kedua, Birma hingga Thailand terkenal dengan sebutan bangsa “Thai”. Ketiga, Madagaskar, Srilangka, India dan seterusnya hingga Mesir terkenal dengan sebutan bangsa Afrika. Dan terakhir (keempat), Jawa, Sumatera, Papua sampai kepulauan Polinesia dan Hawai yang dikenal dengan sebutan Bani Jawa.
Dari keterangan diatas maka jelaslah bahwa Sansekerta sangat kuat pengaruhnya di wilayah Srilangka maupun India hingga saat ini. Dari keempat bangsa tersebut, penguasa yang terkenal ialah Ratu Boko. Dan jika keempat unsur bangsa itu digabungkan menjadi satu, maka timbullah istilah NUSANTARA atau Nuswantoro. Ya. Nusa artinya pulau dan Antara artinya jarak. Maka makna NUSANTARA ialah bangsa yang hidup di pulau-pulau yang tersebar mulai dari kepulauan Polinesia di ujung timur hingga wilayah Madagaskar atau Afrika.
Era Kahuripan
Rajanya yang terkenal adalah Ratu Boko yang di masa itu merupakan cikal bakal munculnya huruf-huruf SANGSEKERTA (sansekerta) yang kali pertama dikenalkan oleh Aji Saka. Sedangkan Aji Saka itu sendiri merupakan gabungan dari kata Aji dan Saka. Aji artinya sesuatu yang dihormati, dan Saka itu berasal dari bahasa jawa kuno yang artinya tiang/cagak/penyangga. Bila bergeser ke China menjadi TIAN atau Tuhan. Jadi Aji Saka artinya “sesuatu yang dihormati karena Tuhan”, atau segala sesuatunya mengacu pada Tuhannya yang sangat dihormatinya.
Kemudian huruf-huruf tadi akhirnya menjadi BAHASA Sangsekerta. Dengan demikian, sansekerta itu asli (murni) berasal dari bumi Indonesia, bukan berasal dari India. Kenapa demikian, di India tidak ada kata-kata “SANG”. Bahkan jika berbasis kata SANG, justru sebenarnya lebih dekat ke China. Contohnya Chiang Kai Sek, dimana Chiang oleh bangsa China dibaca “Sang”. Tak boleh dipungkiri, “Sang” itu sesungguhnya bahasa asli Indonesia dulu, yakni bahasa Saka.
Huruf-huruf yang dipakai di era Ratu Boko adalah “SANGSEKERTA”. Ya. KERTA itu artinya “empat”, sedangkan SANG asal kata dari wangsa (bangsa). Jadi sansekerta itu maksudnya adalah Empat Bangsa, yang meliputi antara lain:
Pertama, bangsa China meliputi selain China itu sendiri, Vietnam, Laos dan juga Kamboja. Mereka dikenal sebagai bangsa “Chin”. Kedua, Birma hingga Thailand terkenal dengan sebutan bangsa “Thai”. Ketiga, Madagaskar, Srilangka, India dan seterusnya hingga Mesir terkenal dengan sebutan bangsa Afrika. Dan terakhir (keempat), Jawa, Sumatera, Papua sampai kepulauan Polinesia dan Hawai yang dikenal dengan sebutan Bani Jawa.
Dari keterangan diatas maka jelaslah bahwa Sansekerta sangat kuat pengaruhnya di wilayah Srilangka maupun India hingga saat ini. Dari keempat bangsa tersebut, penguasa yang terkenal ialah Ratu Boko. Dan jika keempat unsur bangsa itu digabungkan menjadi satu, maka timbullah istilah NUSANTARA atau Nuswantoro. Ya. Nusa artinya pulau dan Antara artinya jarak. Maka makna NUSANTARA ialah bangsa yang hidup di pulau-pulau yang tersebar mulai dari kepulauan Polinesia di ujung timur hingga wilayah Madagaskar atau Afrika.
Era Kahuripan
Dari masa Medang Kamulyan lalu berganti ke era Bangsa Kahuripan. Kahuripan itu artinya Kehidupan. Yang ditengarai dengan rajanya yang terkenal yaitu Hayam Wuruk (Brawijaya III) yang juga terkenal dengan sebutan JUMADIL KUBRO sebagaimana makamnya di Troyolo, Trowulan, Mojokerto. Maksud dari kata Jumadil adalah Jum’ah atau juma’at yang artinya berkumpul (bersatu) dan Kubro yang artinya Besar. Jadi Jumadil Kubro makna tersiratnya adalah “berkumpulnya sesuatu yang besar”. Atau istilah Sansekerta disebut SUMPAH PALAPA.
Agaknya dengan Sumpah Palapa, Hayam Wuruk berhasrat membangun kembali kerajaan (nusantara)-nya sebagaimana dulu pernah gemilang di Era Medang Kamulyan. Ia ingin menyatukan Nuswantoro yang telah tercerai berai menjadi beberapa kerajaan atau wilayah kecil. Dan patihnya yang melegenda saat itu adalah Gajah Mada. Hal yang tidak tercatat (dihilangkan?) oleh sejarah modern adalah guratan (ukiran) pada batu “Sumpah Palapa”-nya Gajah Mada ternyata berlafadzkan Laa Ilaha Illallah, artinya Tiada Tuhan kecuali Allah.
Terimakasih
Agaknya dengan Sumpah Palapa, Hayam Wuruk berhasrat membangun kembali kerajaan (nusantara)-nya sebagaimana dulu pernah gemilang di Era Medang Kamulyan. Ia ingin menyatukan Nuswantoro yang telah tercerai berai menjadi beberapa kerajaan atau wilayah kecil. Dan patihnya yang melegenda saat itu adalah Gajah Mada. Hal yang tidak tercatat (dihilangkan?) oleh sejarah modern adalah guratan (ukiran) pada batu “Sumpah Palapa”-nya Gajah Mada ternyata berlafadzkan Laa Ilaha Illallah, artinya Tiada Tuhan kecuali Allah.
Terimakasih
Oleh. Hamid Ghuzali
Kejayaan suatu Negara atau pribadi dapat diukur dari parameter-parameter PERADABAN (MORAL).
Salam. (Bersambung).
Disini kita tidak membicarakan tentang definisi suatu Negara, tetapi saya mencoba menerangkan sedikit tanpa menggurui dari pihak-pihak yang berkepentingan.
Bilamana ada perbedaan pendapat anggaplah itu suatu kewajaran yang perlu dianalisa tanpa mewaspadai apalagi mencurigai, karena hakekatnya hal-hal yang akan kami terangkan itu demi kebaikan bersama untuk kebangkitan Nusantara ini.
Kejayaan suatu Negara atau pribadi dapat diukur dari parameter-parameter PERADABAN (MORAL).
Adapun pembagiannya yang menyangkut tentang peradaban (pribadi) dari masalah tersebut di atas tolak ukurnya adalah sebagai berikut:
# Tentang SATU KEYAKINAN, baik yang bersifat pribadi maupun bangsa untuk menuju kejayaan nusantara.
Tampaknya tanpa itu sulit rasanya untuk mencapainya seperti ucapannya Bung Karno tempo doeloe “Sa Iyeg Sa Eko Proyo (Holopis Koentoel Baris)”. Masih adakah dinegeri ini jiwa-jiwa semacam itu? Saya berpendapat : “YAKIN” masih banyak yang menghendaki kejayaan seperti itu. Tentunya untuk mengubah jiwa-jiwa seperti ini harus dengan SISTEM. Sistem disini yang dimaksud adalah masing-masing diri (DE atau THE- PART - MEN).
# Menghilangkan RASA TIDAK PERCAYA DIRI baik pada bangsa maupun negaranya. Selama ini yang kita lihat adalah terlalu GADUH dengan berbagai macam wacana baik dimedia cetak maupun elektronik dan cenderung membiarkannya sehingga RANCU-lah dalam kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Hasilnya yaitu ARAH-nya pasti tidak jelas.
# MUNAFIK (Plin-Plan). Banyaklah sudah yang kita lihat dari hasil perbuatan atau ucapan orang-orang yang plin-plan (munafik) yang kita rasakan yaitu PEMBODOHAN BERKALA, KEDUSTAAN yang menjadi-jadi (overload) dan hasilnya adalah HANYA MENYENANGKAN dan MENGENYANGKAN dirinya sendiri.
# PENGEKOR atau KELUAR. Bangsa ini banyak yang merasa MALU dengan bangsanya sendiri, dia mengagumi bangsa-bangsa lain, entah kenapa itu? Yang kita lihat bersama sesungguhnya mereka itu semua adalah PENGEKOR yang SIAP MENERKAM bangsanya sendiri dengan berbagai alasan maupunjustifikasi. Sungguh menyedihkan!!!
Salam. (Bersambung).
Oleh. Hamid Ghuzali
Tahukan anda semua, setiap hari kita selalu disuguhi berita ini, itu dan seterusnya sambung menyambung dari satu cerita ke cerita lainnya sehingga ramailah dunia perpolitikan di negeri kita. Banyak yang tidak sadar dan akhirnya terbawa (terperangkap) arus perpolitikan itu sendiri tanpa harus tahu kemana arahnya.
Tapi tahukah engkau?
Pakar politik itu tak ada bedanya dengan makelar kambing di hari raya korban.
Dengan kata lain bahwa rakyatlah yang senantiasa menjadi korban dan korban.
Hari raya itu ibaratnya kesenangan sesaat, serta makelar artinya demi perut sendiri.
Sedangkan arti kambing adalah si pelaku minta digantung atau dicincang (ada propaganda, issue atau rumor,menjelek-jelekkan, stigma, promosi dan seterusnya).
Poltik berasal dari dua kata.
Poly(poli) artinya banyak, sedangkan tik dari kata taktik.
Jadi politik itu maksudnya banyak taktik (cara) atau aneka rekayasa tetapi ujungnya selalu buntu.
Ibarat seutas tali yang ujungnya bundel, maka hakiki dari tujuan politik adalah semata-mata kepentingan yang bermuara kepada uang, uang dan uang. Bukan yang lain.
Itulah rumus politik. Tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam dunia perpolitikan kecuali kepentingan itu sendiri.
Membaca langkah politik haruslah hati-hati sebab banyak sekali simpulnya. Kalau tidak bisa terjebak dalam carutan benang kusutnya.
