Polisi dan jalanan

Oleh. Ghozila Hamid (Polisi dan jalanan, dilematis sebuah HAM)


Masih terngiang kasus bentrokan aparat kepolisian dengan warga yang berwujud turunnya komisi HAM untuk menyelidiki adanya kasus pelanggaran hak asasi untuk warga yang menjadi korban, dan sebaliknya korban dari pihak kepolisian belum ada satupun yang menyinggungnya dari komisi HAM, aneh bin ajaib. Ya itulah jalanan. Sebuah realita potret kehidupan.

Ibarat air dan ikan, itulah perumpamaan tepat bagi interaksi polisi dan jalanan. Tidak ada jalanan tertib tanpa fungsi polisi, mubazir ada polisi jika tidak ada jalanan. Kejahatan diawali, terjadi, bahkan kerapkali terungkap di jalanan. Kuantitas dan kualitas kerja polisi, dapat disorot melalui jalanan.

Dari pagi buta hingga kembali pagi nan gulita. Kerja 24 jam atau lebih, sudah biasa terutama bagi polisi-polisi metropolitan seperti di Surabaya, di Jakarta Raya dan sebagainya. Keberhasilan sekaligus kegagalan tugasnya banyak diwarnai oleh jalanan.

Bagi sesama aparat hukum, sosok pengacara, jaksa dan hakim merupakan penegak hukum gedongan, sedangkan polisi ialah sebuah potret penegak hukum jalanan. Dengan demikian, "semangat jalanan" mutlak harus mengalir di sekujur tubuhnya.

Di jalanan polisi dipuji tetapi sering pula dicaci-maki. Dipuji atasan dicaci masyarakat, atau sebaliknya dipuji warga masyarakat dimaki-maki atasannya. Atau dicaci-maki keduanya. Edan. Tetapi itulah seni kehidupan. Itulah perjuangan, pengorbanan dan sebagainya. Bila kehidupan tanpa berjuang ibarat berjalan di tempat. Nggak maju-maju. Perjuangan tanpa pengorbanan seperti mimpi. Ada tetapi tak nyata. Oleh sebab meraih  surga dan kesenangan bukan seperti orang bermain sulap yang cuma berbekal bim salabim, abrakadabra!

Polisi di jalanan banyak berjumpa kebahagian. Mungkin ketika ia menuntun nenek-nenek dizebra cross. Atau meringkus preman yang meresahkan lingkungan. Tetapi di jalanan polisi sering bercengkrama dengan duka lara. Di saat pagi belum sarapan, ketika mengatur lalu lintas diserempetoleh pengemudi motor yang ngebut, atau dimaki-maki komandan karena menilang kawan akrabnya.

Ketika bercengkrama dengan keluarga, tiba-tiba ada panggilan tugas dan seterusnya. Yah, itulah kodrat namanya. Terdapat siang dan malam. Ada sedih ada pula gembira. Jalan terus. Inilah semangat jalanan. Lakukan proses dengan baik,  jangan melihat hasil. Karena hasil itu milik-Nya.

Jalanan banyak persimpangan, di jalanan ada tikungan, ada jalan tanjakan dan turunan, ada penyempitan jalan, banyak jalan berlubang, tak sedikit "lubang berjalan-jalan". Artinya adalah jalanan muara segala persoalan, bahkan mungkin merupakan residu atau sisa pembuangan semua dimensi kehidupan.

Di pinggir-pinggir jalan ada harapan, namun banyak pula keputus-asaan. Terdapat canda ria di gang-gang sempit, ada sesenggukan di tol atau jalanan arteri. Banyak kepastian-kepastian tetapi tidak sedikit keragu-raguan, prasangka atau menduga-duga. Timbul rasa iba hati, cemas dan takut di jalanan, tetapi bisa muncul rasa keberanian, tega bahkan kenekatan-kenekatan. Inilah jalanan. Itulah hidup-kehidupan. Hampir semua tumpah ruah sepanjang jalan.

Kehadiran polisi di jalan, terkadang memunculkan dualisme serta kontradiksi di tengah masyarakatnya. Ibarat sisi-sisi sekeping mata uang cepek, bertolak belakang namun muncul bersamaan. Ia dirindu sopir yang terjebak kemacetan akibat lampu merah mati, tapi dibenci pak ogah karena mengurangi penghasilan. Di satu sisi, dirindu si ibu yang dompetnya dicopet di terminal, di sisi lain dibenci penjahat yang terpaksa menunda "kerja" karena kehadirannya. Ia dibenci si tukang palak di pasar, namun dirindukan pedagang yang dipalakin. Sosok polisi dibenci sekaligus dirindukan. Ada yang ingin mendekat tetapi banyak pula yang antipati. Begitulah kenyataan. Gak ngurus. Bukan masalah.

Konon cerita, mayoritas masyarakat lebih terkesan terhadap satu peristiwa saat berurusan dan diperas oknum polisi, daripada sewaktu butuh, rindu dan terbantu urusannya. Stigma pun merebak bagaikan epidemi hingga ke alam bawah sadar anak-anak: bahwa wajah polisi menakutkan. Ia merupakan sosok yang wajib dihindari. Bila si anak rewel ibunya berkata, "ssstt diam, awas itu ada polisi!". Luar biasa. Polisi digambar sebagai sosok berkumis, berkaca mata hitam, punya hobi menjebak pelanggar lalu diperas. Sadis. Jasa tidak terhimpun dosa tak berampun.  

Urusan dengan polisi distigma selalu keluar uang, uang dan uang. Wereng coklat, prit jigoadalah julukan polisi tempo doeloe hasil kerja masa lalu. Polisi banyak uang, jadi polisi cepat kaya, polisi suka uang! Begitulah rumor wajah polisi menyebar pada ruas-ruas jalanan. Hanya polisi patung, polisi plastik dan polisi tidur gak doyan uang. Begitulah, semua suka uang. Wong edan doyan uang, apalagi yang waras?

Ketika berjumpa polisi gak neko-neko - tidak ber-uang, dianggap aneh. Ajaib. Itu kecelakaan.Wah, bodoh dia! Idealis dia, padahal urip iku nyoto. Idealis sebatas teori, cuma di awang-awang. Impian pikir, letaknya cuma di bangku-bangku sekolah. Jalanan adalah kenyataan bukan impian. Jalanan salah satu ujud kehidupan. Kalau gak makan ya lapar. Jika gak minum ya haus. Bila capek ya istirahat, namun sekali-kali janganlah tidur kecuali ditidurkan-Nya. Itulah prinsip hidup di jalanan mengalir sepanjang badan kehidupan.

Demikianlah sepintas realita dinamika polisi dan pernik-perniknya di jalanan. Masih banyak pernik lain yang tidak terbahas dalam catatan ini. Di lain waktu saja. Selanjutnya, ketika sang polisi berdiri di jalan atas nama tugas negerinya, disebut pengabdian: bagimu negeri jiwa raga kami. Itulah bhayangkara negara. Tatkala ia berdiri atas nama Tuhan Yang Maha Esa, itulah jihad di jalan-Nya. Maka boleh disebut "Polisi Tuhan". Tergantung niat. Atau ada motivasi lain selain itu. Di jalanan banyak pilihan bagi polisi untuk memilih "warna" pengabdian.

0 komentar

Write Down Your Responses