Pelukan singkat dan sebuah dongeng

Oleh. Iswadi Pratama

Sang, dalam pelukan singkat itu ingin kukaramkan seluruh nelangsa. Bertahun-tahun kubujuk cinta agar tak menginginkan apa-apa. Menyembunyikan hasrat dalam debar jantung, sajak, juga doa. Tapi malam itu aku sudah amat terlunta. Menanggung bisa dari seluruh pesonamu, aku tak kuasa. Jika kau tak berkenan menyembuhkanku kau harus menghabisiku agar tumpah darahku menjadi anggur bagi para pecinta.

Kau rengkuh juga dada lelaki yang canggung dan gemetar itu. Kau biarkan ia merasakan hangat nafasmu dan di keningmu yang jernih rindu pun pupus seperti cahaya lampu. Suka cita tanpa kata-kata. Lalu kitapun jadi tahu bahwa kita tak memiliki apa-apa selain sepasang tangan yang dingin dan gemetar, saling menggenggam seperti hendak mengukuhkan apa yang tak terjelaskan dalam kalimat yang terbatas atau yang tak pernah lengkap diucap.

Kita tak pernah tuntas habis dalam cinta. Kita selalu bersisa dan karena itu pula terluka.

Sang, barangkali esok kita harus memulai lagi, membujuk cinta agar tak meminta apa-apa menjadi fakir belaka.

Aku sering membayangkan cinta kita serupa bocah yang lunak jika dirayu, diam di pangkuan, membiarkan nalar menakuti atau mendongengkan hutan larangan yang penuh marabahaya. Tapi setelah sang nalar lelah, bocah itu akan berontak dan berlari memburu kekasih. Karena ia memang tak pernah letih.

Tidak sang, ia bukan seorang bocah, ia seekor rajawali. Guru dari semua penjelajah. Menghadapi badai ia tak lari, ia malah membuka dada dan merentangkan sayapnya. Dalam hening membumbung tinggi setia pada cakrawala, Sang Kekasih.

Sang, di keluasan yang tak ternamai itu rajawali tak mungkin tanpa langit biru dan langit biru memerlukan sukma sang burung penjelajah, agar ia tak menjelma jadi semesta hampa.

(Sumber : sastra-indonesia.com)

0 komentar

Write Down Your Responses