Mencermati "lawan dan kawan" lewat kekurangan serta kelebihannya. Termasuk mengontrol langkah yang sedang (kita) dimainkan. Harus waspada melangkah. Tak boleh lengah sedikitpun. Mengapa begitu, karena tidak ada istilah mati langkah dalam berpolitik. Itu harus diingat, permainan politik berbeda sekali dengan main catur yang bila terkena skak (serang) bisa mati langkah.
Dalam politik tak ada rumus mati langkah. Jika posisi terjepit biasanya harus segera keluar arena (tetapi bukannya menyerah). Itulah seninya berpolitik.
Diluar arena pun tak hanya menonton saja,melainkan memberikan "warna" melalui tata cara mengacau dalam permainan yang tengah berlangsung.
Hati-hati dan waspada.
Itu kalimat kunci untuk melangkah.
Hati-hati itu warning kedalam.
Waspada watchout (melihat) keluar.
Mereka saling mainkan trik-trik intelijen. Lalu mencermati setiap gerak dan langkah, kemana arah negeri ini melangkah dibawah orang-orang atau golongan yang mengaku dirinya sebagai pakar ataupun praktisi politik?
Menggerakkan negara memang melalui langkah-langkah politik, tetapi membuat negara menjadi kuat maka mutlak harus menggunakan politik khusus yang tidak ada dalam dunia persilatan.
Demikianlah adanya.
Terima kasih.
Oleh. Hamid Ghuzali
Adalah keniscayaan, tatkala setiap makhluk di alam semesta ini ingin menjadi manusia. Dan suatu kepastian pula bahwa keinginan mulia tersebut semata-mata disebabkan kesempurnaan manusia itu sendiri. Konon bangsa siluman, gondoruwo, wewe gombel, jin bahkan setan alas pun berharap menjadi manusia.
Ia (manusia) itu berakal-budi, berbudaya, beristri cantik, punya mobil bagus, jabatan empuk dan seterusnya, serta juga sering mendapat award politis, gelar akademis atau simbol-simbol lainnya.
Begitu dahsyat dorongan hasrat hati dan keinginan makhluk-makhluk tadi, ketika dilakukan riset oleh seorang ilmuwan dari Barat berbuah hipotesa: "manusia itu berasal (evolusi) dari seekor kera". Itulah Teori Darwin.
Sekian dasawarsa kemudian, muncul fenomena uniq dengan pola kebalikannya. Gejala uniq tersebut boleh diletakkan sebagai anti tesis atau semacam counter atas teori tadi. Akurasi keilmiahannya mungkin agak rendah,atau barangkali setingkat, dan bisa jadi selangkah lebih canggih daripada teori (kera) Darwin.
Kecenderungan kuat manusia kini berkeinginan, berhasrat bahkan berproses menjadi binatang. Luarbiasa. Mau jadi hewan mana saja, jenis binatang apa saja. Tak masalah. Inilah yang disebut Inkarnasi Ideologi. Hampir tiap-tiap diri, keluarga, kelompok, golongan bahkan berbagai komunitas di dunia mencerminkan geliat seperti itu.
Misalnya, ketika free sex dianggap trend dan dinikmati sebagai gaya hidup di berbagai lapisan sosial masyarakat. Lihatlah! Ketika kaum agama, para birokrat, pejabat hingga penjahat dan para penjahitnya menonton kawin cerai sebagai komoditi menarik.
Laksana selebritis kampungan, aurat yang wajib ditutup rapat justru dipamerkan guna meraih popularitas. Demi profesionalisme, maka etika dan tata krama boleh ditanggalkan. Alasan pembenar diri ialah tuntutan profesi. Dampaknya seperti ayam: cucuk sana cucuk sini, crat-crut disini dan disitu. Intinya bingung, berebut beras dengan cara kurang waras!
Banyak yang suka memakan bangkai -- sumber segala penyakit -- daripada santapan segar. Bangkai itu jelas barang haram. Ketika input yang ditelan penyakit, sudah tentu output (perilaku)-nya mirip orang sakit (tak waras). Garbage in garbage out - sampah masuk sampah pula keluar.
Dalam konteks nyata, lelaku menipu, berzina, membuat luka sesama, seperti lumrah-lumrah saja. Bahkan membunuh dan merampok uang negara dianggapnya biasa. Demikianlah ideologi pemakan bangkai.
Contoh inkarnasi babi adalah -- apa saja dimakan -- sampai kotoran-kotoran pun tuntas disikatnya. Tak bersisa. Dalam legenda Tiongkok kuno, kisah siluman babi tidak digambarkan seganas itu, akan tetapi inkarnasinya kenapa menjelma sosok tak berperasaan?
Atau menjelma monyet -- serakah --. Perhatikan tata cara makannya. Belum habis dimulut sudah menelan lagi. Meskipun kedua tangannya menggenggam jajanan, kaki kiri kanan tak mau ketinggalan. Ideologi ini banyak dianut kalangan borjuis atas nama individualis, kapitalis serta entah 'as-is-as-is' apalagi. Barangkali, Sun Gho Khong bakal menangis melihat refleksi jati dirinya.
Ada yang menjadi kuda. Jalannya kencang tapi ditumpangi majikan. Inginnya dilecuti seperti pecundang. Digelari pendekar dari negara seberang, namun dicap pengkhianat oleh bangsanya sendiri. Itu yang kini banyak terjadi. Demi sedikit harta dan takhta, si pecundang rela menjual borok negaranya kepada (majikan) bangsa luar.
Sementara yang menjadi kambing -- pemalas -- kerjanya mengembik (meminta). Polah-tingkahnya monoton dari itu ke itu saja. Inkarnasi ini sering diterapkan sebagian aparat juga rakyatnya. Maunya ongkang-ongkang setiap bulan dapat setoran. Dipelihara baik-baik oleh si Bos, setelah besar disembelih layaknya hewan korban.
Tayangan diatas bila dipotret pada jajaran Kabinet dan DPR 'gotong royong', begitu banyak saksi beragam bukti. Gotong artinya korupsi bersama atau berjamaah. Royong itu bokong sing dioyong-oyong (ma'af : pantat yang dibawa-bawa). Sudah seringkali kejadian dimana-mana. Baik di pusat apalagi daerah. Hasil korupsi berjamaah cuma untuk hura-hura, main narkoba dan"oyong-oyong" pantat wanita. Istilahnya duit setan dimakan jin. Edan.
Akhirnya para wakil rakyat dan pejabat negara cenderung berpola eksklusif kepada partisannya. Menjaga jarak dengan masyarakat pemilih yang seharusnya diayominya. Pada gilirannya 'gotong royong' seperti anjuran dokter: empat sehat lima sempurna. Semua boleh diembat asal bisa mengaturnya. Gila!
Inilah wilayah manakala sekularisasi dibiarkan bebas kian-kemari, sementara tuntunan-Nya hanya boleh bergerak di lorong privacy. Lalu sekularisme mengklaim diri sebagai ajaran modernisasi.
Beginilah teritori ketika hiruk-pikuk demokrasi dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Memperkaya diri. Tak sedikit partai politik dibuat alat guna mengkavling provinsi - menjual ibu pertiwi, bukannya untuk berjuang mencapai kesejahteraan bangsa ini.
Persoalannya: siklus apa bakal terjadi, jikalau inkarnasi ideologi ini mewabah di suatu negeri. Ibarat berpesta di pinggir jurang, sekali gempa bergoyang, berbondong-bondong mati.
Ya, bahasa Qur'annya ibarat orang yang sholatnya ditepian, mudah tergelincir, mudah jatuh.
Jayabaya bilang: kita seperti ditawari "Endang Sulastri".
Endang maksudnya diendang-endeng (dibawa-bawa). Sulastri ialah kebaikan yang abadi. Maka yang dijinjing serta terjadi dimana-mana adalah Multi Level sebagai konsep bermerek globalisasi. Dijajakan menarik hati dengan modus dan format berwarna-warni.
Multi level dianggap berbagai kalangan, mampu membawa kebaikan (abadi) sesungguhnya. Kedoknya atas nama solidaritas dan rasa kebersamaan. Padahal cuma segelintir orang diuntungkan. Ia adalah konsep "abal-abal" penggiring hancur moral, sekaligus kebangkrutan harta benda umatnya.
Manakala dengan bangga kita menerima ideologi ke-gotong royong-an; atau secara gempita menyambut Endang Sulastri. Silahkan prediksi apa yang akan terjadi. Retorikanya: adakah nusantara ini salah urus, atau pertanda negara gatot koco (gagal total kakean cocot)? Atau NATO, No Action Talk Only.
Kakean cocot maksudnya banyak bicara. Maknanya tidak mengerti situasi. Implementasinya sangat marak demontrasi tetapi seringkali ditunggangi. Berjuang sampai mati namun tidak paham substansi. Tanpa disadari reformasi mencabik-cabik negara sendiri. O, betapa riskan kepak sayap'garuda'-ku ini. Terbangnya jauh tinggi, namun kemana arahnya tak pasti.
Itulah cerita inkarnasi ideologi, sebagai renungan di malam sunyi.
Terimakasih.
Ia (manusia) itu berakal-budi, berbudaya, beristri cantik, punya mobil bagus, jabatan empuk dan seterusnya, serta juga sering mendapat award politis, gelar akademis atau simbol-simbol lainnya.
Begitu dahsyat dorongan hasrat hati dan keinginan makhluk-makhluk tadi, ketika dilakukan riset oleh seorang ilmuwan dari Barat berbuah hipotesa: "manusia itu berasal (evolusi) dari seekor kera". Itulah Teori Darwin.
Sekian dasawarsa kemudian, muncul fenomena uniq dengan pola kebalikannya. Gejala uniq tersebut boleh diletakkan sebagai anti tesis atau semacam counter atas teori tadi. Akurasi keilmiahannya mungkin agak rendah,atau barangkali setingkat, dan bisa jadi selangkah lebih canggih daripada teori (kera) Darwin.
Kecenderungan kuat manusia kini berkeinginan, berhasrat bahkan berproses menjadi binatang. Luarbiasa. Mau jadi hewan mana saja, jenis binatang apa saja. Tak masalah. Inilah yang disebut Inkarnasi Ideologi. Hampir tiap-tiap diri, keluarga, kelompok, golongan bahkan berbagai komunitas di dunia mencerminkan geliat seperti itu.
Misalnya, ketika free sex dianggap trend dan dinikmati sebagai gaya hidup di berbagai lapisan sosial masyarakat. Lihatlah! Ketika kaum agama, para birokrat, pejabat hingga penjahat dan para penjahitnya menonton kawin cerai sebagai komoditi menarik.
Laksana selebritis kampungan, aurat yang wajib ditutup rapat justru dipamerkan guna meraih popularitas. Demi profesionalisme, maka etika dan tata krama boleh ditanggalkan. Alasan pembenar diri ialah tuntutan profesi. Dampaknya seperti ayam: cucuk sana cucuk sini, crat-crut disini dan disitu. Intinya bingung, berebut beras dengan cara kurang waras!
Banyak yang suka memakan bangkai -- sumber segala penyakit -- daripada santapan segar. Bangkai itu jelas barang haram. Ketika input yang ditelan penyakit, sudah tentu output (perilaku)-nya mirip orang sakit (tak waras). Garbage in garbage out - sampah masuk sampah pula keluar.
Dalam konteks nyata, lelaku menipu, berzina, membuat luka sesama, seperti lumrah-lumrah saja. Bahkan membunuh dan merampok uang negara dianggapnya biasa. Demikianlah ideologi pemakan bangkai.
Contoh inkarnasi babi adalah -- apa saja dimakan -- sampai kotoran-kotoran pun tuntas disikatnya. Tak bersisa. Dalam legenda Tiongkok kuno, kisah siluman babi tidak digambarkan seganas itu, akan tetapi inkarnasinya kenapa menjelma sosok tak berperasaan?
Atau menjelma monyet -- serakah --. Perhatikan tata cara makannya. Belum habis dimulut sudah menelan lagi. Meskipun kedua tangannya menggenggam jajanan, kaki kiri kanan tak mau ketinggalan. Ideologi ini banyak dianut kalangan borjuis atas nama individualis, kapitalis serta entah 'as-is-as-is' apalagi. Barangkali, Sun Gho Khong bakal menangis melihat refleksi jati dirinya.
Ada yang menjadi kuda. Jalannya kencang tapi ditumpangi majikan. Inginnya dilecuti seperti pecundang. Digelari pendekar dari negara seberang, namun dicap pengkhianat oleh bangsanya sendiri. Itu yang kini banyak terjadi. Demi sedikit harta dan takhta, si pecundang rela menjual borok negaranya kepada (majikan) bangsa luar.
Sementara yang menjadi kambing -- pemalas -- kerjanya mengembik (meminta). Polah-tingkahnya monoton dari itu ke itu saja. Inkarnasi ini sering diterapkan sebagian aparat juga rakyatnya. Maunya ongkang-ongkang setiap bulan dapat setoran. Dipelihara baik-baik oleh si Bos, setelah besar disembelih layaknya hewan korban.
Tayangan diatas bila dipotret pada jajaran Kabinet dan DPR 'gotong royong', begitu banyak saksi beragam bukti. Gotong artinya korupsi bersama atau berjamaah. Royong itu bokong sing dioyong-oyong (ma'af : pantat yang dibawa-bawa). Sudah seringkali kejadian dimana-mana. Baik di pusat apalagi daerah. Hasil korupsi berjamaah cuma untuk hura-hura, main narkoba dan"oyong-oyong" pantat wanita. Istilahnya duit setan dimakan jin. Edan.
Akhirnya para wakil rakyat dan pejabat negara cenderung berpola eksklusif kepada partisannya. Menjaga jarak dengan masyarakat pemilih yang seharusnya diayominya. Pada gilirannya 'gotong royong' seperti anjuran dokter: empat sehat lima sempurna. Semua boleh diembat asal bisa mengaturnya. Gila!
Inilah wilayah manakala sekularisasi dibiarkan bebas kian-kemari, sementara tuntunan-Nya hanya boleh bergerak di lorong privacy. Lalu sekularisme mengklaim diri sebagai ajaran modernisasi.
Beginilah teritori ketika hiruk-pikuk demokrasi dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Memperkaya diri. Tak sedikit partai politik dibuat alat guna mengkavling provinsi - menjual ibu pertiwi, bukannya untuk berjuang mencapai kesejahteraan bangsa ini.
Persoalannya: siklus apa bakal terjadi, jikalau inkarnasi ideologi ini mewabah di suatu negeri. Ibarat berpesta di pinggir jurang, sekali gempa bergoyang, berbondong-bondong mati.
Ya, bahasa Qur'annya ibarat orang yang sholatnya ditepian, mudah tergelincir, mudah jatuh.
Jayabaya bilang: kita seperti ditawari "Endang Sulastri".
Endang maksudnya diendang-endeng (dibawa-bawa). Sulastri ialah kebaikan yang abadi. Maka yang dijinjing serta terjadi dimana-mana adalah Multi Level sebagai konsep bermerek globalisasi. Dijajakan menarik hati dengan modus dan format berwarna-warni.
Multi level dianggap berbagai kalangan, mampu membawa kebaikan (abadi) sesungguhnya. Kedoknya atas nama solidaritas dan rasa kebersamaan. Padahal cuma segelintir orang diuntungkan. Ia adalah konsep "abal-abal" penggiring hancur moral, sekaligus kebangkrutan harta benda umatnya.
Manakala dengan bangga kita menerima ideologi ke-gotong royong-an; atau secara gempita menyambut Endang Sulastri. Silahkan prediksi apa yang akan terjadi. Retorikanya: adakah nusantara ini salah urus, atau pertanda negara gatot koco (gagal total kakean cocot)? Atau NATO, No Action Talk Only.
Kakean cocot maksudnya banyak bicara. Maknanya tidak mengerti situasi. Implementasinya sangat marak demontrasi tetapi seringkali ditunggangi. Berjuang sampai mati namun tidak paham substansi. Tanpa disadari reformasi mencabik-cabik negara sendiri. O, betapa riskan kepak sayap'garuda'-ku ini. Terbangnya jauh tinggi, namun kemana arahnya tak pasti.
Itulah cerita inkarnasi ideologi, sebagai renungan di malam sunyi.
Terimakasih.
Oleh. M. Arief Pranoto
(Melacak Sastra Leluhur: “Sangkan Parane Dumadi” dari Perspektif Spiritual)
Adakah arti, maksud dan makna dari sangkan parane dumadi yang diucapkan oleh leluhur tempo doeloe? Ya, sangkan parane dumadi itu bahasa Jawa, arti dalam bahasa Indonesia ialah “lepasnya ruh dari jasad”. Sedang arti Arabnya: Sakaratul Maut!
Mengurai topik ini relatif panjang, karena sebelum mencapai fase-fase “warna muka” tatkala seseorang menemui sakaratul maut (sangkan parane dumadi), maka alangkah baiknya jika dibahas perihal RASA dan RUH terlebih dahulu. Inilah penjelasan sederhananya.
Masih ingatkah sastra leluhur yang berbunyi: “wong urip iku bakale nemoni mati” (Orang hidup itu akan menemui kematian)? Ini jelas. Ternyata dasarnya adalah perkataan Tuhan: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan” (Al ‘Ankabuut: 57). Boleh ditarik hikmah disini bahwa local wisdom orang-orang tua dahulu kiranya berbasis agama, bukannya mengada-ada atau lahir atas gothak-gathuk kata dan logika semata. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (Al Anbiyaa’: 35).
Kata nemoni di atas, maksudnya adalah perjalanan menuju mati atau kematian. Tuhan berkata: “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur) - (Ar Ruum: 19). Kelanjutan rujukan kata nemoni ialah “Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati (Al Mukminuun: 15).
Sekali lagi, luar biasa! Betapa 'waskita'-nya para leluhur, bahwa setiap kata pun ternyata berbasis atas ayat-Nya, bukan sekedar otak-atik kata serta kalimat belaka. Hampir semua kata per kata memiliki rujukan dan makna.
Lazimnya sakaratul maut atau proses sebelum menjadi mayat ----kelak kita semua bakal menemui---- ada tiga fase, antara lain:
Fase Pertama disebut Turob (turobun) atau lempung (tanah).
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah (turob), kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak” (Ar Ruum: 20). “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” (Al Hijr: 26).
Tahukah kamu sifat-sifat lempung yang dingin lagi berbau tanah? Maka orang yang akan nemoni mati, niscaya badannya dingin sekali, meskipun dalam kenyataan sehari-hari ada pula yang panas seperti tembikar. Inilah rujukannya: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar” (Ar Rahmaan: 14). Dengan demikian, ketika menemui suhu baik dingin maupun panas pada manusia tatkala mengalami sakaratul maut maka sejatinya itu merupakan salah satu tanda-tanda bahwa ia akan kembali (nemoni) kepada Zat Asal.
Fase Kedua adalah kembalinya sifat. Dikandung maksud adalah sifatnya kembali lagi sama sebagaimana penciptaan pertama berupa empat rasa.
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, ……" (Huud: 7). Selanjutnya dijelaskan pada bab Qisosul Anbiyaa’: Maksud enam masa = “6 hari” = 2 hari untuk menciptakan bumi langit, lalu 4 hari untuk menciptakan rasa.
Ya, rasa itu sendiri ada empat meliputi:
1. Syareat.
Syareat itu bahasa Arab, artinya “hukum”. Hukum itu duduknya di lidah. Maksudnya ialah berhentinya segala konsekuensi hukum bagi seseorang. Maka dalam sangkan parane dumadi akan ditandai lidahnya memendek (mengkeret), kecuali kasus kematian sebab gantung diri lidahnya cenderung menjulur dan tidak bergerak. Tidak bergerak diartikan suri atau mati suri.
2. Tarekat.
Seperti di atas, Tarekat itu juga bahasa Arab, arti Indonesianya adalah “jalan”. Maksudnya semua jalan telah tertutup bagi seseorang yang telah berjumpa dengan sakaratul maut yang ditandai dengan mengecilnya telinga. Si Mayat tidak bisa mendengar apapun, yang terdengar hanya bunyi telapak kaki!
“Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang (Ar Ruum: 52).
3. Hakekat.
Hakekat atau hakiki artinya “benar”. Hal ini dikandung maksud bahwa nafas dan detak jantungnya menghilang. Ditandai dengan hidungnya mengecil atau mengkeret (mingkup). Itu merupakan pertanda bahwa ia sudah dekat dengan kematian.
4. Makrifat.
Makrifat artinya “tahu” (mengetahui). Duduknya di mata. Maka dalam sakaratul maut ditandai dengan mata = tahu, mengetahui sesuatu bahwa sudah dekat dengan kematiannya. Entah membelalak, pupilnya mengecil dll.
Fase Ketiga adalah jisim latief. Itu juga bahasa Arab, arti Indonesianya adalah jasad halus. Bahasa Jawanya sukma. Di dalam sukma ada ruh, ruhul kudus (ruh yang suci)/ruh yang pertama atau pemberian pertama dari Tuhan. Sukma berhubungan erat dengan jasad, juga sangat dekat dengan ruh. Ruh itu sangat dekat Allah. Rujukannya adalah:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir” (Az Zumar: 42).
Sebagai contoh penggambaran bahwa sukma sangat dekat dengan jasad (anggota badan), ketika mimpi berkelahi maka jasad pun mengikuti. Contoh lain kedekatan sukma dengan ruh (jiwa) manakala mimpi bertemu dengan ruh-ruh pendahulu, lalu kita memaknai sebagai “petunjuk”, misalnya mimpi gigi rontok, tak lama kemudian ada yang meninggal dan lainnya. Sedangkan contoh ruhul kudus sangat dekat dengan Allah, inilah mimpi yg benar. Dan itupun berulang. Ingat kisah Nabi Ibrahim yang hendak menyembelih Ismail, ia mimpi berulang-ulang dan sama. Juga ketika Nabi Muhammad bermimpi mau menyerang Roma, itu ternyata benar adanya!
Apakah ini yang disebut makrifat (tahu) sejati? Entahlah. Tapi orang-rang Jawa menamai sebagai “waskita”. Maksudnya tahu (mengetahui) duluan sebelum suatu kejadian datang. Hendaklah setiap kamu mengetahui, apa yang harus dikerjakan hari esok!
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Hasyr: 18).
Itulah uraian sekilas lagi sederhana perihal fase-fase warna muka, ruh dan rasa yang seringkali kita abaikan dalam proses nemoni mati, atau sakaratul maut. Masih terkait judul catatan sederhana ini, menguak ujaran leluhur soal sangkan panane dumadi ternyata masih terdapat episode yang tidak kalah menarik dari uraian di atas, yaitu episode tatkala manusia hendak dicabut nyawanya oleh malaikat Izroil.
Setidaknya ada lima pertanyaan dari Izroil sebelum ia mencabut nyawa manusia, antara lain adalah sebagai berikut:
Pertanyaan Pertama. “Hay, ini hari berpisah, siap atau tidak?”. Seandainya seseorang tidak siap menghadapi kematian akan terlihat matanya melotot. Rujukannya adalah: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (QS. Ibrahim: 42);
Pertanyaan Kedua. “Hari ini berpisah antara kawin dan zinah”. Maka kalau sering berzinah mukanya bakal terlihat hitam. Dasarnya jelas, yakni: “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” (Az Zumar: 60).
“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih” (Az Zukhruf: 17).
Pertanyaan Ketiga: “Hay, hari ini perpisahan antara anak dan istri, sudah siapkah?”. Apabila seseorang berat meninggalkan anak istri mukanya akan terlihat biru. Rujukannya juga jelas dan tegas: “(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram (Thaahaa: 102).
Pertanyaan Keempat: “Ini hari perpisahan, siapa yang bisa menolong kamu? Buktikan!”. Dan kalau tidak bisa membuktikan matanya merah. Pijakannya terang dan gamblang: “ .. pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu" (Ali Imron: 106).
Pertanyaan Terakhir (Kelima). “Hay, hari ini hari perpisahan, apakah kamu tahu tempatnya? Modal apa kamu di alam barzah? Amalmu”. Maka jika amalnya kosong Si Fulan bakal menjerit. Sebagaimana bunyi ayat-Nya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun. (Faathir: 37).
Setelah melemparkan kelima pertanyaan di atas, maka Izroil pun mencabut nyawa manusia, maka inilah yang disebut sangkan parane dumadi, atau lepasnya ruh dari jasad. Namanya almarhum. Dan setiap jiwa yang sudah menemui maut, niscaya akan menembus alam kubur. Pertanyaannya, bagaimana kalau kalau dimumi (diawetkan)?
Kubur itu bahasa Arab, arti Indonesianya adalah alam yang luas. Dan pada alam luas disana, ada namanya “alam misal” (perumpamaan). Itu disediakan bagi orang-orang meninggal dunia tetapi sebenarnya belum waktunya. Seperti mati tabrakan, gantung diri, dibunuh dll. Di tempat misal tersebut, mereka masih diberi rezeki sama sebagaimana hidup di dunia dan berjalan-jalan di antara manusia.
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan" (Al An’aam: 122).
Bagi orang-orang yang Jihad (bersemangat) menemui Tuhannya, mereka itu masih dalam keadaan hidup. Akan menembus alam Jabarut (alam yang gagah = kesendirian). Disana juga diberi rejeki.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki” (Ali Imran: 169)
Adapula yang dapat menembus alam malakut (alam cahaya). Apabila anda bisa bersahabat dengan para makluk di alam malakut, maka mereka bisa hadir di dunia sebagai penolong. Contohnya kisah Nabi Ibrohim, Luth, Muhammad, dll. Rujukannya adalah:
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (Al Anfaal: 9);
“Ingatlah, ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" (Ali Imran :124);
“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” (Ali Imran :125).
Mungkin atas permintaan, jadi siapa saja yang mampu menembus alam malakut. Disana tidak ada hijab. Maka manusia akan memiliki kemampuan "luar biasa". Konon bisa segala bahasa, mengerti ilmu apa saja, dan lainnya. Logikanya, malaikat memang tidak menemui kesulitan bahasa jika bertanya kepada orang (saat sakaratul maut) dari berbagai bangsa? Itu salah satu indikasi sederhananya.
Terimakasih.
Masih ingatkah sastra leluhur yang berbunyi: “wong urip iku bakale nemoni mati” (Orang hidup itu akan menemui kematian)? Ini jelas. Ternyata dasarnya adalah perkataan Tuhan: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan” (Al ‘Ankabuut: 57). Boleh ditarik hikmah disini bahwa local wisdom orang-orang tua dahulu kiranya berbasis agama, bukannya mengada-ada atau lahir atas gothak-gathuk kata dan logika semata. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (Al Anbiyaa’: 35).
Kata nemoni di atas, maksudnya adalah perjalanan menuju mati atau kematian. Tuhan berkata: “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur) - (Ar Ruum: 19). Kelanjutan rujukan kata nemoni ialah “Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati (Al Mukminuun: 15).
Sekali lagi, luar biasa! Betapa 'waskita'-nya para leluhur, bahwa setiap kata pun ternyata berbasis atas ayat-Nya, bukan sekedar otak-atik kata serta kalimat belaka. Hampir semua kata per kata memiliki rujukan dan makna.
Lazimnya sakaratul maut atau proses sebelum menjadi mayat ----kelak kita semua bakal menemui---- ada tiga fase, antara lain:
Fase Pertama disebut Turob (turobun) atau lempung (tanah).
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah (turob), kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak” (Ar Ruum: 20). “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” (Al Hijr: 26).
Tahukah kamu sifat-sifat lempung yang dingin lagi berbau tanah? Maka orang yang akan nemoni mati, niscaya badannya dingin sekali, meskipun dalam kenyataan sehari-hari ada pula yang panas seperti tembikar. Inilah rujukannya: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar” (Ar Rahmaan: 14). Dengan demikian, ketika menemui suhu baik dingin maupun panas pada manusia tatkala mengalami sakaratul maut maka sejatinya itu merupakan salah satu tanda-tanda bahwa ia akan kembali (nemoni) kepada Zat Asal.
Fase Kedua adalah kembalinya sifat. Dikandung maksud adalah sifatnya kembali lagi sama sebagaimana penciptaan pertama berupa empat rasa.
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, ……" (Huud: 7). Selanjutnya dijelaskan pada bab Qisosul Anbiyaa’: Maksud enam masa = “6 hari” = 2 hari untuk menciptakan bumi langit, lalu 4 hari untuk menciptakan rasa.
Ya, rasa itu sendiri ada empat meliputi:
1. Syareat.
Syareat itu bahasa Arab, artinya “hukum”. Hukum itu duduknya di lidah. Maksudnya ialah berhentinya segala konsekuensi hukum bagi seseorang. Maka dalam sangkan parane dumadi akan ditandai lidahnya memendek (mengkeret), kecuali kasus kematian sebab gantung diri lidahnya cenderung menjulur dan tidak bergerak. Tidak bergerak diartikan suri atau mati suri.
2. Tarekat.
Seperti di atas, Tarekat itu juga bahasa Arab, arti Indonesianya adalah “jalan”. Maksudnya semua jalan telah tertutup bagi seseorang yang telah berjumpa dengan sakaratul maut yang ditandai dengan mengecilnya telinga. Si Mayat tidak bisa mendengar apapun, yang terdengar hanya bunyi telapak kaki!
“Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang (Ar Ruum: 52).
3. Hakekat.
Hakekat atau hakiki artinya “benar”. Hal ini dikandung maksud bahwa nafas dan detak jantungnya menghilang. Ditandai dengan hidungnya mengecil atau mengkeret (mingkup). Itu merupakan pertanda bahwa ia sudah dekat dengan kematian.
4. Makrifat.
Makrifat artinya “tahu” (mengetahui). Duduknya di mata. Maka dalam sakaratul maut ditandai dengan mata = tahu, mengetahui sesuatu bahwa sudah dekat dengan kematiannya. Entah membelalak, pupilnya mengecil dll.
Fase Ketiga adalah jisim latief. Itu juga bahasa Arab, arti Indonesianya adalah jasad halus. Bahasa Jawanya sukma. Di dalam sukma ada ruh, ruhul kudus (ruh yang suci)/ruh yang pertama atau pemberian pertama dari Tuhan. Sukma berhubungan erat dengan jasad, juga sangat dekat dengan ruh. Ruh itu sangat dekat Allah. Rujukannya adalah:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir” (Az Zumar: 42).
Sebagai contoh penggambaran bahwa sukma sangat dekat dengan jasad (anggota badan), ketika mimpi berkelahi maka jasad pun mengikuti. Contoh lain kedekatan sukma dengan ruh (jiwa) manakala mimpi bertemu dengan ruh-ruh pendahulu, lalu kita memaknai sebagai “petunjuk”, misalnya mimpi gigi rontok, tak lama kemudian ada yang meninggal dan lainnya. Sedangkan contoh ruhul kudus sangat dekat dengan Allah, inilah mimpi yg benar. Dan itupun berulang. Ingat kisah Nabi Ibrahim yang hendak menyembelih Ismail, ia mimpi berulang-ulang dan sama. Juga ketika Nabi Muhammad bermimpi mau menyerang Roma, itu ternyata benar adanya!
Apakah ini yang disebut makrifat (tahu) sejati? Entahlah. Tapi orang-rang Jawa menamai sebagai “waskita”. Maksudnya tahu (mengetahui) duluan sebelum suatu kejadian datang. Hendaklah setiap kamu mengetahui, apa yang harus dikerjakan hari esok!
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Hasyr: 18).
Itulah uraian sekilas lagi sederhana perihal fase-fase warna muka, ruh dan rasa yang seringkali kita abaikan dalam proses nemoni mati, atau sakaratul maut. Masih terkait judul catatan sederhana ini, menguak ujaran leluhur soal sangkan panane dumadi ternyata masih terdapat episode yang tidak kalah menarik dari uraian di atas, yaitu episode tatkala manusia hendak dicabut nyawanya oleh malaikat Izroil.
Setidaknya ada lima pertanyaan dari Izroil sebelum ia mencabut nyawa manusia, antara lain adalah sebagai berikut:
Pertanyaan Pertama. “Hay, ini hari berpisah, siap atau tidak?”. Seandainya seseorang tidak siap menghadapi kematian akan terlihat matanya melotot. Rujukannya adalah: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (QS. Ibrahim: 42);
Pertanyaan Kedua. “Hari ini berpisah antara kawin dan zinah”. Maka kalau sering berzinah mukanya bakal terlihat hitam. Dasarnya jelas, yakni: “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” (Az Zumar: 60).
“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih” (Az Zukhruf: 17).
Pertanyaan Ketiga: “Hay, hari ini perpisahan antara anak dan istri, sudah siapkah?”. Apabila seseorang berat meninggalkan anak istri mukanya akan terlihat biru. Rujukannya juga jelas dan tegas: “(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram (Thaahaa: 102).
Pertanyaan Keempat: “Ini hari perpisahan, siapa yang bisa menolong kamu? Buktikan!”. Dan kalau tidak bisa membuktikan matanya merah. Pijakannya terang dan gamblang: “ .. pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu" (Ali Imron: 106).
Pertanyaan Terakhir (Kelima). “Hay, hari ini hari perpisahan, apakah kamu tahu tempatnya? Modal apa kamu di alam barzah? Amalmu”. Maka jika amalnya kosong Si Fulan bakal menjerit. Sebagaimana bunyi ayat-Nya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun. (Faathir: 37).
Setelah melemparkan kelima pertanyaan di atas, maka Izroil pun mencabut nyawa manusia, maka inilah yang disebut sangkan parane dumadi, atau lepasnya ruh dari jasad. Namanya almarhum. Dan setiap jiwa yang sudah menemui maut, niscaya akan menembus alam kubur. Pertanyaannya, bagaimana kalau kalau dimumi (diawetkan)?
Kubur itu bahasa Arab, arti Indonesianya adalah alam yang luas. Dan pada alam luas disana, ada namanya “alam misal” (perumpamaan). Itu disediakan bagi orang-orang meninggal dunia tetapi sebenarnya belum waktunya. Seperti mati tabrakan, gantung diri, dibunuh dll. Di tempat misal tersebut, mereka masih diberi rezeki sama sebagaimana hidup di dunia dan berjalan-jalan di antara manusia.
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan" (Al An’aam: 122).
Bagi orang-orang yang Jihad (bersemangat) menemui Tuhannya, mereka itu masih dalam keadaan hidup. Akan menembus alam Jabarut (alam yang gagah = kesendirian). Disana juga diberi rejeki.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki” (Ali Imran: 169)
Adapula yang dapat menembus alam malakut (alam cahaya). Apabila anda bisa bersahabat dengan para makluk di alam malakut, maka mereka bisa hadir di dunia sebagai penolong. Contohnya kisah Nabi Ibrohim, Luth, Muhammad, dll. Rujukannya adalah:
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (Al Anfaal: 9);
“Ingatlah, ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" (Ali Imran :124);
“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” (Ali Imran :125).
Mungkin atas permintaan, jadi siapa saja yang mampu menembus alam malakut. Disana tidak ada hijab. Maka manusia akan memiliki kemampuan "luar biasa". Konon bisa segala bahasa, mengerti ilmu apa saja, dan lainnya. Logikanya, malaikat memang tidak menemui kesulitan bahasa jika bertanya kepada orang (saat sakaratul maut) dari berbagai bangsa? Itu salah satu indikasi sederhananya.
Terimakasih.
Oleh. M. Arief Pranoto
Tatkala orang bicara soal cinta dan kebenaran, sesungguhnya ia tengah mencari dan memilih "sesuatu" dalam hidup serta kehidupan. Salah mencari bisa tersesat lalu terjerumus. Was-was memilih menjadi ragu-ragu. Atau terlampau yakin cenderung gegabah bahkan bisa terjebak rasa takabur lagi sombong. Tidak untuk ketiganya. Setiap diri pasti ingin menjadi orang yang benar, benar dan benar.
Adalah keniscayaan bahwa cinta dan kebenaran selalu menarik diperbincangkan, dinyanyikan bahkan dibuat legenda banyak orang bahkan bangsa dimanapun. Oleh karena sejatinya hidup berawal dari cinta dan kehidupan menjadi menarik, indah dan mempesona sebab manusia meyakini akan sebuah kebenaran. Asal jangan merasa benarnya sendiri saja?
Hidup itu sendiri. Hanya kehidupan yang bersama-sama. Hidup ditentukan oleh diri sendiri. Kehidupan dapat ditentukan orang lain dan lingkungan. Setiap hidup berbeda, cuma kehidupan yang bisa dan boleh diseragamkan. Hidup itu manunggal rasa, hanya berbeda rupa berbeda warna/suasana.
Seandainya ia garis, hidup itu vertikal - kehidupan ialah garis horizontal. Pada dimensi bilangan, hidup itu nol maka kehidupan adalah angka-angka sesudahnya. Jikalau cinta itu zat, maka ia tak berwarna dan kebenaran yang memberi warna-warni. Ibarat tubuh, cinta ialah darah yang mengaliri hidup, sedangkan kebenaran adalah kaki penyangga kehidupan.
Tidak ada kehidupan tanpa hidup. Bermanfaat dan mudharatnya hidup karena kehidupan. Tak ada hidup tanpa cinta. Sia-sia kehidupan tanpa kebenaran. Demikian aneka unsur jalin-berjalin antara hidup, cinta, kehidupan dan kebenaran. Pertanyaannya adalah: siapa sejatinya dibalik makna (hakiki) cinta dan kebenaran dalam hidup serta kehidupan ini?
Konon, cinta ialah sesuatu berbentuk pengungkapan, perasaan, pengorbanan, pengertian dan program. Pertanyaan hipotesa adalah: (1) bagaimana dikatakan cinta, sedangkan kamu belum pernah mengungkapkan apa-apa; (2) bagaimana bisa mengatakan bahwa cintamu sungguh suci, sedangkan kamu tak punya perasaan apa-apa; (3) bagaimana disebut cinta, sementara kamu tidak pernah berkorban apa- apa; (4) bagaimana bisa menerima cintanya, sedangkan kamu tidak punya pengertian apa-apa; (5) bagaimana mungkin cintamu disebut tulus dan ikhlas, sedangkan dirimu tidak memiliki program apa-apa?
Lalu kebenaran adalah sesuatu berbentuk penyelidikan, permasalahan, pembahasan, penerapan dan petunjuk. Pertanyaan retorikanya: (1) bagamana mungkin sesuatu dianggap benar, sedangkan hal itu belum diselidiki; (2) bagamana mungkin sesuatu dianggap benar, sedangkan hal itu belum pernah ada masalah sebelumnya; (3) bagaimana mungkin sesuatu dianggap benar, jika sebelumnya tidak pernah dilakukan pembahasan; (4) bagaimana dikatakan benar, sedangkan kamu belum pernah menerapkannya; (5) bagaimana tindakanmu dikatakan benar, sedang langkah yang kamu tempuh tidak sesuai petunjuk?
Itulah cinta dan kebenaran. Tatkala mencarinya wajib melalui tata-hukum yang dijalankan secara benar guna mengetahui “sesuatu”. Atau mengetahui dulu dengan benar ikhwal jalannya hukum tentang sesuatu dimaksud. Jangan dipenggal. Jangan pula diacak atau dibolak-balik, bisa menimbulkan kerancuan, stagnasi, distorsi dan seterusnya. Karena pemaknaan sepotong-sepotong, seringkali ngawur serta cenderung mengada-ada.
Mereguk cinta dan kebenaran dalam hidup serta kehidupan, ternyata membutuhkan persyaratan, tata krama dan kriteria logika. Oleh karena meraih cinta dan kebenaran jalannya ada lagi nyata. Bukan seperti mimpi, ada tetapi tak nyata. Cinta bukanlah soal perasaan belaka, bukan masalah pengungkapan saja, bukan perasaan saja, bukan pula soal pengertian semata. Cinta butuh pengorbanan. Ia butuh program-program nyata.
Demikian pula hal ikhwal kebenaran. Ternyata ia bukan sekedar petunjuk pimpinan, tidak pula fatwa para ulama, atau doktrin-doktrin semata. Kebenaran butuh penyelidikan karena ada masalah sebelumnya. Kebenaran membutuhkan pembahasan. Dan kebenaran butuh penerapan tindakan sebagai bukti untuk meyakinkan bahwa hal itu memang benar adanya.
Menyatakan cinta tanpa ada kriteria dan persyaratan logika adalah gombal belaka. Seperti remaja dimabuk cinta, cuma syahwat yang bicara. Ia akan berlalu ketika mereka terlena dibuai cinta. Menyebut kebenaran tidak dengan tata krama logika adalah dogma. Apakah dogma ialah keyakinan yang diterima tanpa kritik tanpa selidik. Cuma soal waktu saja, lambat laun dogma berubah basi dimana manfaatnya hanya sekedar mitos ataupun stigma. Letaknya dimulut berselimut gengsi dan kebohongan belaka.
Oleh karena itu, janganlah berpindah dari suatu hal kepada hal lain sebelum kamu mengetahui hakikat kebenaran, terutama kebenaran mencinta, dicinta serta kebenaran dalam bercinta. Sesuatu dikatakan benar adalah sesuatu yang bergerak menurut sifat dan tuntutan zaman. Selain daripada itu masih belum dapat dikatakan benar secara mutlaq, karena sesungguhnya kebenaran itu berasal dari Dia, Rabb Yang Maha Kekal.
Adalah keniscayaan bahwa cinta dan kebenaran selalu menarik diperbincangkan, dinyanyikan bahkan dibuat legenda banyak orang bahkan bangsa dimanapun. Oleh karena sejatinya hidup berawal dari cinta dan kehidupan menjadi menarik, indah dan mempesona sebab manusia meyakini akan sebuah kebenaran. Asal jangan merasa benarnya sendiri saja?
Hidup itu sendiri. Hanya kehidupan yang bersama-sama. Hidup ditentukan oleh diri sendiri. Kehidupan dapat ditentukan orang lain dan lingkungan. Setiap hidup berbeda, cuma kehidupan yang bisa dan boleh diseragamkan. Hidup itu manunggal rasa, hanya berbeda rupa berbeda warna/suasana.
Seandainya ia garis, hidup itu vertikal - kehidupan ialah garis horizontal. Pada dimensi bilangan, hidup itu nol maka kehidupan adalah angka-angka sesudahnya. Jikalau cinta itu zat, maka ia tak berwarna dan kebenaran yang memberi warna-warni. Ibarat tubuh, cinta ialah darah yang mengaliri hidup, sedangkan kebenaran adalah kaki penyangga kehidupan.
Tidak ada kehidupan tanpa hidup. Bermanfaat dan mudharatnya hidup karena kehidupan. Tak ada hidup tanpa cinta. Sia-sia kehidupan tanpa kebenaran. Demikian aneka unsur jalin-berjalin antara hidup, cinta, kehidupan dan kebenaran. Pertanyaannya adalah: siapa sejatinya dibalik makna (hakiki) cinta dan kebenaran dalam hidup serta kehidupan ini?
Konon, cinta ialah sesuatu berbentuk pengungkapan, perasaan, pengorbanan, pengertian dan program. Pertanyaan hipotesa adalah: (1) bagaimana dikatakan cinta, sedangkan kamu belum pernah mengungkapkan apa-apa; (2) bagaimana bisa mengatakan bahwa cintamu sungguh suci, sedangkan kamu tak punya perasaan apa-apa; (3) bagaimana disebut cinta, sementara kamu tidak pernah berkorban apa- apa; (4) bagaimana bisa menerima cintanya, sedangkan kamu tidak punya pengertian apa-apa; (5) bagaimana mungkin cintamu disebut tulus dan ikhlas, sedangkan dirimu tidak memiliki program apa-apa?
Lalu kebenaran adalah sesuatu berbentuk penyelidikan, permasalahan, pembahasan, penerapan dan petunjuk. Pertanyaan retorikanya: (1) bagamana mungkin sesuatu dianggap benar, sedangkan hal itu belum diselidiki; (2) bagamana mungkin sesuatu dianggap benar, sedangkan hal itu belum pernah ada masalah sebelumnya; (3) bagaimana mungkin sesuatu dianggap benar, jika sebelumnya tidak pernah dilakukan pembahasan; (4) bagaimana dikatakan benar, sedangkan kamu belum pernah menerapkannya; (5) bagaimana tindakanmu dikatakan benar, sedang langkah yang kamu tempuh tidak sesuai petunjuk?
Itulah cinta dan kebenaran. Tatkala mencarinya wajib melalui tata-hukum yang dijalankan secara benar guna mengetahui “sesuatu”. Atau mengetahui dulu dengan benar ikhwal jalannya hukum tentang sesuatu dimaksud. Jangan dipenggal. Jangan pula diacak atau dibolak-balik, bisa menimbulkan kerancuan, stagnasi, distorsi dan seterusnya. Karena pemaknaan sepotong-sepotong, seringkali ngawur serta cenderung mengada-ada.
Mereguk cinta dan kebenaran dalam hidup serta kehidupan, ternyata membutuhkan persyaratan, tata krama dan kriteria logika. Oleh karena meraih cinta dan kebenaran jalannya ada lagi nyata. Bukan seperti mimpi, ada tetapi tak nyata. Cinta bukanlah soal perasaan belaka, bukan masalah pengungkapan saja, bukan perasaan saja, bukan pula soal pengertian semata. Cinta butuh pengorbanan. Ia butuh program-program nyata.
Demikian pula hal ikhwal kebenaran. Ternyata ia bukan sekedar petunjuk pimpinan, tidak pula fatwa para ulama, atau doktrin-doktrin semata. Kebenaran butuh penyelidikan karena ada masalah sebelumnya. Kebenaran membutuhkan pembahasan. Dan kebenaran butuh penerapan tindakan sebagai bukti untuk meyakinkan bahwa hal itu memang benar adanya.
Menyatakan cinta tanpa ada kriteria dan persyaratan logika adalah gombal belaka. Seperti remaja dimabuk cinta, cuma syahwat yang bicara. Ia akan berlalu ketika mereka terlena dibuai cinta. Menyebut kebenaran tidak dengan tata krama logika adalah dogma. Apakah dogma ialah keyakinan yang diterima tanpa kritik tanpa selidik. Cuma soal waktu saja, lambat laun dogma berubah basi dimana manfaatnya hanya sekedar mitos ataupun stigma. Letaknya dimulut berselimut gengsi dan kebohongan belaka.
Oleh karena itu, janganlah berpindah dari suatu hal kepada hal lain sebelum kamu mengetahui hakikat kebenaran, terutama kebenaran mencinta, dicinta serta kebenaran dalam bercinta. Sesuatu dikatakan benar adalah sesuatu yang bergerak menurut sifat dan tuntutan zaman. Selain daripada itu masih belum dapat dikatakan benar secara mutlaq, karena sesungguhnya kebenaran itu berasal dari Dia, Rabb Yang Maha Kekal.
Tak Membawa Apa-apa dan Bicara Makna
Pemimpin Sejati Bicara Makna
Pemimpin itu tak bicara tetapi berbuat
Mengayun bakti dan juang tanpa terlihat
Sepi ing pamrih, rame ing gawe, semata untuk umat
Tatkala bertutur kata serta berbuat adalah manfaat
Demi keselamatan, keselarasan, dan kesejahteraan rakyat
Pemimpin itu tak membawa apa-apa
Kecuali sedikit dalam genggamannya
Amanah, kepasrahan, dan ketulusan rasa
Bukan pamrih, ujub, tak pula ada riya'Menjauh dari fasik dan bisul wajah dunia
Pemimpin itu pengarung sejati
Melintas sunyi menguak gelap dunia
Menembus sepi mengurai remang hati
Menyelam samudra dzikir tak bertepiMengenal diri kemana bakal kembali
Pemimpin itu sendirian
Cuma berteman kebenaran
Tanpa kebenaran sendirinya tak berguna
Tanpa kebenaran kesendiriannya semu belaka
Bila kesendirian tak sesuai tuntunan dari Tuhannya
Jumpa beragam duga dan prasangka atas nama logika
" .. tulisan ini mengupas tentang hakekat makna. Manakala ia dicermati pada tataran maksud apalagi cuma dari sisi arti saja maka akan jauh api dari panggang - seperti memukul angin, mengena atau tidak ke obyek sasaran, tergantung persepsi belaka .. "
Lagak seorang pemimpin itu tidak membawa apa-apa. Dengan kata lain bahwa ajudan, staf, atau cantrik-cantriknya siap menjinjing keperluan. Itu data permulaan. Kepemimpinan apa pun, di mana pun, siapa pun, dan hingga kapan pun. Hampir sama beda-beda tipis saja.
Dalam dunia militer, misalnya atau sejenisnya --komandan-- ialah figur pimpinan. Di level dan strata mana saja. Demikian dia dipanggil oleh bawahan atau anak buahnya. Tangan komandan tak memegang apa-apa. Kecuali tongkat dalam genggaman. Simbol kedudukan juga kekuasaan (komando). Pemimpin itu dilingkupi banyak kewenangan.
Kewenangan adalah hak untuk berbuat dengan konsekuensi memikul tanggung-jawab. Jangan pimpinan berbuat tetapi anak buah menanggung akibat. Atau ia menjawab sekedar cari selamat (safety player) menghindari sebuah pertanggungan. Kepemimpinan itu tidaklah demikian.
Di dunia non militer pun dijumpai hal yang sama. Ia juga tidak membawa apa-apa. Kecuali sedikit di genggaman. Tak mengejar ujub, pamrih, bukan pula meraih riya.
Sosok pemimpin di mana pun (wajib) terjaga atas fasik - bisulnya dunia. Menjauh diri dari zinah, mencuri, mengadu nasib, syirik, mabuk, sombong, durhaka, menipu, tidak ikhlas, miskin, membunuh sesama iman, memakan harta (anak yatim) bukan haknya, serta menghindari fitnah yakni hasut, dengki, dan sakit hati.
Zinah itu artinya salah tempat. Analoginya dalam kepemimpinan bermakna: tidak proporsional. Seorang pemimpin tak boleh bertindak (zinah) sesuatu di luar porsinya - bukan wewenangnya. Istilahnya abuse of power atau kesewenang-wenangan. Bisa merugikan orang. Atau ia mengerjakan syirik menghamba selain-Nya. Seperti memuja harta, takhta, dan wanita.
Pemimpin itu tidak boleh miskin. Agar terhindar fitnah. Ia harus kaya. Sugih bondo jembar ilmu. Terutama jembar (luas) hati dan wawasannya. Supaya mampu berlaku adil bagi semua sesuai kebutuhan. Jangan seperti Pak Ogah di simpang jalan. Kesempatan diberikan kepada orang cuma karena imbalan. Tidak perduli antrian sudah panjang.
Mutlak yang tidak boleh bagi pemimpin ialah miskin iman. Tatkala jatuh miskin terhadap iman maka inilah titik awal. Ia dapat berubah sombong lagi ingkar. Adigang adigung adiguno. Lalu mengambil-alih wewenang Tuhan. Sesuka-hati membunuh sesama iman (korp).
Pasrahnya pimpinan berefek pada ikhlas pemikiran. Tulus lelaku dalam keseharian. Menghindari angan-angan (mabuk), karena itu perilaku setan. Bertindak sesuai data. Tidak mengada-ada. Punya visi dan prediksi jauh ke depan tetapi bukan bersifat untung-untungan. Sebab, untung-untungan identik berjudi. Mengundi nasib dengan busur di sebuah permainan.
Pemimpin itu cermat jika meramal keadaan. Cemerlang pada pemikiran. Juga tahan terhadap godaan. Menyimpan bara juang tidak pernah padam. Analisanya ibarat sembilu. Tajam sesuai strata yang diemban. Biasanya ia punya kemampuan di luar (domain) kelaziman.
Hal tabu bagi pemimpin yakni mengambil harta bukan haknya. Oleh karena jika termakan anak istri itu laksana menelan bara api - niscaya tumbuh tanduk di atas kepala putra-putri. Siapa hendak diseruduk maka orang tuanya kali pertama.
Sikap hormatnya tak putus-putus terhadap hikmah sebab itu simpul rajutan antara doeloe, kini, dan ke depan. Kalau suatu hari ia bergelimang harta titipan, dilakoni ae (dijalankan saja -red). Itu sekedar dampak hukum alam. Tak usah busung dada. Apalagi sampai lupa daratan.
Pemimpin itu tak membawa apa-apa. Akan tetapi konsekuensi dari kepemimpinan harus membawa "apa-apa" (bekal). Sedangkan makna 'sedikit pada genggaman', itulah yang disebut orang sebagai amanah, ketulusan, serta kepasrahan. Semua itu berasal dari Dia dan kembali kepada-Nya, yaitu Rabb yang Maha Abadi.
Pemimpin Sejati Bicara Makna
Ibarat burung --sosok pemimpin-- siapa pun orangnya, berkicau (bicara) adalah kepastian. Baik melalui lisan maupun tulisan. Begitulah ia bekerja. Beda dengan anak buah. Pemimpin apa saja, kapan saja, di tingkatan dan lini mana saja. Entah saat briefing staf dan anggota, diskusi, atau bargaining sesuatu. Lebih-lebih tatkala mengambil keputusan bagi organisasi dan kelompok. Atau ketika ia berpidato di depan khalayak. Berbicara bagi kepemimpinan adalah keniscayaan.
Bicara pemimpin bukan mengurai maksud. Atau soal arti semata. Tetapi, omongan sarat makna. Bukan berarti ia tidak suka bercanda. Pepatah Jawa "ngono yo ngono ning ojo ngono". Tidak usah banyak bicara. Apalagi memberi statemen terhadap hal di luar kewenangan, bukan level, atau jauh dari koridor tugasnya. Percuma. Tidak berguna.
Ketika seorang pemimpin tidak menjawab tentang sesuatu bukan berarti ia tidak paham jawaban. Atau tidak mengerti persoalan. Banyak alasan mengapa ia membisu. Oleh sebab tidak semua permasalahan dijawab. Tidak semua adegan diberi ulasan. Diamnya pemimpin ialah pilihan sikap yang ditampilkan.
Seperti cericit burung. Sesuatu yang dikicaukan merdu didengar, lembut dirasakan, sejuk laksana angin pegunungan. Nyanyian pemimpin membuat tentram berbagai kalangan. Menimbulkan rasa ayem semua lapisan. Itulah gerak-laku ikhlas menyatu. Antara lisan dan perbuatan (komitmen).
Satu hal yang mutlak dihindari oleh pemimpin adalah sikap "pagi kedelai sore tempe". Tidak boleh mencla-mencle. Satu irama. Bukan beragam nada. Namun, bila ada bisa ke mana-mana, apa boleh buat - silahkan saja. Itu memang sudah warna dunia. Setiap jiwa membawa ukuran berbeda-beda.
Suatu ketika bila amarah tiba. Lihatlah gelombang batu karang, dengarlah pekik gelegar sang halilintar, rasakan dahsyatnya angin puting beliung berputar-putar. Menggetarkan jiwa-jiwa yang terluka. Mengerikan. Itu hanya gambaran.
Seperti sakti rajawali. Ia terbang melintas di ketinggian awan. Tiba-tiba menukik dengan kuku mencengkram. Lalu keras memekik di tengah kegamangan jiwa: haq .. haq .. haq! Mengejutkan! Marah pun ternyata tak sekedar menghambur bara. Namun, menggali lalu mengurai kusut benang keraguan. Meraih yang haq (benar). Bukannya mau menang sendiri. Tidak cuma benarnya sendiri.
Pemimpin berjuang bukan untuk satu dua orang, kelompok, atau golongan. Pikirannya jatuh pada semua kalangan. Bahkan, mengucur peluh dari suwung kesunyian. Sepi ing pamrih rame ing gawe. Kerja tidak mau terlihat namun hasilnya luar biasa. Dinikmati banyak orang. Menjauhi sifat riya. Menjaga jarak dari puja-puji dunia.
Tutur katanya senantiasa bermanfaat. Bukan menimbulkan rasa resah di tengah-tengah rakyat. Tidak sekali memecah-belah umat. Apalagi cuma untuk kepentingan sesaat (politik praktis).
Pemimpin harus menguasai makna masalah. Artinya yang dituju bukan cuma seuntai maksud dari kalimat. Bukan pula penghias kulit sebuah kosa. Bicara pada tataran hakiki - kemudian temukan serta tentukan solusinya. Tidak perlu mengobral kata-kata. Mengurai inti masalah. Memecah pokok persoalan. Kemudian ia berbuat, berbuat, dan berbuat (doing) demi keselarasan, keseimbangan, serta kesejahteraan umat manusia.
Pemimpin itu tak bicara tetapi berbuat
Mengayun bakti dan juang tanpa terlihat
Sepi ing pamrih, rame ing gawe, semata untuk umat
Tatkala bertutur kata serta berbuat adalah manfaat
Demi keselamatan, keselarasan, dan kesejahteraan rakyat
Pemimpin itu tak membawa apa-apa
Kecuali sedikit dalam genggamannya
Amanah, kepasrahan, dan ketulusan rasa
Bukan pamrih, ujub, tak pula ada riya'Menjauh dari fasik dan bisul wajah dunia
Pemimpin itu pengarung sejati
Melintas sunyi menguak gelap dunia
Menembus sepi mengurai remang hati
Menyelam samudra dzikir tak bertepiMengenal diri kemana bakal kembali
Pemimpin itu sendirian
Cuma berteman kebenaran
Tanpa kebenaran sendirinya tak berguna
Tanpa kebenaran kesendiriannya semu belaka
Bila kesendirian tak sesuai tuntunan dari Tuhannya
Jumpa beragam duga dan prasangka atas nama logika
Maka itulah kebenaran tanpa rasa, cuma penafsiran belaka
Pemimpin itu tidak bicara
Juga tidak membawa apa-apa
Seperti rajawali ia terbang tinggi
Mengarungi gelap malam yang sunyi
Sendirian seolah tidak berteman hanya sendiriMengetahui Benar Jalan Hukum nan Kekal Abadi
Oleh. Hamid Ghuzali
Akhirnya ditemaram senja sayup-sayup kudengar lagu hymne guru :
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sbagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa
Referensi :
http://kampus.okezone.com/read/2012/10/19/373/706488/guru-dan-murid-tolak-bahasa-inggris-dihapus
http://utamiutar.com/index.php/tahun-2013-bahasa-inggris-dihapus/
http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/13/11331821/Sekali.Lagi.Ditegaskan.Bahasa.Inggris.SD.Tak.Dihapus
http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/13/jeritan-guru-honorer-403023.html
http://tunas63.wordpress.com/2011/11/05/syarat-peserta-sertifikasi-guru-kuota-2012/
http://2011.web.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=category&id=167&Itemid=312
Suatu hari aku terkesima dan terenyuh saat mengobrol dengan seorang guru honorer
disebuah warung kopi disudut pedesaan. Dia mengeluhkan tentang gaji
bulanannya yang selalu diambilkan dari dana BOS (Bantuan Operasional
Sekolah). Ya gajinya tidak lebih dari 250 ribu rupiah minus potongan
daerah sebesar 50 ribu rupiah.
Yang menarik katanya ketika dana BOS yang setiap bulannya cair itu
“Diotak-atik” guna mencukupi biaya operasional sekolah minus “japrem”
untuk keperluan kepala sekolah dan stafnya, tidak cukup untuk menggaji
guru honorer yang jumlahnya melebihi guru yang sudah PNS disekolah
terserbut. Alih alih mendapatkan gaji, malahan gajinya ditunda hingga
bulan depan yang otomatis “otak-atik” dana BOS makin menggembung juga.
Nasib sang guru bantu inipun juga di-amini oleh rekan seprofesinya yang juga ikutan nimbrung di warung kopi sebelah. Katanya, saya sudah mengajukan semua syarat-syarat untuk diangkat
jadi pegawai negeri pak termasuk juga masuk dalam daftar NUPTK (Nomer
Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) tapi hingga detik ini-pun belum
juga ada kabar beritanya. Boro-boro mengangkat tenaga honorer seperti saya, malahan kepala
sekolah yang seharusnya melindungi dan mengayomi bawahannya justru sibuk
dan asyik dengan memasukkan guru PNS dari tempat lain ke sekolah kami
dimana dia bekerja yang otomatis akan makin mempersempit kemungkinan
saya dan rekan-rekan honorer untuk diangkat menjadi guru PNS.
Kalau dilihat dari jam terbangnya mereka rata-rata lebih dari 5 tahun
mengajar ditempat yang sama dan beberapa tahun ditempat / kota lain
dengan tujuan agar bisa diangkat menjadi seorang PNS ditempat baru
tersebut.
Ada info menarik yang aku tangkap dari pembicaraan mereka berdua
bahwa selama ini mereka ibaratnya sebagai sapi perah yang bisa
dimanfaatkan oleh guru PNS se-enaknya dewe. Mulai dari tugas sebagai
guru pendamping, guru mata pelajaran hingga guru ekstrakurikuler dan
guru les tambahan disekolah (yang otomatis juga gratis, berhubung dana
BOS tidak mencukupi).
Disini seperti ada jurang pemisah antara guru PNS dan honorer,
seperti ada istilah antara tenaga “legal” dan tenaga “Illegal”. Tidak
ada lagi istilah peri kemanusiaan, yang ada hanya eksploitasi mereka
sebagai tenaga utama mendampingi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Tugas guru PNS kebanyakan tak lebih sebatas menerima laporan dari guru
honorer, “mengakui” hasil kerja terbaik dari guru honorer sebagai hasil
karyanya berikut tanda-tangan di berbagai hasil bidang studi yang
kesemuanya merupakan jerih payah dari para guru bantu atau honorer. Memang ada beberapa guru PNS yang “amanah” dan biasa terjun All In dalam kegiatan belajar mengajar tapi jumlah mereka itu dibilang minim dan nyaris tak kelihatan dimuka umum.
Yang menarik saat ini kata mereka adalah terkait status guru SD yang
harus harus sekolah lagi di pendidikan guru sekolah dasar (PGSD),
padahal mereka sudah mengantongi ijasah dari pendidikan sarjana S-1,
semisal bahasa inggris yang bobot dan nilainya justru lebih tinggi
dibandingkan dengan pendidikan PGSD itu sendiri. Ibaratnya seperti turun
peringkat atau derajat.
Disinyalir keputusan untuk sekolah lagi di PGSD seperti di atas
dianggap cacat hukum dan menyalahi hukum perundangan yang berlaku serta
bisa diajukan tuntutan balik dilembaga peradilan melalui lembaga
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke badan yang menanganinya.
Dilain sisi menyentil soal penggunaan UU terbaru tentang penghapusan mata pelajaran bahasa Inggris. Mungkin untuk guru yang sudah sertifikasi dan PNS bisa dialihkan ke
tempat pendidikan yang lain semisal Sekolah Menengah Pertama (SMP) tapi
bagaimana nasibnya dengan guru-guru sukwan atau honorer yang lain,
akankah pemerintah akan membuangnya begitu saja, sedangkan mereka sudah
mengabdi ditempat itu bertahun-tahun lamanya.
Terus manakah yang disebut kesejahteraan guru? Apakah Cuma PNS saja?
Saya pribadi sangat menghormati profesi guru sebagai soko guru yang
melahirkan insan-insan muda yang berkharakter demi kelangsungan dan
martabat bangsa kita didunia internasional. Bahasa Inggris merupakan
salah satunya alat komunikasi yang efektif dalam mengemban tugas
kenegaraan maupun diplomasi orang-orang kita terhadap dunia luar.
Sangatlah naïf jika sekelas menteri, bupati ataupun wakil daerah saja
untuk berbicara bahasa inggris masih putus-putus atau malahan
menggunakan penerjemah. Dan ini merupakan pukulan telak dalam
berdiplomasi.
Menarik untuk dicermatinya serta ditarik benang merah yang selama
ini terjadi terhadap nasib seorang tenaga sukarelawan atau honorer yang
masih terkatung-katung nasibnya diantara makin banyaknya “titipan” guru
PNS yang tidak berbobot dengan kesungguhan guru honorer yang bekerja
membanting tulang dalam melaksanakan tugas mulia sebagai seorang guru.
Kiranya ada peran pemerintah dan semua lapisan masyarakat disini guna
menelusuri benang merah yang selama ini terjadi dan tidak pernah muncul
dipermukaan yang kemungkinan saluran komunikasinya terputus atau
sengaja diputus oleh oknum atau-pun aparat pendidikan guna melanggengkan
korupsi berjama’ah mereka selama ini yang lolos dari jerat hukum akibat
kerjasama tahu sama tahu (TST) diantara mereka dalam berbuat keji dan
kemungkaran ditengah gaung pemerintah dalam melancarkan slogan “Clean
Government” yang bersih dan berwibawa.
Akhirnya ditemaram senja sayup-sayup kudengar lagu hymne guru :
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sbagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa
Referensi :
http://kampus.okezone.com/read/2012/10/19/373/706488/guru-dan-murid-tolak-bahasa-inggris-dihapus
http://utamiutar.com/index.php/tahun-2013-bahasa-inggris-dihapus/
http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/13/11331821/Sekali.Lagi.Ditegaskan.Bahasa.Inggris.SD.Tak.Dihapus
http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/13/jeritan-guru-honorer-403023.html
http://tunas63.wordpress.com/2011/11/05/syarat-peserta-sertifikasi-guru-kuota-2012/
http://2011.web.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=category&id=167&Itemid=312
Oleh. M. Djoko Yuwono
JEBOLNYA rompi antipeluru personel Densus 88 Briptu (Anumerta) Suherman yang ditembak terduga teroris yang dikabarkan “hanya” bersenjatakan pistol, menarik disimak. Paling tidak di warung kopi Ki Sruntul.
“Jarak tembak pistol maksimal 25 meter, itu pun kalau kalibernya cukup besar,” kata Ki Sruntul sok tahu, “pada jarak tembak lima meter agak janggal kalau peluru pistol itu dapat menembus rompi itu. Kalau jarak semeter, itu tergantung kualitas rompi antipelurunya.”
Kata dia, bahan terbaik rompi seperti itu adalah Kevlar, tapi mahal. Ada yang memakai keramik yang lebih murah, tapi berat dan fleksibilitasnya kurang. Kevlar tahan peluru pistol kaliber 9 mm dari jarak dekat kecuali jenis magnum yang memakai isian bahan pendorong lebih banyak seperti halnya Colt magnum buatan AS serta Dessert Eagle kaliber 50 buatan Israel.
Tentunya untuk Densus 88 yang menghadapi risiko tinggi, diperlukan peralatan pelindung berkualitas tertinggi pula. Kasus jebolnya rompi Briptu (Anumerta) Suherman dapat menurunkan moral anggota di lapangan. Ki Sruntul khawatir, spesifikasi rompi itu diturunkan karena mengejar harga murah atau “sebab-sebab lainnya” yang perlu diungkap.
“Wah, ibarat kasus simulator SIM, personel yang mengadakan harus bertanggung jawab tuh,” ujar Jolodong.
“Gimana caranya?” tanya Somad.
“Gampang. Perwira penanggung jawabnya disuruh pakai rompi itu lantas ditembak dari jarak dekat. Kalau tetap tabah, tenang, berarti tak bersalah. Tapi, kalau sebelum ditembak saja sudah terkencing-kencing, pasti ada sesuatu,” jawab Jolodong.
“Memang ada yang begitu?” tanya Somad.
“Eeeee, ada dong,” katanya.
Perwira Sejati
Dulu, begitu cerita Jolodong, ada perwira tinggi bintang dua yang bertanggung jawab terhadap operasi pembebasan sandera di tahun 1980-an. Di depan personel pasukan khusus yang hendak ditugaskan, tanpa ragu-ragu ia mengenakan rompi antipeluru dan disuruh menembak dari jarak dekat. Selamat. Supaya lebih mantap lagi, seorang anggotanya, Pamen Polri yaitu Letkol (Pol) Kunarto, disuruh memakai rompi lainnya yang sejenis dan ditembak pula dari jarak dekat. Tak apa-apa. Pati berbintang dua yang bernyali prajurit sejati itu kelak menjadi pimpinan tertinggi ABRI, sedangkan Pamen Polri yang berani itu menjadi Kapolri.
“Busyet, hebat mereka. Tapi ada lho seorang perwira tinggi yang baru ditembak gambarnya saja sudah ‘nangis-nangis’ di depan publik, curhat di televisi” celetuk Somad.
“Sssstttt, jangan keras-keras!” seru Jolodong. Semua pengunjung warung terbahak-bahak dan terpingkal-pingkal sampai ada yang mengeluarkan air mata.
Menjaga Moral Tinggi
Jolodong menambahkan, keyakinan bahwa peralatan yang berkualitas bagus dan dapat melindungi pemakainya akan meningkatkan semangat tempur atau moral prajurit di lapangan. Mereka tak perlu ragu-ragu lagi. Dia menambahkan, pada detik-detik sebelum berangkat tugas, tim khusus pasukan khusus TNI AD itu dipertunjukkan pula senjata yang akan mereka pakai dan meyakinkan semuanya oke. Hanya satu prajurit yang gugur pada waktu itu, seorang sersan kepala, karena minta rompi yang lebih pendek dengan alasan biar gampagn bergerak. Orang ini bertubuh tinggi. Ternyata, ketika menyerang ke dalam pesawat, teroris menembaknya dari bawah sehingga di tempat lowong itu peluru menembus bagian bawah badannya. Andaikan saja dia tidak minta rompi yang lebih pendek ….
Pertaruhkan Nyawa Prajurit
Satu prinsip, begitu Jolodong berpidato di depan para pengunjung warung kopi (dan ternyata mereka tidak mengantuk sehingga tak perlu ditegur) adalah jangan mempertaruhkan nyawa prajurit di lapangan. Pesonel Densus 88 dididik dan dilatih secara keras dan khusus, sehingga setiap individu sangat bernilai perannya.
Oleh karena itu, lanjutnya, jangan mempermainkan nasib atau nyawa mereka. “Jangan karena pertimbangan-pertimbangan yang tidak masuk akal lantas spesifikasi atau kualitas peralatan mereka diturunkan atau dikurangi, tidak sesuai standar, KW-2. Tak boleh ada tawar-menawar,”serunya sebelum menubruk combro.
“Iya dong, rakyat membayar pajak agar terjamin hidupnya, keamanannya. Juga bantuan-bantuan dari luar negeri harus maksimal dimanfaatkan,” katya Ki Sruntul menyudahi rapat pleno rakyat jelata itu.
(sebuah pesan dari film 9 Naga)
Istriku Ajeng..
Manusia terkuat yang pernah ku kenal..
Terima kasih atas rumah terindah yang telah ku tempati.
Terima kasih untuk memberi maaf, sebelum aku meminta.
Terima kasih untuk bersabar, sampai aku tahu, kalau hal-hal terbaik dalam hidup, tidak memerlukan uang.
Seperti suara mu yang selalu setia, menuntunku, pulang ke hatimu, rumah ku yang terindah…
Suami mu, Marwan..
Istriku Ajeng..
Manusia terkuat yang pernah ku kenal..
Terima kasih atas rumah terindah yang telah ku tempati.
Terima kasih untuk memberi maaf, sebelum aku meminta.
Terima kasih untuk bersabar, sampai aku tahu, kalau hal-hal terbaik dalam hidup, tidak memerlukan uang.
Seperti suara mu yang selalu setia, menuntunku, pulang ke hatimu, rumah ku yang terindah…
Suami mu, Marwan..
(Cinta sepenuhnya saya serahkan kepada Allah SWT)
Eko Pratomo Suyatno, namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.
Eko Pratomo Suyatno, namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.
Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa.
Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.
Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari, saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil'.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata: “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”, sambil air mata si sulung berlinang.
“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.
”Anak-anakku…jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan Created with the Freeware Edition of HelpNDoc : Free Web Help Generator kalian…Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi
Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.
Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno, dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa, disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio yang mayoritas kaum perempuan yang juga tidak sanggup menahan haru.
Disitulah Pak Suyatno bercerita : Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat dia pun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu. Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit. Setiap malam saya bersujud dan menangis, dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya ”BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.
(Sumber : Strawberry)









